- JAXA meluncurkan misi MMX menggunakan roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima pada pertengahan Oktober 2026.
- Wahana MMX dan rover IDEFIX akan mendarat di Phobos untuk mengambil sepuluh gram sampel batuan.
- Sampel material murni permukaan Phobos tersebut ditargetkan tiba dengan selamat di Bumi pada tahun 2031.
Suara.com - Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA) resmi meluncurkan misi luar angkasa ambisius menuju dua satelit alami milik planet Mars, yakni Phobos dan Deimos.
Misi bertajuk Martian Moons eXploration (MMX) ini meluncur menggunakan roket H3 dari Pusat Antariksa Tanegashima pada pertengahan Oktober 2026.
RT.com memaparkan bahwa jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, Jepang berpeluang menjadi negara pertama dalam sejarah peradaban manusia yang berhasil mendaratkan wahana di permukaan Phobos sekaligus membawa pulang sampel batuan ke Bumi.
Keberhasilan misi MMX diyakini bakal menjadi pencapaian luar biasa dalam dunia astronomi global. Pasalnya, menjelajahi Bulan milik Mars bukanlah perkara mudah dan belum pernah ada satu pun negara yang berhasil melakukannya.
Pada tahun 1988, Uni Soviet pernah mengutus dua wahana antariksa, Phobos 1 dan Phobos 2, namun keduanya mengalami kegagalan teknis serta putus kontak sebelum sempat mendaratkan modul jelajah di permukaan.
Kegagalan serupa juga dialami oleh Rusia pada tahun 2011 melalui misi Fobos-Grunt yang gagal lepas dari orbit Bumi akibat kerusakan sistem pendorong.
Rencana Perjalanan Panjang dan Peluncuran Rover IDEFIX
![Planet Mars. [Wikiimages/Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/02/09/94567-planet-mars.jpg)
Perjalanan wahana MMX menuju tetangga Bumi ini membutuhkan waktu tempuh yang cukup panjang. Wahana milik JAXA tersebut diperkirakan baru akan sampai di orbit Mars pada Agustus atau September 2027 mendatang.
Setelah tiba dan melakukan pengamatan awal, MMX dijadwalkan bakal menerjunkan sebuah rover canggih bernama IDEFIX pada akhir 2028 atau awal 2029.
Rover robotik seberat 25 kilogram yang dikembangkan atas kerja sama Prancis dan Jerman tersebut akan dijatuhkan ke permukaan Phobos untuk melakukan eksplorasi langsung selama kurang lebih 100 hari.
Data-data permukaan yang dikumpulkan oleh IDEFIX akan menjadi pemandu utama bagi wahana utama MMX sebelum mencoba melakukan dua kali proses pendaratan kritis untuk mengumpulkan material tanah dan batuan.
Setelah menyelesaikan pendaratan di Phobos, wahana MMX dijadwalkan melakukan penerbangan melintas (flyby) di dekat Deimos, satelit Mars yang berukuran lebih kecil, pada tahun 2030.
Selesai menjelajahi kedua satelit tersebut, modul kapsul pembawa sampel akan melepaskan diri dan memulai perjalanan pulang menuju Bumi.
JAXA menargetkan setidaknya 10 gram sampel material murni dari permukaan Phobos dapat tiba dengan selamat di Bumi pada tahun 2031.
Tantangan Fisika Satelit Semu dan Teka-teki Asal-usul Phobos
![Bulan Mars, Phobos. [NASA]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/02/09/35186-bulan-mars-phobos.jpg)
Proses pendaratan di Phobos menghadirkan tantangan teknis serta perhitungan fisika antariksa yang amat rumit bagi para insinyur JAXA.
Phobos hanya memiliki diameter terpanjang sekitar 27 kilometer dengan gaya gravitasi yang tergolong sangat lemah.
Kondisi gravitasi yang minim ini membuat wahana antariksa tidak bisa mengorbit Phobos secara konvensional seperti halnya satelit mengitari planet.
Untuk mengatasi kendala gravitasi tersebut, para ilmuwan merancang strategi orbit khusus.
Wahana MMX akan menyelaraskan lintasan orbitnya mengelilingi Mars agar sejajar dengan pergerakan Phobos, sehingga wahana ini seolah-olah menjadi "satelit semu" (quasi-satellite) dari Phobos.
Posisi unik ini memungkinkan MMX melakukan manuver pendekatan secara perlahan dan aman ke permukaan.
Di samping pencapaian teknologi antariksa, misi MMX membawa misi ilmiah besar untuk menjawab teka-teki asal-usul terbentuknya Phobos dan Deimos.
Hingga saat ini, kalangan ilmuwan masih terbelah menjadi dua teori utama. Sebagian peneliti meyakini Phobos terbentuk dari puing-puing lontaran material akibat hantaman asteroid raksasa di permukaan Mars pada masa purba.
Sementara itu, pandangan lain menduga bahwa Phobos sejatinya adalah asteroid liar dari sabuk utama yang terjebak oleh gravitasi Mars.
Sampel batuan murni yang dibawa pulang oleh Jepang pada 2031 mendatang diharapkan mampu memberikan jawaban pasti atas misteri tata surya tersebut.