Ada dua jenis kloset yang umum digunakan, yaitu toilet jongkok dan toilet duduk.
Jenis kloset yang digunakan tidak hanya memengaruhi posisi buang air besar (BAB), tetapi juga berpengaruh pada kesehatan dan kelancaran BAB Anda.
Untuk memahami posisi tubuh yang baik saat BAB, penting untuk memahami bagaimana proses pengeluaran kotoran dari tubuh terjadi.
Tubuh memiliki otot puborectalis yang bekerja dengan menekan usus besar ketika kita berdiri, dan otot ini akan mengendur saat kita jongkok.
Ketika duduk atau berdiri, otot puborectalis akan menarik rektum ke depan sehingga membentuk sudut yang tajam untuk mencegah keluarnya kotoran secara tidak sengaja. Ketika BAB dalam posisi duduk, kondisi ini memerlukan usaha yang lebih keras agar kotoran dapat dikeluarkan.
Sebaliknya, ketika tubuh jongkok, rektum akan terbuka dan usus akan lurus, memungkinkan kotoran keluar dengan mudah saat BAB.
Menurut Alodokter.com, berdasarkan penelitian, BAB dengan menggunakan toilet duduk membutuhkan waktu yang lebih lama dan memerlukan tenaga yang lebih besar dibandingkan dengan toilet jongkok.
Namun, mengejan terlalu keras saat BAB dan duduk terlalu lama di toilet duduk dapat meningkatkan risiko terkena penyakit, seperti wasir dan sembelit.
Selain itu, penggunaan toilet duduk dapat meningkatkan risiko infeksi penyakit diare, flu, dan infeksi kulit. Hal ini disebabkan karena kulit akan langsung bersentuhan dengan permukaan dudukan kloset yang dapat menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri E. coli dan Shigella, serta virus hepatitis A dan norovirus.
Baca Juga: Eks Jurnalis Nezar Patria Dilantik Jokowi Jadi Wamenkominfo, Ini Profilnya
Posisi jongkok berfungsi untuk mengoptimalkan ruang pembuangan tinja di anus dan membuat otot anus dan usus besar lebih relaks. Dengan begitu, BAB menjadi lebih mudah dan kotoran dapat dikeluarkan secara maksimal.
Sementara itu, dalam posisi duduk, otot saluran cerna akan menekan rektum dan menyempitkan saluran dubur, yang dapat mengganggu kelancaran BAB.