Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 08 April 2026 | 12:16 WIB
Sejarah Kelam Rp17.100 per Dolar AS: Bagaimana Konflik Timur Tengah Menguras Kas APBN Kita?
Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Desain Gemini AI.
baca 10 detik
  • Rupiah capai rekor terlemah Rp17.100 per dolar AS akibat tensi geopolitik Timur Tengah.
  • Menkeu Purbaya tegaskan pelemahan kurs masih sesuai skenario makro dan serahkan ke BI.
  • BI prioritaskan stabilitas lewat intervensi pasar spot dan DNDF guna redam volatilitas.

Suara.com - Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Di tengah guncangan ini, pasar menanti sejauh mana sinkronisasi antara kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan kebijakan fiskal pemerintah.

Mengapa Ini Terjadi?

Pelemahan tajam ini bukan semata-mata fenomena domestik, melainkan hasil dari "badai sempurna" di kancah global. Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu ketidakpastian yang sangat tinggi, mendorong investor menarik modal dari pasar negara berkembang (emerging markets) menuju aset aman (safe haven) seperti dolar AS.

Selain itu lonjakan harga minyak dunia akibat konflik global menjadi pukulan telak bagi fiskal Indonesia. Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar USD70 per barel, kini menembus sekitar USD113 per barel.

Kenaikan lebih dari 60% di atas asumsi APBN memicu tekanan signifikan terhadap anggaran negara melalui pembengkakan subsidi dan kompensasi energi.

Dengan ruang fiskal yang semakin terbatas, penyesuaian harga BBM dinilai bukan opsi ideal dalam jangka pendek karena daya beli masyarakat masih lemah. Pemerintah didorong untuk melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran sebagai langkah realistis menjaga stabilitas fiskal di tengah lonjakan harga minyak global.

BI Siapkan Operasi Moneter Khusus

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa Bank Indonesia telah beralih ke mode "siaga penuh". Fokus utama saat ini bukan lagi mengejar pertumbuhan, melainkan menjaga stabilitas.

"Di tengah ketidakpastian global yang sangat tinggi, maka saat ini stabilitas menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI)," kata dia.

baca juga
Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Desain Gemini AI.
Mata uang Garuda mencatatkan sejarah kelam pada penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026) dengan menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, posisi terlemah sepanjang masa. Desain Gemini AI.

Untuk itu, pihaknya akan mengoptimalkan pemanfaatan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang dimiliki dan juga kebijakan OM untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Pada dasarnya, perang yang masih berlangsung menyebabkan kenaikan harga komoditas. Indonesia mendapatkan tekanan dari kenaikan harga minyak dunia.

Pada sisi lain, Indonesia mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga batu bara, nikel dan lainnya.

"Posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita, sehingga dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut," pungkasnya.

Purbaya Yakin APBN Kuat Hadapi Volatilitas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih pendekatan yang tenang. Ia menyatakan bahwa level Rp17.000-an masih masuk dalam skenario simulasi makro pemerintah. Dengan kata lain, APBN dianggap masih memiliki daya tahan untuk menanggung volatilitas ini.

Purbaya secara eksplisit memberikan mandat penuh kepada BI sebagai "ahlinya" dalam urusan stabilisasi mata uang. Sikap ini menunjukkan adanya kepercayaan tinggi bahwa instrumen moneter yang dimiliki BI masih cukup kuat untuk meredam kejatuhan lebih dalam.

Pada hari ini Rabu (8/4/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat tinggi. Penguatan itu didorong pelemahan dolar global usai kabar gencatan senjata Iran.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.06 WIB di pasar spot exchange, nilai tukar rupiah hari ini melesat 110 poin (0,64%) ke level Rp 16.995 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,96% ke level 98,9.

"Rupiah diperkirakan akan menguat terhadap dolar AS menyusul langkah Trump menunda penyerangan terhadap Iran untuk selama 2 minggu menyebabkan penurunan tajam pada harga minyak dan pulihnya sentimen di pasar," kata Analis Doo Financial Futures Lukman Leong.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.999

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 10:16 WIB

CELIOS Wanti-Wanti Mandatori B50 Bisa Bikin Rugi Negara

CELIOS Wanti-Wanti Mandatori B50 Bisa Bikin Rugi Negara

Bisnis | Rabu, 08 April 2026 | 07:29 WIB

Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif

Pemerintah Belanja Ekspansif Sembari Jaga Disiplin Fiskal, Ekonomi Beri Sinyal Positif

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 19:36 WIB

Terkini

Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat

Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 00:23 WIB

Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya

Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 00:13 WIB

Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan

Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan

News | Sabtu, 18 Juli 2026 | 00:00 WIB

Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri

Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri

Banten | Jum'at, 17 Juli 2026 | 23:55 WIB

Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain

Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain

Bogor | Jum'at, 17 Juli 2026 | 23:45 WIB

Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam

Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam

Jabar | Jum'at, 17 Juli 2026 | 23:04 WIB

Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU

Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 23:03 WIB

Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?

Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 22:59 WIB

Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah

Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah

News | Jum'at, 17 Juli 2026 | 22:57 WIB

Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi

Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi

Bogor | Jum'at, 17 Juli 2026 | 22:56 WIB

×