Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.449,830
LQ45 631,032
Srikehati 307,374
JII 384,118
USD/IDR 17.851

Tolak Rancangan Perpres Swasembada Gula, Petani Tebu: Akal-akalan untuk Impor

Iwan Supriyatna

Kamis, 29 September 2022 | 18:51 WIB
Tolak Rancangan Perpres Swasembada Gula, Petani Tebu: Akal-akalan untuk Impor
Ilustrasi gula pasir. (Shutterstock)

Suara.com - Rancangan Perpres tentang percepatan swasembada gula yang akan dicanangkan pemerintah menuai polemik. Hal ini lantaran Perpres tersebut tersebut berpotensi menjadi ajang monopoli bagi BUMN.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) Soemitro Samadikoen pun secara tegas menolak rencana Perpres tersebut. Menurutnya, pencanangan swasembada gula di 2025 hanya omong kosong dan tak masuk akal.

Salah satu poin utama dalam Perpres tersebut, pemerintah akan memberi fasilitasi PTPN III untuk melakukan impor gula.

Menurut Soemitro, swasembada gula sebenarnya sudah berkali-kali dicanangkan sejak masa Presiden SBY. Dimulai tahun 2008, kemudian berlanjut 2013. Target swasembada gula selalu meleset. Di era pemerintahan Jokowi, target swasembada gula juga selalu meleset saat ditargetkan di tahun 2019 dan di tahun 2022.

“Dan ini ada pencanangan swasembada lagi di tahun 2025. Itu omong kosong dan hanya akalakalan. Aneh, swasembada, tapi ujung-ujungnya impor,” kata soemitro, Kamis (29/9/2022).

Soemitro menilai program swasembada tidak pernah tercapai karena pemerintah tidak pernah serius menjalankan program swasembada.

Dalam ketentuannya, semua perusaahan (BUMN atau Swasta) yang membangun pabrik gula baru (produksi gula konsumsi) diwajibkan untuk menanam tebu. Sebagai kompensasi mereka mendapat kuota impor raw sugar (gula mentah) selama 5 tahun sebagai bahan baku.

“Semenjak SBY sampai Jokowi juga terus begitu. Dan anehnya, selama ini tidak pernah ada sanksi tegas bagi yang mendapat izin impor tapi tidak mau menanam tebu,”tandasnya.

Tak Perlu Perpres

baca juga

Lebih lanjut, Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) M. Nur Khabsyin mengatakan bahwa program swasembada gula yang dicanangkan pemerintah sebenarnya dihambat sendiri oleh kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada petani. Sebagai contoh adalah kebijakan Harga Pokok Pembelian (HPP) gula petani yang tak pernah naik antara tahun 2016 sampai 2022.

“Sejak beberapa tahun terakhir, HPP tak pernah beranjak dari angka Rp 9.100 per kg. Baru awal giling tahun ini HPP dinaikkan menjadi Rp 11.500 per kg. Meski naik, sebenarnya HPP tersebut juga belum bisa menutup biaya pokok produksi (BPP) yang sudah melebih Rp 12.000 per kg,” ujarnya.

Selain itu, ada pula kebijakan HET (harga eceran tertinggi) gula sebesar Rp 12.500/kg sejak tahun 2016 - 2022 sangat membelenggu petani walaupun awal musim giling tahun ini naik menjadi Rp 13.500. Seharusnya, pemerintah tak perlu mengatur harga jual gula karena gula bukan milik pemerintah sebagaimana halnya BBM. Pemerintah cukup menetapkan HPP gula saja.

“Selain itu ada pula kebijakan pencabutan subsidi pupuk yang menyebabkan pupuk langka dan harganya naik 300 persen-500 persen, ini membuat BPP semakin meningkat,”ujarnya.

Termasuk juga yang menghambat swasembada gula adalah setiap kali memasuki musim giling digerojok impor gula konsumsi dan bocornya gula rafinasi di pasar sehingga harga gula petani jatuh. Hal tersebut dinilai menyebabkan petani merugi dan tidak semangat untuk memperluas tanaman tebu.

Menurut Khabsyin, pemerintah sebenarnya tak perlu terbitkan Perpres percepatan swasembada. Karena program sebelumnya sudah bagus dan sudah ada roadmapnya. Yang perlu dilakukan sebenarnya hanya menagih janji bagi perusahaan yang mendapat izin impor untuk melaksanakan kewajibannya menanam tebu.

“Saya menilai Perpres ini alat memburu rente saja dan hanya menguntungkan PTPN III yang akan memonopoli kuota impor. Janji untuk perluasan lahan 700 ribu hektar hanya omong kosong. PTPN III punya lahan dari mana, mimpi kali? Padahal selama ini kinerjanya buruk banyak pabrik gula miliknya tutup akibat kekurangan bahan baku,” ujar Khabsyin.

Karena lahan seluas 153 ribu hektar yang diklaim milik PTPN III yang ada saat ini, sebagian besar diantaranya adalah milik petani. Yang murni miliki PTPN III hanya sekitar 50 ribu hektar.

Khabsyin juga mewanti-wanti jika Perpres tersebut disahkan dan keran impor gula kembali dibuka, maka yang pasti terkena dampaknya adalah petani. Sebab, setiap impor dilakukan, harga gula petani akan jatuh.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Termasuk Mager, Kebiasaan Ini Bisa Picu Jantung Koroner pada Usia Muda

Termasuk Mager, Kebiasaan Ini Bisa Picu Jantung Koroner pada Usia Muda

Bogor | Kamis, 29 September 2022 | 09:49 WIB

Ibunya Tak Sengaja Campurkan Gula ke Toples Garam, Anak Ini Pusing Minta Carikan Solusi Saat Disuruh Pisahkan Keduanya

Ibunya Tak Sengaja Campurkan Gula ke Toples Garam, Anak Ini Pusing Minta Carikan Solusi Saat Disuruh Pisahkan Keduanya

Lifestyle | Kamis, 29 September 2022 | 09:10 WIB

Waspada! Ini Penyakit yang Mengintai di Balik Konsumsi Gula Berlebih

Waspada! Ini Penyakit yang Mengintai di Balik Konsumsi Gula Berlebih

Sukabumi | Kamis, 29 September 2022 | 08:30 WIB

Terkini

4 Rekomendasi Sunscreen Mengandung Tranexamic Acid untuk Memudarkan Flek Membandel sesuai Review

4 Rekomendasi Sunscreen Mengandung Tranexamic Acid untuk Memudarkan Flek Membandel sesuai Review

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Pennywise Kembali! It: Welcome to Derry Lanjut Season 2 dengan Cerita Lebih Kelam

Pennywise Kembali! It: Welcome to Derry Lanjut Season 2 dengan Cerita Lebih Kelam

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:20 WIB

Seluruh PPPK Guru Dialihkan ke Pemerintah Pusat, Siap-Siap Jadi PNS?

Seluruh PPPK Guru Dialihkan ke Pemerintah Pusat, Siap-Siap Jadi PNS?

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:19 WIB

CFX10 Mulai Menghijau, Bitcoin Naik Tipis

CFX10 Mulai Menghijau, Bitcoin Naik Tipis

Bisnis | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:15 WIB

Kevin Diks Ditanya soal Timnas Indonesia Gagal di Piala AFF, Jawabannya Singkat tapi Penuh Ancaman

Kevin Diks Ditanya soal Timnas Indonesia Gagal di Piala AFF, Jawabannya Singkat tapi Penuh Ancaman

Bola | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:15 WIB

4 Rice Cooker yang Tidak Bikin Nasi Kering, Tetap Pulen hingga Berjam-jam

4 Rice Cooker yang Tidak Bikin Nasi Kering, Tetap Pulen hingga Berjam-jam

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:15 WIB

Rumus Luas dan Keliling Trapesium, Lengkap dengan Contoh Soal

Rumus Luas dan Keliling Trapesium, Lengkap dengan Contoh Soal

Tekno | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:15 WIB

Rumus Invers Matriks Ordo 2x2 dan 3x3 Lengkap dengan Syarat Mutlaknya

Rumus Invers Matriks Ordo 2x2 dan 3x3 Lengkap dengan Syarat Mutlaknya

Tekno | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:14 WIB

5 Santri di Malang Jadi Korban Kekerasan Seksual Pengajarnya Sendiri

5 Santri di Malang Jadi Korban Kekerasan Seksual Pengajarnya Sendiri

Malang | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:13 WIB

Teknologi Masif, Bagaimana Radio Jadi Wadah Aspirasi dan Apresiasi HUT RI?

Teknologi Masif, Bagaimana Radio Jadi Wadah Aspirasi dan Apresiasi HUT RI?

Your Say | Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:10 WIB

×