KLHK: Populasi Komodo Terus Meningkat

Liberty Jemadu

Rabu, 28 Oktober 2020 | 20:34 WIB
KLHK: Populasi Komodo Terus Meningkat
Seekor komodo sedang berteduh di bawah sebuah rumah di Pulau Komodo (Suara.com/Liberty Jemadu).

Suara.com - Populasi komodo cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan pada 2019 jumlahnya tercatat mencapai 3.022 individu demikian dikatakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

KLHK, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (28/10/2020) menjelaskan jumlah total biawak komodo yang pada 2018 sebanyak 2.897 individu, bertambah 125 menjadi 3.022 individu pada 2019.

Populasi biawak komodo terkonsentrasi di Pulau Komodo dan Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur. Jumlah komodo yang ada di Pulau Nusa Kode, Gili Motang, dan Pulau Padar berturut-turut hanya ada tujuh, 69, dan 91 individu.

"Populasi biawak komodo di Lembah Loh Buaya adalah lima persen dari populasi di Pulau Rinca atau sekitar 66 ekor. Bahkan populasi biawak komodo di Lembah Loh Buaya selama 17 tahun terakhir relatif stabil dengan kecenderungan sedikit meningkat di lima tahun terakhir," kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Wiratno.

Loh Buaya di Pulau Rinca yang masih berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan merupakan salah satu lokasi kunjungan wisata. Area tersebut dilengkapi dengan pondok wisata, kafetaria, selter, dan jalan setapak, dan antara lain menjadi tempat pengamatan satwa liar dan penjelajahan.

Wiratno mengemukakan bahwa jika upaya perlindungan dijalankan dengan meminimalkan kontak satwa dengan manusia, maka aktivitas wisata terbukti tidak membahayakan populasi biawak komodo di areal Lembah Loh Buaya yang luasnya 500 hektare atau sekitar 2,5 persen dari luas Pulau Rinca yang mencapai 20.000 hektare.

Taman Nasional Komodo (TNK), yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer (1977) dan Warisan Dunia (1991) oleh UNESCO, luasnya 173.300 hektare dan meliputi 33,76 persen daratan dan 66,24 persen perairan.

Dari luasan tersebut, ada 824 hektare atau 0,4 persen yang ditetapkan sebagai Zona Pemanfaatan Wisata Daratan dan 1.584 hektare (0,95 persen) yang ditetapkan sebagai Zona Pemanfaatan Wisata Bahari.

"Jadi pengembangan wisata alam sangat dibatasi, hanya pada Zona Pemanfaatan tersebut. Ini prinsip kehati-hatian yang ditetapkan sejak dari perencanaan ruang kelola di TNK tersebut," kata Wiratno.

baca juga

Pemerintah membangun sarana dan prasarana pendukung kegiatan wisata di kawasan tersebut. Penataan sarana dan prasarana pendukung pariwisata di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca telah mencapai 30 persen dan ditargetkan selesai Juni 2021.

Kegiatan pembangunan dan penataan sarana dan prasarana pendukung pariwisata itu menjadi sorotan setelah peredaran foto yang menunjukkan komodo sedang berhadapan dengan truk pengangkut material.

Direktur Eksekutif Walhi NTT Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi mengemukakan bahwa pemerintah sebaiknya lebih fokus pada upaya konservasi ekosistem dan komodo ketimbang pembangunan infrastruktur untuk keperluan pariwisata yang bisa menyebabkan kerusakan ekosistem. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Viral Retakan Bawah Laut di Pulau Komodo Usai Gempa NTT, Begini Kebenarannya

Viral Retakan Bawah Laut di Pulau Komodo Usai Gempa NTT, Begini Kebenarannya

Video | Jum'at, 21 Agustus 2026 | 16:45 WIB

Heboh Video Viral Keretakan di Bawah Laut Pulau Komodo Efek Gempa NTT, Benarkah?

Heboh Video Viral Keretakan di Bawah Laut Pulau Komodo Efek Gempa NTT, Benarkah?

Entertainment | Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:27 WIB

Tiga Destinasi Wisata Flores Masih Ditutup Usai Gempa, Termasuk Waerebo dan Kelimutu

Tiga Destinasi Wisata Flores Masih Ditutup Usai Gempa, Termasuk Waerebo dan Kelimutu

News | Selasa, 18 Agustus 2026 | 14:42 WIB

5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak

5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 17:32 WIB

Profil Jessica Mila Disorot Usai Pulau Padar Viral, Begini Perjalanan Karier Sang Aktris

Profil Jessica Mila Disorot Usai Pulau Padar Viral, Begini Perjalanan Karier Sang Aktris

Entertainment | Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:07 WIB

Komodo Luxury dan Wajah Baru Phinisi: Bagaimana Warisan Bugis Menjadi Industri Charter Premium

Komodo Luxury dan Wajah Baru Phinisi: Bagaimana Warisan Bugis Menjadi Industri Charter Premium

Lifestyle | Sabtu, 22 Maret 2025 | 11:20 WIB

Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?

Over Tourism Mengancam, Seberapa Efektif Pembatasan di Taman Nasional Komodo?

Your Say | Senin, 20 April 2026 | 10:58 WIB

Naga Purba ke Jepang: Diplomasi Hijau dan Misi Penyelamatan Komodo

Naga Purba ke Jepang: Diplomasi Hijau dan Misi Penyelamatan Komodo

Your Say | Kamis, 09 April 2026 | 20:25 WIB

Populasi Komodo Kian Terancam, Pemerintah Didesak Buat Aturan Baru Perlindungan Habitat

Populasi Komodo Kian Terancam, Pemerintah Didesak Buat Aturan Baru Perlindungan Habitat

News | Selasa, 10 Maret 2026 | 18:40 WIB

Keluarga Fernando Martin Peluk Tim SAR Usai Temukan Jenazah Pelatih Valencia

Keluarga Fernando Martin Peluk Tim SAR Usai Temukan Jenazah Pelatih Valencia

Video | Senin, 05 Januari 2026 | 18:39 WIB

Terkini

Mengenal Degree Inflation: Mengapa Gelar S1 Makin Sulit Cari Kerja?

Mengenal Degree Inflation: Mengapa Gelar S1 Makin Sulit Cari Kerja?

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:30 WIB

7 Calon Rektor UNM Menjalani Pemeriksaan Kesehatan

7 Calon Rektor UNM Menjalani Pemeriksaan Kesehatan

Sulsel | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:26 WIB

Mendagri Dorong Penguatan Sistem IT untuk Percepat Digitalisasi Perlindungan Sosial

Mendagri Dorong Penguatan Sistem IT untuk Percepat Digitalisasi Perlindungan Sosial

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:26 WIB

3 Shio Ini Diprediksi Paling Ciong di Tahun 2027, Karier dan Keuangan Terancam!

3 Shio Ini Diprediksi Paling Ciong di Tahun 2027, Karier dan Keuangan Terancam!

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:25 WIB

IHSG Anjlok, Dasco Minta BEI Lakukan Perbaikan dan Akomodir Laporan MSCI

IHSG Anjlok, Dasco Minta BEI Lakukan Perbaikan dan Akomodir Laporan MSCI

Bisnis | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:21 WIB

Mesin Turbo Bermasalah, Bus Transjakarta Koridor 2 Mengepulkan Asap Pekat di Senen

Mesin Turbo Bermasalah, Bus Transjakarta Koridor 2 Mengepulkan Asap Pekat di Senen

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:18 WIB

Tenyata DSSA, BREN, CUAN Bermain Curang di Pasar Modal, Ini Modusnya

Tenyata DSSA, BREN, CUAN Bermain Curang di Pasar Modal, Ini Modusnya

Bisnis | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:17 WIB

IHSG Anjlok Dihantam Sentimen MSCI, DPR: Alarm Serius bagi Pemerintah

IHSG Anjlok Dihantam Sentimen MSCI, DPR: Alarm Serius bagi Pemerintah

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:16 WIB

Sisi Gelap Ekonomi Sirkular: Saat Semangat Daur Ulang Warga Kandas karena Pasar

Sisi Gelap Ekonomi Sirkular: Saat Semangat Daur Ulang Warga Kandas karena Pasar

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:15 WIB

7 Cara Melonggarkan Sepatu yang Sempit di Bagian Jari Kaki Tanpa Merusak Bahan

7 Cara Melonggarkan Sepatu yang Sempit di Bagian Jari Kaki Tanpa Merusak Bahan

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 15:15 WIB

×