SUARA SEMARANG – Tragedi Kanjuruhan tak hanya meninggalkan duka, namun juga kekecewaan, kekesalan dan rasa geram bagi banyak pihak.
Salah satunya yang ramai di media sosial adalah ungkapan kekesalan dari Abdurrahim Arsyad. Ia mengungkapkan kekesalannya tersebut melalui akun instagramnya pada Senin (3/10/2022).
Komika ini mengaku sudah menahan diri untuk tidak berkomentar, mulai dari saat ia mengetahui kejadian tersebut melalui istri, maupun keluarganya di Malang yang sempat menonton di Kanjuruhan.
“Saya tahan itu karena saya takut jangan sampai apa-apa yang keluar dari mulut saya hanya makian, karena memang saya marah sekali. Tapi sekarang saya sudah tidak tahan lagi,”katanya.
Ia mengungkapkan, bermunculan kalimat-kalimat ‘bukan saatnya kita menyalahkan, saatnya saling menguatkan’. Sayangnya, kata dia, kalimat-kalimat seperti ini keluar dari mulut-mulut orang yang suka menyalahkan suporter.
“Bagaimana mungkin kita menyalahkan individu-individu kecil, yang kita ini tahu mereka semua ini diatur dalam sistem yang jelek. Iya, sistemnya jelek,”katanya.
Abdur menganalogikan, tahun 2011 ke bawah, kita masih bisa menyalahkan orang-orang yang naik di atas KRL, kemudian kena listrik, kecelakaan, jatuh meninggal dunia.
“Kita bisa menyalahkan orang-orang itu, tapi apakah itu bisa membuat orang-orang berhenti naik ke atap KRL ? Kan tidak. Ada saja yang naik kan ?,”ujarnya.
Lalu kenapa sekarang tidak ada lagi yang naik ? karena sistemnya diubah, sistemnya itu dibuat bagus dan ternyata individu-individu yang sama ini ternyata bisa diatur. Bisa diatur kalau sistemnya bagus.
Baca Juga: NasDem Usung Anies Baswedan di Pilpres 2024, Niluh Djelantik Mundur
Sayangnya, lanjut Abdur, sepakbola kita tidak begitu. Ia menerangkan, jika manusia itu ketika sudah suka sesuatu dan fanatik, kemudian itu membawa massa yang banyak.
Makin banyak massanya, maka makin besar potensi putaran uangnya. Dan ketika potensi putaran uang itu banyak, sayangnya yang mengatur itu bukan orang-orang pintar, dan dari dulu begitu.
“Itu titik masalahnya. Boleh saja kita menyalahkan individu-individu, tapi, titik masalahnya bukan itu. Titik masalahnya itu, kita selama ini diatur sama orang-orang bodoh,”katanya.
Menurutnya, orang-orang tersebut tidak paham, tidak mau mendengar, sekeras apapun pihak-pihak lain berbicara, memberikan usul dan lain sebagainya, karena para penonton maupun suporter tidak lagi dilihat sebagai manusia.
“Kita itu tidak dilihat lagi sebagai manusia, tidak dilihat sebagai Abdur, Ari, Mamat atau Panji. Nama-nama kita itu hilang di mata mereka, kita ini adalah sumber uang. Kita ini, nama kita ini sudah diganti dengan 50 ribu rupiah per tiket itu. Kita itu dihitung sebagai perolehan tiket, bukan lagi nyawa A, nyawa B,”ujarnya.
Selama orang-orang ini, lanjut Abdur, masih mengatur kita di situ, maka kita hanya akan dibawa dari satu kedukaan ke kedukaan yang lain. “Dan itu sedih,”tutupnya.