Latar belakang pemberontakan PETA karena adanya tindakan diskriminatif dari para prajurit Jepang kepada anggota PETA.
Sehingga, pasukan PETA marah karena sudah membuat banyak rakyat Indonesia yang menderita.
Pemberontakan PETA kepada militer Jepang ini ditandai dengan adanya tembakan ke arah Hotel Sakura, di mana tempat tinggal para pemimpin Jepang di Blitar, Jawa Timur.
Selain itu, markas Kempetai juga ikut ditembak dengan senapan. Aksi lainnya, seorang Chudancho PETA merobek poster bertuliskan 'Indonesia Akan Merdeka', dan mengganti dengan tulisan berbunyi 'Indonesia Sudah Merdeka'.
Sayangnya, pemberontakan PETA pada saat itu tidak berjalan dengan baik sesuai rencana. Supriyadi tidak berhasil menggerakan satuan lain untuk melakukan pemberontakan.
Alhasil, beberapa kesatuan PETA lain kembali kepada kesatuan masing-masing, setelah seruan Jepang yang memerintahkan PETA untuk mundur.
Pasukan PETA yang kembali justru ditahan, ditangkap, dan disiksa oleh polisi Jepang. Pasukan PETA berkurang setengah untuk melakukan pemberontakan.
Pasukan yang setia memberontak membuat pertahanan di Distrik Pare dan lereng Gunung Kawi.(*)
Baca Juga: Ayu Aulia Sebut Berhubungan Seks Dengan Pacar Pakai Kondom Enggak Enak, Padahal Risikonya Berbahaya