Oleh : Dwiyoso Nugroho
Ungkapan “Pukul dulu baru berpikir” mungkin tepat untuk Salman, ayah 4 orang anak yang berusia 36 tahun ini. Ungkapan yang tersebut menggambarkan sikap seseorang yang lebih memprioritaskan tindakan dibanding pertimbangan yang matang. Seringkali kita memang terjebak pada perencanaan dan pertimbangan resiko yang panjang dan berbelit sehingga akhirnya tidak tindakan apapun yang kita lakukan sebab takut gagal, resiko tinggi dan lain-lain.
Hal tersebut tidak berlaku untuk Salman, pria yang sehari-hari bekerja sebagai penjaga malam di SMAN 1 Cijeruk ini. Selama pandemic Covid – 19 di tahun 2020 lalu, ia mendapatkan tugas tambahan dari Wakil Kepala Sekolah Bid. Sarana dan Prasarana saat itu, Bapak Sutanandika, untuk mengurus maggot di sekolah. Tugas ini mendorongnya untuk belajar sendiri tentang bagaimana budidaya maggot. “Kalau malam hari nggak ada pekerjaan, jadi saya belajar sendiri lewat youtube” katanya. Maggot memang sedang trend saat itu dan banyak dibudidayakan sebagai salah satu solusi pengurai dari sampah organik. Dari “projek” maggot di sekolah itulah Salman kemudian tertarik dan mencoba untuk membudidayakan maggot di rumahnya sendiri. Dengan bermodal telur maggot sebanyak 30 gram yang dibelinya secara online dengan harga Rp. 30.000,-, Salman kini telah memiliki lebih dari 10 kg maggot.
![Peternakan Ayam yang Tidak Menimbulkan Bau [suara.com]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2022/11/08/1-salman-maggot5.jpeg)
Akan tetapi, budidaya maggot ternyata belum menghasilkan “cuan” buat Salman. Ia mengatakan belum tahu mau menjual maggotnya kemana. Padahal setiap hari ia bisa memanen maggotnya lebih dari 5 kg. Maka, Salman kemudian berinisiatif untuk menjadikan maggotnya sebagai pakan ternak. Ayam adalah pilihannya. Memang di sekitar tempat tinggalnya di kampung Warung Kupa RT 01 RW 01 Desa Warung Menteng Kecamatan Cijeruk Kabupaten Bogor, terdapat beberapa peternak ayam. Ayam kampung kemudian dipilih sebagai hewan yang akan ternakannya. Dengan bermodalkan Rp. 700.000,- Salman membeli 1 box ayam kampung, kurang lebih 100 ekor. Ia kembali belajar bagaimana membudidayakan ayam kampung dengan berusaha memanfaatkan maggot sebagai pakan pendamping selain dedak yang harus dibelinya. Oleh karena itu saat ditanya tentang profesinya, Salman lebih suka disebut sebagai peternak ayam dibanding peternak maggot. “Saya peternak ayam, yang pakannya maggot” sahutnya.
Setelah kurang dari 2 tahun membudidayakan maggot dan ayam kampung di rumahnya sendiri, Salman hanya memanfaatkan pekarang depan rumahnya dan rumah orang tuanya, kini Salman bisa menjual ayam 40 ekor setiap minggu, dengan omzet minimal Rp. 1.000.000,-. Omzet Rp. 1.000.000,-/minggu itu masih dipotong biaya pembelian pakan sebesar Rp. 700.000,-/minggu, maka upah yang bisa ia terima dari aktivitasnya beternak maggot dan ayam kampung hanya Rp. 300.000/minggu. Tidak besar memang. Hampir 70 % omzetnya dihabiskan untuk membeli pakan. Harga pakan yang tinggi memang menjadi salah satu persoalan dari semua peternak ayam maupun ikan. Untungnya Salman masih memiliki pakan pendamping untuk ternak ayamnya, yakni maggot. Saat ditanya apakah ia mampu meningkatkan produksi maggot untuk memangkas biaya pakan ternaknya, Salman mengatakan bahwa ternak ayamnya masih tetap memerlukan pakan dedak. Maggot hanya dapat dijadikan pakan pendamping. Maksimal 30 % pakan maggot. Tapi itu sudah cukup baik, jika tidak ada maggot, bisa dipastikan Salman tidak akan dapat apa-apa dari ternak ayamnya, semua hasil dari penjualan ayam akan habis untuk beli pakan. “Saya pernah coba bereksperimen” katanya. Ia memisahkan 5 ekor ayam yang ia beri pakan 100 % maggot. Hasilnya kurang bagus, tubuh ayam kurus, hanya bulunya lebih lebat. Sepertinya perlu nutrisi yang lengkap, nabati dan hewani, untuk memaksimalkan pertumbuhan ayamnya. “Kalau dipaksakan ya, maksimal 50 % lah pakan maggotnya” tambahnya. Satu hal lagi yang sangat menarik dari usaha ternak maggot dan ayam kampung yang dilakukan Salman adalah ternak maggot dan ayam kampungnya itu sama sekali tidak menimbulkan bau. Padahal kandangnya berjejer di depan rumahnya. “kotoran ayamnya langsung jatuh ke kandang maggot dan langsung dimakan sama maggotnya” katanya menjelaskan saat ditanya mengapa tidak ada bau.
![Kandang Indukan lalat BSF ( Black Soldier Flies) [suara.com]](https://media.suara.com/suara-partners/sukabumi/thumbs/1200x675/2022/11/08/1-salman-maggot4.jpeg)
Meski usaha yang telah dilakukan Salman masih dalam skala kecil, budidaya maggot baru 10 kg dengan panenan 5 kg per hari dan ayam kampung yang ia miliki baru 300 ekor dengan panenan 40 ekor per minggu. Bahkan jika tidak ada pekerjaan lain, selain menjadi penjaga malam di SMAN 1 Cijeruk Kabupaten Bogor, istrinya juga membuka warung kecil disamping rumah, maka hasil dari ternak maggot dan ayam tentunya tidak akan mampu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Akan tetapi, upaya yang telah dilakukan Salman perlu diapresiasi dan tentunya didukung oleh berbagai pihak agar dapat berkembang terus sehingga bisa menginspirasi banyak orang dan dapat dijadikan sebagai alternatif usaha di tengah kelangkaan lapangan pekerjaan sekarang ini. Di samping itu, hal yang menarik dari apa yang dilakukan Salman adalah bahwa para tetangganya punya inisiatif sendiri untuk mengantarkan sampah dapur (organic) ke rumahnya sebagai pakan maggot. Maka, jika ini ditindak lanjuti, aktivitas ini dapat menjadi solusi masalah sampah di wilayahnya. Sampah yang telah dipilah, organik dan anorganik, akan lebih mudah dikelola, dibanding sampah yang bercampur organic dan anorganik.
Saat ditanya apakah ia menyesal telah membudidayakan maggot, Salman mengatakan bahwa aktivitasnya beternak maggot dan ayam kampung adalah tercebur yang membawa nikmat. “Sudah terlanjur terjun dan keluar modal, jadi ya diteruskan saja. Tapi ya hasilnya lumayan” jelasnya. Lebih jauh, Salman berharap dapat mengembangkan usahanya ini agar dapat menambah penghasilan dan memenuhi kebutuhan keluarganya. “Kendala yang saya hadapi adalah kandang” imbuhnya, “lahan masih ada dibelakang”. Ia berharap ada yang mau membantu memberikan modal untuk membangun kandang bagi ternak ayamnya. Selain itu untuk meningkatkan produksi maggot Salman mengatakan bahwa ia memerlukan mesin pencacah sampah organic. Sebab sampah-sampah organic, seperti sayuran atau sampah dapur perlu dicacah sebelum diberikan kepada maggot sebagai pakan. “maggot nggak punya gigi, jadi sampah sayuran harus dicacah dulu, mesinnya itu saya nggak punya” katanya.

Baca Juga: Krisna Bramenta dan Teuku Riky Resmi Gabung Radit FC Pontianak