sumedang

Heboh Fenomena Tornado Api di Bromo, Ternyata Ini Penyebabnya Menurut Pakar BMKG

Suara Sumedang Suara.Com
Selasa, 12 September 2023 | 07:37 WIB
Heboh Fenomena Tornado Api di Bromo, Ternyata Ini Penyebabnya Menurut Pakar BMKG
Tornado api di Bromo (instagram)

SUARA SUMEDANG-Fenomena  api yang tersapu angin kencang hingga membentuk “tornado api” muncul di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Blok Savana atau Bukit Teletubbies di Gunung Bromo.

Bagaimana fenomena "tornado api" terwujud ?
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut "tornado api" yang muncul di Blok Savana Bukit Teletubbies di Gunung Bromo merupakan fenomena "dust devil".

Fenomena ini mirip dengan setan debu, kata Teguh Tri Susanto, Koordinator  Data dan Informasi Tingkat I BMKG  Juanda.

Dust devil itu angin puting beliung yang kecil tapi kuat, kata Teguh. Fenomena ini terjadi ketika udara kering, sangat hangat, dan tidak stabil di permukaan tanah dengan cepat naik melalui udara  dingin di atasnya.

Udara kering tersebut kemudian membentuk aliran berupa pusaran yang membawa debu, serpihan atau serpihan, termasuk api.

“Namun yang dominan adalah api, hal ini terjadi karena udara dipanaskan oleh api,” jelasnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya setan dust devil, yaitu panas matahari  yang cukup kuat di permukaan tanah, tutupan awan yang sangat sedikit,  banyak debu dan pasir di permukaan tanah, serta kelembapan yang rendah dan tanah yang kering.

“Fenomena ini sering terjadi di lapangan yang sedikit hambatannya, karena udara hangat menyebabkan munculnya pusat tekanan rendah yang menyebabkan terbentuknya vortisitas udara dari udara sekitar yang dingin,” jelasnya.

Namun dust devil ini berbeda dengan tornado. Fenomena ini bukan disebabkan oleh awan kumulus, melainkan kecepatannya lebih rendah dan tidak terlalu merusak.

Baca Juga: Deal! Josep Gombau Gantikan Aji Santoso, Persebaya Surabaya Bakal Ikuti Gaya Tika Taka Ala Barcelona?

"Bukan karena awan cumulonimbus tapi karena pemanasan lokal sehingga kecepatan angin tidak terlalu tinggi. Dampaknya tidak merusak. Prosesnya tidak memakan banyak waktu, kurang dari satu menit," pungkas Teguh.(*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI