Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Produk Tembakau Alternatif Makin Dilirik, Akademisi Bicara Soal Harm Reduction

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Senin, 18 Mei 2026 | 08:28 WIB
Produk Tembakau Alternatif Makin Dilirik, Akademisi Bicara Soal Harm Reduction
Ilustrasi vape. [Suara.com/Angga Budhiyanto]
  • Pendekatan THR jadi solusi realistis turunkan risiko bagi perokok dewasa yang sulit berhenti.
  • Prof. Amaliya analogikan produk alternatif seperti sabuk pengaman untuk kurangi dampak fatal.
  • Riset BRIN: Tanpa pembakaran TAR, produk alternatif kurangi risiko kesehatan hingga 90%.

Suara.com - Perkembangan sains dan inovasi kini membuka babak baru dalam upaya penanganan masalah rokok di Indonesia. Melalui pendekatan berbasis pengurangan risiko atau Tobacco Harm Reduction (THR), produk tembakau alternatif kini menawarkan opsi yang lebih realistis bagi perokok dewasa yang ingin menurunkan risiko kesehatan, terutama bagi mereka yang kesulitan untuk berhenti secara total.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, Profesor Amaliya, menjelaskan bahwa produk seperti rokok elektronik, produk tembakau dipanaskan, dan kantung nikotin merupakan bagian dari strategi meminimalkan dampak buruk. Beliau menganalogikan inovasi ini layaknya penggunaan helm atau sabuk pengaman saat berkendara.

"Bukan menghilangkan risiko secara keseluruhan, tetapi secara nyata mengurangi potensi dampak fatal," ujar Prof. Amaliya, Minggu (17/5/2026).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa THR harus dipahami sebagai instrumen kebijakan kesehatan publik berbasis bukti. Implementasinya pun wajib dikawal ketat oleh regulasi, edukasi, dan pengawasan agar tepat sasaran bagi perokok aktif, bukan menjadi pintu masuk bagi non-perokok atau anak muda.

Pendekatan ilmiah ini diperkuat oleh hasil riset domestik. Penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertajuk “Evaluation of Laboratory Tests for E-Cigarettes in Indonesia Based on WHO's Nine Toxicants” menemukan bahwa kadar senyawa toksikan pada produk tembakau alternatif secara signifikan lebih rendah dibandingkan rokok konvensional.

Kunci utamanya terletak pada ketiadaan proses pembakaran, sehingga produk-produk alternatif ini tidak menghasilkan zat berbahaya bernama TAR.

"Karena tidak adanya proses pembakaran yang menghasilkan TAR, produk tembakau alternatif mengindikasikan potensi penurunan risiko kesehatan hingga 80-90 persen dibandingkan rokok bakar," ungkap Peneliti BRIN, Profesor Bambang Prasetya.

Melalui bukti ilmiah ini, para ahli mendorong pemerintah agar kebijakan kesehatan tidak hanya berfokus pada larangan semata, melainkan bergerak ke arah strategi yang lebih aplikatif dan berdampak nyata bagi perlindungan masyarakat luas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Setelah Baja, Industri Rokok Juga Ikut Terancam Gulung Tikar

Bisnis | Jum'at, 15 Mei 2026 | 10:23 WIB

Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara

Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:23 WIB

Bos Barong Grup: Rokok Ilegal Jangan Cuma Ditindak, Ajak Masuk Jalur Legal

Bos Barong Grup: Rokok Ilegal Jangan Cuma Ditindak, Ajak Masuk Jalur Legal

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:55 WIB

Terkini

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Harga Minyak Mentah Kembali Melambung, Ancaman Perang AS-Iran Bikin Pasar Panik!

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:25 WIB

Libur Panjang, Trafik Penumpang-Kendaraan di Merak-Bakauheni Membludak

Libur Panjang, Trafik Penumpang-Kendaraan di Merak-Bakauheni Membludak

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 08:13 WIB

OJK Sebut Ada Bank Syariah yang Buka di Tahun 2026, Ini Bocorannya

OJK Sebut Ada Bank Syariah yang Buka di Tahun 2026, Ini Bocorannya

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:57 WIB

IHSG Dibayangi Aksi Jual Asing Rp1,35 Triliun, Saham-saham di Asia Ikut Rontok

IHSG Dibayangi Aksi Jual Asing Rp1,35 Triliun, Saham-saham di Asia Ikut Rontok

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:55 WIB

Wall Street Rontok Setelah Pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping

Wall Street Rontok Setelah Pertemuan Donald Trump dengan Xi Jinping

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:48 WIB

DPR Sebut Hanya Orang Kaya yang 'Pakai Dolar', Data BPS Justru Berkata Lain

DPR Sebut Hanya Orang Kaya yang 'Pakai Dolar', Data BPS Justru Berkata Lain

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:46 WIB

IHSG Bakal Tertekan Konflik Global, Simak Rekomendasi Saham yang Cocok Hari Ini

IHSG Bakal Tertekan Konflik Global, Simak Rekomendasi Saham yang Cocok Hari Ini

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 07:17 WIB

Harga Emas Berpotensi Melemah saat Kurs Rupiah Anjlok, Ini Penyebabnya

Harga Emas Berpotensi Melemah saat Kurs Rupiah Anjlok, Ini Penyebabnya

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:40 WIB

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Mengapa Komentar Presiden soal Rupiah dan Dolar Menyesatkan sekaligus Berbahaya?

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 06:05 WIB

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Dorong Transisi Energi Global, Pertamina NRE Kaji Pengembangan Energi Terbarukan di Bangladesh

Bisnis | Minggu, 17 Mei 2026 | 20:38 WIB