Ia pun pergi ke kamar kakek dan nenek, ia heran, kamar itu berantakan. Tiba-tiba dalam sebuah lemari, bercucuran darah segar, ketika lemari itu dibuka....
BYARRR! potongan-potongan kepala, tangan dan kaki serta tubuh manusia berjatuhan ke lantai. Marsinah teriak kemudian pingsan.
Sekarang, Marsinah ada di rumah sakit jiwa, meski akalnya sudah tidak seperti dulu lagi akibat pengalaman traumatik tersebut.
Akan tetapi hati dan harapannya masih menuntut tanggung jawab pada mereka yang membunuh dan melakukan hal-hal zalim di kerusuhan 98 lalu. (*)