Mahathir Mohamad Desak Malaysia Sensor Internet

Liberty Jemadu

Senin, 04 Agustus 2014 | 10:58 WIB
Mahathir Mohamad Desak Malaysia Sensor Internet
Mantan Pendana Menteri Malaysia Mahathir Mohammad melambaikan tangan kepada wartawan setelah bertemu Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar Jakarta, Senin (14/4). [suara.com/Adrian Mahakam]

Suara.com - Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, mendesak pemerintah negerinya untuk menyensor internet demi menjaga "moralitas publik".

Mahathir, perdana menteri paling lama dalam sejarah Malaysia (1981-2003), merupakan figur yang masih berpengaruh dalam perpolitikan Malaysia.

"Internet telah memainkan peran penting dalam melemahkan moralitas publik," kata politikus berusia 89 tahun itu dalam blog pribadinya, Jumat (1/8/2014).

"Saya tidak peduli betapa sakralnya kebebasan tetapi menurut saya saatnya berbagai pemerintah, setidaknya pemerintah Malaysia untuk menyensor internet," tekan Mahathir, salah satu tokoh senior UMNO, partai berkuasa di Malaysia.

Desakan Mahatir itu berbeda dengan ucapannya pada 1990an, saat masih menjabat sebagai perdana menteri, yang mengatakan bahwa pemerintah tidak akan menyensor internet.

"Saat itu saya belum tahu kekuatan Internet dan saya berjanji bahwa kami (saat itu sebagai perdana menteri Malaysia) tidak akan menyensornya. Tetapi saat ini saya telah mengubah pendirian saya," tegas dia.

Mahathir, yang juga pengguna media sosial, mengklaim bahwa Internet sebenarnya sudah sejak lama disensor.

"Saya sendiri sudah menjadi korban sensor internet. Ketika saya menulis blog tentang Yahudi, tanpa banyak penjelasan artikel saya tidak bisa terhubung dengan Facebook," tulis Mahathir.

Adapun anjuran Mahathir itu dikecam oleh kelompok oposisi di Malaysia. Tony Pua, anggota parlemen dari partai Democratic Action Party, mengatakan ada kekhawatiran sensor internet akan dimanfaatkan oleh pemerintah untuk mengekang kebebasan berpendapat di Internet.

"Kekhawatiran kami dalam kasus Malaysia adalah pembatasan terhadap internet akan digunakan oleh pemerintah untuk meningkatkan kendalinya pada kekuasaan dan untuk menekan suara oposisi," ujar Pua.

Oposisi Malaysia kerap bersuara lantang mengeritik korupsi, pelanggaran hak asasi manusia, dan kejahatan lain yang diduga dilakukan oleh pemerintah.

Di Malaysia sendiri diperkirakan 66 persen dari 30 juta warganya sudah bisa mengakses internet. (Phys.org)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Internet Dinilai Bikin Orang Jadi Bodoh

Internet Dinilai Bikin Orang Jadi Bodoh

Tekno | Senin, 14 Juli 2014 | 05:12 WIB

Jokowi Mengaku Cenderung Anti soal Pemblokiran Situs

Jokowi Mengaku Cenderung Anti soal Pemblokiran Situs

Tekno | Jum'at, 27 Juni 2014 | 05:26 WIB

Di Depan Ratusan Netizen, Jokowi: Industri Kreatif Harus Maju

Di Depan Ratusan Netizen, Jokowi: Industri Kreatif Harus Maju

Bisnis | Jum'at, 27 Juni 2014 | 03:30 WIB

Netizen Berharap Suara Mereka Didengar Pemerintah

Netizen Berharap Suara Mereka Didengar Pemerintah

Tekno | Jum'at, 27 Juni 2014 | 00:41 WIB

PM Malaysia Rombak Kabinet

PM Malaysia Rombak Kabinet

News | Rabu, 25 Juni 2014 | 12:58 WIB

Terkini

Gelar RUPSLB, Direksi Bursa Masih Rahasiakan Pembahasan Demutualisasi

Gelar RUPSLB, Direksi Bursa Masih Rahasiakan Pembahasan Demutualisasi

Bisnis | Rabu, 23 September 2026 | 08:05 WIB

Kebakaran di Kebayoran Lama: 18 Rumah Ludes, 150 Jiwa Terdampak, Kerugian Rp1,2 Miliar!

Kebakaran di Kebayoran Lama: 18 Rumah Ludes, 150 Jiwa Terdampak, Kerugian Rp1,2 Miliar!

News | Rabu, 23 September 2026 | 08:04 WIB

Alasan Kuota Haji 50:50 Terungkap di Persidangan, Saksi: Ini Tepat Sesuai Praktik di Saudi!

Alasan Kuota Haji 50:50 Terungkap di Persidangan, Saksi: Ini Tepat Sesuai Praktik di Saudi!

News | Rabu, 23 September 2026 | 07:52 WIB

Mimpi Pensiun Dini Gen Z: Antara Ambisi FIRE dan Realita Gaji UMR

Mimpi Pensiun Dini Gen Z: Antara Ambisi FIRE dan Realita Gaji UMR

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 07:45 WIB

Penerima Bansos Terlibat Judol dan Pinjol di Pekanbaru Langsung Dicoret

Penerima Bansos Terlibat Judol dan Pinjol di Pekanbaru Langsung Dicoret

Riau | Rabu, 23 September 2026 | 07:36 WIB

Di Depan PBB, Donald Trump Tuduh Iran Biang Kerok Perang Terus Meledak: Mereka Tolak Perdamaian

Di Depan PBB, Donald Trump Tuduh Iran Biang Kerok Perang Terus Meledak: Mereka Tolak Perdamaian

News | Rabu, 23 September 2026 | 07:34 WIB

4 Efek Samping Pakai Air Mawar dan Cara Mengatasinya

4 Efek Samping Pakai Air Mawar dan Cara Mengatasinya

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 07:27 WIB

Pangeran Harry Garap Dokumenter Putri Diana, Peringati 30 Tahun Kepergian Sang Ibu

Pangeran Harry Garap Dokumenter Putri Diana, Peringati 30 Tahun Kepergian Sang Ibu

Entertainment | Rabu, 23 September 2026 | 07:25 WIB

Milk & Mocha: Ketika Momen Kecil Ternyata Tak Selalu Membekas

Milk & Mocha: Ketika Momen Kecil Ternyata Tak Selalu Membekas

Your Say | Rabu, 23 September 2026 | 07:25 WIB

Cara Membedakan Keringat Biasa vs Sunscreen Luntur Saat Cuaca Panas Terik, Cek Tandanya

Cara Membedakan Keringat Biasa vs Sunscreen Luntur Saat Cuaca Panas Terik, Cek Tandanya

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 07:20 WIB

×