Mereka menjadi produsen 3 sektor garapan yang menjadi andalan, yaitu fashion, literasi dan rekaman.
"Untuk menjalani kehidupan sehari - hari, kami tidak hanya mengandalkannya dari manggung. Tapi kami juga membuat putaran roda ekonomi sendiri dengan memproduksi baju metal, seni grafis dan studio rekaman. Karena untuk menghidupi kehidupan sehari - hari tidak cukup dari pendapatan manggung saja, malahan honor yang kami dapat selalu saja tekor karena habis oleh sewa alat, transportasi dan jasa kru," ungkap Papap.
Perkembangan musik bawah tanah yang dilakukan komunitas Ujungberung Rebel ini semakin hari semakin berkembang dengan banyaknya event - event yang digelar di kota Bandung.
Sehingga sejumlah band baru bermunculan di setiap sudut kota Bandung, namun menurut Papap band tua tidak bakalan merasa tersaingi dengan banyaknya band bermunculan dari penjuru kota dengan genre musik yang berbeda-beda.
"Bermunculannya band dari penjuru kota Bandung tak berarti kami mempunyai banyak saingan. Malahan kami harus semakin bagus dalam bermusik dan band tua harus lebih bagus sama band muda. Tapi dari segi pergaulan, terkadang kami juga merasa terasingkan ketika berkumpul dalam satu tempat di acara event metal. Ya mungkin juga banyak yang tidak mengenal kami, karena kami kurang eksis dalam mengikuti arus anak muda sekarang," tambah Papap.
Meskipun komunitas underground berada dikawasan Ujungberung yang kental dengan seni tradisional, namun generasi muda Ujungberung Rebel ini tidak melupakan budaya kesenian tradisional.
Diantaranya seperti bela diri Benjang, Angklung dan lainnya tetap disukai mereka. Meskipun budaya kesenian dari luar sangat dominan dalam komunitas ini.