- Sebanyak 480 siswa sekolah dasar mengikuti MilkLife Festival SenengMinton 2026 di GOR Djarum Magelang, Kamis (24/9), untuk menumbuhkan minat bulu tangkis dini.
- Aliando Fahrein Sirait dari SDN Kemirirejo 1 Magelang berhasil meraih juara pertama dengan catatan waktu tercepat 00:54.37 detik.
- Rangkaian festival pencarian bakat bulu tangkis tersebut dijadwalkan akan berlanjut ke Kota Solo pada 1 Oktober mendatang.
Suara.com - Upaya menggali potensi bulu tangkis sejak usia dini kembali dilakukan melalui MilkLife Festival SenengMinton 2026.
Sebanyak 480 siswa sekolah dasar kelas 1 hingga 3 memadati GOR Djarum Magelang, Kamis (24/9), untuk mengikuti berbagai tantangan fisik dan permainan.
Ajang olahraga dengan konsep fun games ini diinisiasi Bakti Olahraga Djarum Foundation bersama MilkLife untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bulu tangkis sejak usia dini.
Dukungan juga diberikan Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI Jawa Tengah. Festival ini memadukan aktivitas fisik dengan edukasi olahraga bagi para peserta.
Bangun Ekosistem Bulu Tangkis Sejak Dini
Magelang menjadi kota kedua penyelenggaraan MilkLife Festival SenengMinton 2026 setelah sebelumnya digelar di Purwokerto pada April lalu.
Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menilai konsep fun games menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ekosistem bulu tangkis dari tingkat dasar.
"Kami ingin memastikan ekosistem bulutangkis Indonesia berjalan dengan baik," ujar Yoppy menekankan pentingnya menjaga rantai regenerasi atlet.
"Karena itu, kami ingin terlebih dahulu menghadirkan pengalaman yang menyenangkan agar siswa dapat mencintai dan berminat mendalami olahraga bulutangkis," lanjutnya.
Ia meyakini ketika minat anak-anak terhadap bulu tangkis sudah terbangun, proses pembinaan menuju level dunia dapat berjalan lebih optimal.
PBSI Jateng Apresiasi Pencarian Bakat
Ketua Umum Pengprov PBSI Jateng, Basri Yusuf, turut mengapresiasi penyelenggaraan MilkLife Festival SenengMinton sebagai bagian dari upaya menemukan potensi atlet sejak dini.
"Melalui MilkLife Festival SenengMinton potensi dan bakat calon atlet bulutangkis dapat teridentifikasi sejak dini dan diarahkan ke klub untuk mendapatkan pembinaan yang terstruktur," kata Basri.
Meskipun belum melibatkan pertandingan bulu tangkis secara langsung, rangkaian permainan dalam festival ini dinilai dapat mengukur fondasi fisik dan pemahaman teknik dasar peserta.
Setiap tantangan, seperti Pyramid Shuttlecock, Shuttle Run, hingga Zig Zag Run, dirancang untuk melatih kemampuan motorik dan kelincahan anak-anak.
Para pemenang ditentukan berdasarkan catatan waktu tercepat yang diraih peserta dalam menyelesaikan seluruh tantangan.
Aliando Balas Kegagalan dengan Gelar Juara
Festival ini juga melahirkan cerita dari Aliando Fahrein Sirait, siswa kelas 3 SDN Kemirirejo 1 Magelang.
Setelah menjadi runner-up pada edisi sebelumnya, Aliando kembali mengikuti festival dan mencatatkan waktu tercepat, yakni 00:54.37 detik, untuk menjadi juara pertama.
"Pas kelas 2 kemarin, aku juara 2. Tapi aku latihan terus sepulang sekolah dengan guru olahraga untuk persiapan ikut SenengMinton ini," ungkap Aliando.
Keinginan menjadi atlet profesional juga mendorong Aliando bergabung dengan klub PB Jaya Agung sejak dua bulan lalu.
Sang ibu, Della Oktaviana Pratiwi, mengaku terharu melihat perkembangan mental putra sulungnya meskipun memiliki sedikit kekurangan pada fisiknya.
"Kami bangga karena bukan hanya tekad bermain bulutangkis yang berkembang, tetapi mental dan semangat juangnya untuk terus berusaha menjadi yang terbaik," ucap Della.
Festival Berlanjut ke Sejumlah Kota
Tingkat partisipasi festival di Magelang juga menunjukkan tren positif. Dalam dua tahun terakhir, kegiatan tersebut melibatkan 960 siswa.
Mohamad Taufik, guru olahraga SD IT Ihsanul Fikri, menyebut kegiatan tersebut turut meningkatkan ketertarikan muridnya untuk mendalami bulu tangkis melalui ekstrakurikuler sekolah.
Setelah digelar di Magelang, rangkaian festival dijadwalkan menyambangi Kota Solo pada 1 Oktober mendatang.
Rute pencarian bakat kemudian berlanjut ke Kota Kudus pada pertengahan Oktober sebelum ditutup di Kota Semarang pada akhir Oktober 2026.