SuaraBandungBarat - Media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah tayangan video konferensi pers pasangan yang melakukan pra-wedding di savana Bromo.
Diketahui sebelumnya, jika muncul dugaan kuat karena ulah pasangan yang melakukan sesi poto pra-nikah tersebut yang membuat savana Bromo terbakar.
Dalam cuplikan video yang beredar di media sosial, seorang laki-laki yang diketahui sebagai orang yang melakukan pra-wedding tersebut berniat melaporkan petugas keamanan Bromo.
Hal ini dikarenakan, karena petugas keamanan dianggap lalai karena tidak memeriksa dan melarang rombongannya untuk menggunakan flare, yang diduga menjadi sebab utama kebakaran Bromo.
Beragam reaksi terhadap ungkapan sang pria tersebut pun menuai banyak polemik di masyarakat. Banyak masyarakat yang merasa argumen yang diberikannya absurd.
Salah satunya, datang dari Bintang Emon, publik figure tanah air yang menyuruhnya untuk berpikir secara rasional.
"Jadi gini masa dan tim yang bikin Bromo jadi anget," buka Bintang Emon dalam akun instagram pribadinya.
Ia mempertanyakan common sanse dari orang-orang yang melakukan pra-wedding di Bromo yang akhirnya membuatnya terbakar. Menurut Bintang Emon, larangan tersebut sudah menjadi logika dasar.
"Tumbuhan super kering jangan sampai ada percikan api, itu sama aja dengan tangan yang basah jangan sampai pegang colokan listrik, itu common sanse," ucap Bintang Emon.
Baca Juga: Biodata Eva Manurung: Ibu Virgoun Yakin Anaknya Dikejar Banyak Perempuan
Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Bintang Emon, di dalam fiksi hukum sebagaimana kami kutip dalam berbagai sumber.
Dinyatakan jika ada asas hukum yang menyatakan presumptio iures de iure atau semua orang dianggap mengetahui hukum.
Penjelasannya ketika aturan sudah dibuat, maka di dalam fiksi hukum semua orang dianggap telah mengetahuinya.
Dan muncul kembali satu ungkapan, ignorantia jurist non excusat atau ketidaktahuan terhadap hukum tidak bisa dimaafkan.
Demikianlah informasi tentang asas hukum yang harus dipahami bersama dalam melihat fenomena pra-wedding yang membuat Bromo "hangat". (*)