Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.625.000
Beli Rp2.490.000
IHSG 5.896,134
LQ45 583,722
Srikehati 289,560
JII 342,327
USD/IDR 17.905

NTT Alokasikan Rp16,5 Miliar untuk Pengembangan Ternak Sapi

Liberty Jemadu

Minggu, 31 Mei 2015 | 00:09 WIB
NTT Alokasikan Rp16,5 Miliar untuk Pengembangan Ternak Sapi
Ilustrasi peternakan sapi [suara.com/Rengga Satria]

Suara.com - Pemerintah Provinsi NTT mengalokasikan dana sebesar Rp16,5 miliar dalam APBD tahun 2015 untuk mendukung upaya percepatan pengembangan ternak sapi di wilayah kepulauan itu.

"Dana sebesar itu dialokasikan untuk beberapa program yang harus dikerjakan dalam mendukung tekad pemerintah menjadikan provinsi kepulauan ini sebagai salah satu pemasok kebutuhan daging nasional dan provinsi ternak," kata Kepala Dinas Peternakan NTT Dany Suhadi di Kupang, Sabtu.

Ia mengatakan ada sekitar lima program atau kegiatan yang menjadi tanggung jawab Dinas Peternakan dalam upaya mendukung percepatan pengembangan ternak sapi di NTT.

Program yang dimaksud antara lain pembangunan sarana dan prasarana pembibitan ternak di instalasi Lili sebesar Rp4,2 miliar untuk rehabilitasi kandang, pembangunan pedok, pembangunan gudang pakan dan pembangunan kantor instalasi.

Kemudian, pengadaan dan distribusi vaksin serta pakan ternak sebessr Rp3,3 miliar untuk pengadaan vaksin dan obat-obatan ternak, pengadaan pakan dedak mineral untuk sapi, pengadaan pakan konsentrat, formula pengawetan pakan dan pengadaan pakan tambahan untuk sapi berupa tanaman lamtoro teramba.

"Selanjutnya, program peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi antara lain dialokasikan untuk pengadaan ternak sapi bakal jenis sapi bali sebanyak 330 ekor dan jenis sapi ongole sebanyak 220 ekor serta beberapa kegiatan penunjang lainnya," katanya.

Dia menuturkan program lain yang dilaksanakan tahun 2015 adalah pencegahan dan penanggulangan penyakit ternak dengan alokasi dana sebesar Rp2,2 miliar antara lain untuk pengadaan obat-obatan dan vaksin, pelayanan vaksin, pelatihan bedah di rumah sakit hewan di Jakarta serta kegiatan lainnya.

Program terakhir adalah dukungan manajemen dan pengembangan peternakan dengan alokasi anggaran sebesar Rp1,9 miliar untuk survei dan diagnosa penyakit hewan, pembinaan laboratorium hewan, sosialisasi pelayanan kesehatan hewan, pengawasan perdagangan ternak antarpulau dan penyuluhan penerapan teknologi tepat guna.

"Selain alokasi dana dari APBD, pemerintah pusat melalui APBN tahun 2015 juga mengalokasikan dana sebesar Rp56 miliar untuk mendukung upaya pengembangan ternak sapi di NTT," tambahnya.

Di tempat terpisah pengamat pertanian agribisnis Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Leta Rafael Levis mengatakan pengembangan ternak di NTT menggunakan anggaran dari rakyat itu harus pula dipikirkan program dan upaya pencegahan dan mengatasi kasus pencurian ternak di daerah-daerah potensial ternak.

Seperti peternak di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bahkan Kota Kupang yang resah karena adanya pencurian ternak yang marak dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Provinsi NTT pun diminta segera bersikap atas kasus-kasus tersebut karena jika pencurian ternak, khususnya ternak sapi terus terjadi, masyarakat takut untuk mengembangkannya.

"Jangan sampai pemerintah tinggal diam karena dampak dari pencurian sapi itu sangat besar. Masyarakat akan was-was untuk pelihara sapi. Baik pembibitan dan penggemukan karena kasus pencurian sapi sudah sering terjadi," katanya.

Bahkan diduga kuat pencurian itu melibatkan para penggembala seperti yang terjadi di wilayah Sumba. Meski dengan berbagai alasan, namun pencurian sapi tentu menunjukkan bahwa program provinsi ternak belum menyentuh ke masyarakat.

"Banyangkan, orang pencuri sapi hari ini, satu minggu kemudian baru pemiliknya tahu. Artinya ada komplotan orang yang tahu persis gerak-gerik ternak dan pemiliknya. Lalu di mana pihak keamanan dan pemerintah? Ini alasan bahwa masyarakat belum siap dengan provinsi ternak," sambungnya.

Masih menurut dia, Pemprov NTT harus memiliki solusi yang nyata untuk mencegah atau mengantisipasi terjadinya pencurian sapi sehingga tidak meluas dan mengancam populasi ternak di daerah-daerah potensial.

"Kan kasus-kasus pencurian sapi itu sering terjadi di daerah dengan populasi ternaknya tinggi. Mestinya ada perhatian khusus ke sana supaya jangan juga membebankan keamanan ternak ke masyarakat. Kan pemerintah yang punya program itu, jadi harus punya solusi juga untuk masalah seperti itu," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

NTT Gempa 7,1 SR, Gubernur Pulang Cepat ke Kupang

NTT Gempa 7,1 SR, Gubernur Pulang Cepat ke Kupang

News | Jum'at, 27 Februari 2015 | 22:34 WIB

Gempa 7,1 SR, Gubernur NTT Minta BPBD Siaga

Gempa 7,1 SR, Gubernur NTT Minta BPBD Siaga

News | Jum'at, 27 Februari 2015 | 22:17 WIB

Gempa Flores 7,1 SR Guncang Bali Selama 2 Menit

Gempa Flores 7,1 SR Guncang Bali Selama 2 Menit

News | Jum'at, 27 Februari 2015 | 21:50 WIB

Terkini

Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong

Susah Cari Beras? Ini Penyebab Rak Retail Modern Mulai Kosong

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 19:34 WIB

Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI

Dirut Bulog Hadiri Pengukuhan Profesor Kehormatan Anggota VII BPK RI

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:57 WIB

Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus

Buruh Kena Pajak Dobel, Said Iqbal Usul 'Potongan' Pencairan JHT Dihapus

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 16:36 WIB

Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco

Heboh Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris, Ini Daftar Pemegang Saham Krakatau Posco

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 15:51 WIB

Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris

Daftar 24 Wamen Rangkap Jabatan di BUMN, Viral Sorotan 'Orang Dekat' Jadi Komisaris

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 15:25 WIB

Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?

Kabar 60.000 Calon Mahasiswa Mundur, Imbas Biaya Kuliah Mahal?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 14:55 WIB

Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?

Harga Beras Makin Mahal, Program SPHP Pemerintah Tidak Efektif?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 14:07 WIB

Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris

Krakatau Posco Milik Siapa, Apakah BUMN? Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 13:51 WIB

Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam

Harga Emas Antam Terus Melemah dalam Sepekan, Buyback Anjlok Lebih Dalam

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 13:39 WIB

Harga Beras Naik saat Cadangan Pemerintah Cetak Rekor Terbesar, Kok Bisa?

Harga Beras Naik saat Cadangan Pemerintah Cetak Rekor Terbesar, Kok Bisa?

Bisnis | Minggu, 28 Juni 2026 | 12:51 WIB

×