PURWOKERTO.SUARA.COM, BANJARNEGARA- Saat bertamu ke rumah seorang warga di dataran tinggi Dieng membuat saya kaget. Bukannya diterima di ruang tamu depan, tamu malah dipersilakan ke ruang dapur dekat perapian.
Sebagaimana dapur rumah di desa, di situ ada tungku tradisional yang menyala. Ada beberapa kursi kecil berbahan kayu di depan tungku. Tamu dipersilakan duduk di situ. Kami sama menghadap tungku yang menyala.
Terasa, hawa dingin yang tadinya menyergap berangsur sirna. Panas api membuat udara di sekitar menghangat. Di ruang dapur yang menghangat, obrolan mencair.
Dari situ saya baru paham, ini adalah tradisi masyarakat pegunungan. Bagi mereka, tidak aneh menerima tamu di ruang belakang. Alasannya masuk akal. Hawa di pegunungan amat dingin.
Warga butuh penghangat ruangan. Ruang paling hangat di rumah adalah dapur atau di dekat tungku yang dinyalakan dengan bahan bakar kayu. Tak mesti tungku untuk memasak. Jika tidak ada makanan yang dimasak, air pun bisa dipanaskan asal tungku tidak menyala sia-sia.
Waktu warga pegunungan di rumah lebih banyak dihabiskan di dapur yang hangat. Saat menjamu tamu, kopi atau teh hangat biasanya turut disuguhkan. Ditambah makanan ringan jika ada. Tak jarang tamu ditawari makan besar.
Jadi jangan kaget, jika anda bertamu ke Dieng, anda akan diarahkan pemilik rumah untuk berbincang di ruang belakang. Ruang belakang, karena sekaligus tempat bercengkerama, biasanya juga dilengkapi dengan kursi dan meja layaknya ruang tamu.