alexametrics

Dugaan BRI Life Diretas, DPR Minta RUU PDP Segera Diselesaikan

Liberty Jemadu | Novian Ardiansyah
Dugaan BRI Life Diretas, DPR Minta RUU PDP Segera Diselesaikan
Data milik 2 juta nasabah BRI Life dijual di forum online. Para peretas diduga telah masuk ke sistem perusahaan asuransi itu melalui komputer sejumlah pegawai. [Dok BRI Life]

Pembahasan RUU PDP oleh pemerintah dan DPR tersendat pada soal lembaga pengawas.

Suara.com - Anggota Komisi I DPR Christina Aryani mengatakan Rancangan Undang-Undang tentang Perlindungan Data Pribadi mendesak untuk diselesaikan. Desakan itu tentu saja seiring kejadian kebocoran data pribadi, terbaru informasi menyoal kebocoran data nasabah BRI Life.

Christina mengatakan kejadian kebocoran data bukan satu dua kali terjadi, melainkan frekuensinya semakin sering ditemukan. Kejadian itu kata dia tidak menguntungkan posisi Indonesia sebagai negara berdaulat termasuk dari perspektif kedaulatan data.

"Kejadian ini semakin memperlihatkan posisi lemah Indonesia dalam konteks perlindungan data warganya," ujarnya kepada wartawan, Rabu (28/7/2021).

Christina berujar keamanan data tentunya juga terkait dengan komitmen kuat negara menyangkut Cyber Security. Aspek itu pula yang dilihat Christina saat ini belum mendapat cukup perhatian maupun komitmen serius. Imbasnya, kejadian peretasan data kerap terulang.

Baca Juga: Kominfo Dampingi BRI Life Terkait Pengamanan Data

"Sebagai anggota Panja RUU PDP saya menilai kejadian ini menegaskan urgensi mendesaknya RUU Perlindungan Data Pribadi yang saat ini sedang deadlock untuk segera diselesaikan dengan mencari titik temu yang pas antara keinginan pemerintah dan kemauan masyarakat yang diwakili DPR," kata Christina.

Ia mengatakan menyoal lembaga pengawas implementasi perlindungan data harus segera dicarikan solusinya.

"Melihat maraknya kasus kebocoran data, tampaknya argumen DPR agar lembaga perlindungan data independen di bawah Presiden sangatlah relevan. Kemenkominfo sudah memiliki banyak pekerjaan rumah yang tentunya butuh perhatian lebih untuk mengimplementasikannya," kata Christina.

Sementara itu terkait kebocoran data nasabah, Christina mendorong internal BRI Life segera mengambil langkah-langkah pengamanan. Terutama untuk memastikan terlindunginya nasabah dari kejahatan turunan sebagai dampak dari dugaan kebocoraan data.

Sebelumnya diwartakan bahwa data pribadi milik sekitar 2 juta nasabah BRI Life diduga telah dijual di internet. Kabar ini pertama kali diungkap oleh perusahaan keamanan siber Israel, Hudson Rock pada Selasa (27/7/2021).

Baca Juga: Dugaan Peretasan BRI Life, Data Pribadi Nasabah yang Bocor Sangat Lengkap Termasuk Polis

Hudson Rock mengungkapkan bahwa sistem BRI Life diduga telah diretas lewat komputer beberapa pegawai. Dari komputer-komputer itu, para peretas berhasil merampas data-data pribadi nasabah yang di antaranya foto KTP, NPWP, nomor rekening, hasil cek kesehatan, nomor kartu keluarga, dll.

Komentar