SuaraBandungBarat.id – Umat Muslim tengah menanti datangnya malam agung, Lailatul Qadr, yang hadir pada 10 hari terakhir Ramadhan.
Selain beribadah, salah satu bentuk mengagungkan Lailatul Qadr yakni berpenampilan dengan prima.
Oleh sebab itu, para ulama menekankan untuk mandi di antara waktu maghrib dan isya.
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, di salah satu malam pada 10 malam terakhir Ramadhan, beliau mandi, memakai parfum, kemudian mengenakan perhiasan dan pakaian yang indah.
Tsabit Al-Bunani memakai baju terbaiknya, memakai parfum, selanjutnya ia mengharumkan masjid menggunakan bakhoor atau pengharum ruangan sejenis dupa yang berasal dari tumbuhan, bebungaan, hutan, dan minyak parfum yang dibakar di atas arang.
Tamim Ad-Dari sampai membeli baju seharga 1000 dirham atau ±Rp100.000.000.
Dikenakannya pakaian itu pada malam ia memiliki firasat bahwa malam tersebut merupakan Lailatul Qadr.
Tidak ada maksud dalam hatinya untuk memamerkan pakaiannya kepada sesama manusia.
Ini adalah bukti betapa para Sahabat Nabi SAW begitu mengagungkan malam seribu bulan.
Baca Juga: Lindungi Anak dari Pedofilia dengan Edukasi Seksual Sejak Dini
Menurut para ulama, tidak pantas bagi seseorang yang hendak menghadap dan berbicara secara private dengan para raja kecuali ia tampil dalam keadaan sebaik-baiknya dan memperhatikan apa yang ada di dalam batinnya.
Terlebih lagi ketika ia hendak bertemu dengan Allah SWT yang merupakan raja dari para raja.
Allah mengetahui bukan hanya yang nyata dari diri hamba-Nya, namun juga mengetahui apa yang berada di dalam batin seseorang.
Para ulama berpesan, kalau ruangan ditekankan untuk diwangikan, maka hati pun meski demikian.
”Kalau ingin dapat Lailatul Qadr, bersihkan hati kita,” tandas Ustadz Muhammad Nurul Dzikri, dilansir dari kanal YouTube Muhammad Nurul Dzikri pada Minggu (16/04/2023).(*)
Sumber: YouTube Muhammad Nurul Dzikri