Beberapa situs makam Belanda di Kota Samarinda rupanya menjadi jejak adanya keberadaan virus flu Spanyol.
Makam Belanda ini terletak di Jalan Arjuna, Kelurahan Jawa, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda.
Rupanya makam ini berhubungan dengan wabah kasus flu Spanyol yang menyerang dunia pada tahun 1918.
Seorang peneliti Belanda bernama Johan Eisenberger rupanya pernah mencatat kejadian aneh yang terjadi di Kalimantan.
Kejadian itu ditulis Johan Eisenberger dalam bukunya yang berjudul Kroniek van Zuider en Oosterafdeeling van Borneo atau Catatan Peristiwa di Wilayah Selatan dan Timur Borneo.
Kala itu, pada tahun 1918, hampir seluruh wilayah terjangkit penularan wabah kolera dan Spaansche Griep, termasuk di Kalimantan.
Diketahui wabah ini masuk ke Kalimantan pada gelombang ke 2 awal November 1918.
Saat itu, Residen yang berkedudukan di Banjarmasin telah mengirimkan telegram darurat yang menyatakan bahwa daerahnya terserang wabah inuenza.
Dalam telegram tersebut, Residen Borneo Timur dan Selatan melaporkan sebanyak 1.424 orang di daerahnya telah tercatat menjadi korban penyakit inuenza.
Baca Juga: Shin Tae Yong Tak Akan Berhenti Tambah Pemain Naturalisasi di Timnas Indonesia
Wabah ini masuk ke Kalimantan melalui lalu lintas pelabuhan yang ada di Banjarmasin dan Samarinda.
Penyakit flu Spanyol yang dibawa pekerja kapal menulari pada pekerja pelabuhan lalu virus menyebar ke wilayah Balikpapan dan Samarinda termasuk daerah Sangasanga dan menyerang penduduk lokal.
Tetapi, saat virus tersebut menyerang, beberapa penduduk lokal justru menganggapnya penyakit santet atau penyakit akibat ilmu supranatural.
Kendati demikian, ada juga yang menganggapnya sebagai penyakit lumrah sehingga banyak menelan korban jiwa.
Korban tersebut dikubur di Samarinda dan dari data yang diperoleh pada tahun 2015 ditemukan 8 (delapan) nisan berciri peninggalan kolonia di lokasi Pemakaman Keristen Kinibalu.
Bentuk makam menyerupai peti berpenutup dilengkapi dengan alas berwarna abu-abu kehitaman.