Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 26 Juni 2026 | 08:52 WIB
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi
Belajar ke Inggris, Menteri LH Bidik Sampah Jadi Komoditas Bernilai Ekonomi. Foto ist.
baca 10 detik
  • Menteri LH belajar teknologi MRF Inggris untuk tutup TPA open dumping.
  • Sampah diproyeksikan menjadi komoditas bernilai lewat ekonomi sirkular.
  • Aturan EPR segera rampung, dorong industri ikut kelola sampah.

Suara.com - Pemerintah mempercepat transformasi pengelolaan sampah nasional dengan mengadopsi praktik terbaik dari luar negeri. Menteri Lingkungan Hidup (LH) Jumhur Hidayat bahkan terbang ke Inggris untuk mempelajari teknologi pengelolaan sampah modern yang dinilai mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi sekaligus mempercepat penutupan tempat pemrosesan akhir (TPA) dengan sistem open dumping.

Dalam kunjungan kerjanya ke fasilitas Material Recovery Facility (MRF) milik Biffa Waste Management, Jumhur melihat langsung sistem pemilahan sampah anorganik yang dilakukan secara otomatis, cepat, dan efisien hingga menghasilkan bahan baku berkualitas tinggi untuk industri daur ulang.

Menurutnya, fasilitas tersebut menjadi salah satu contoh terbaik yang dapat direplikasi oleh pemerintah daerah di Indonesia.

"Kesan saya melihat Biffa MRF ini adalah salah satu best practice reaktivasi dan optimalisasi MRF yang bisa menjadi inspirasi pemerintah daerah," ujar Jumhur dalam keterangannya.

Ia menjelaskan, saat ini Kementerian Lingkungan Hidup tengah melakukan pembenahan berbagai fasilitas MRF sebagai bagian dari strategi nasional menuju penutupan TPA open dumping. Optimalisasi MRF dinilai bukan hanya mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru dari hasil daur ulang.

"Ini bisa menjadi satu contoh bagaimana MRF yang optimal bisa benar-benar memberikan nilai tambah ekonomi yang cukup besar, selain tentu saja untuk menurunkan timbulan sampah," katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Jumhur mengamati bagaimana teknologi di Biffa mampu memilah berbagai jenis sampah anorganik secara presisi sehingga menghasilkan material yang siap menjadi bahan baku industri.

Namun demikian, ia menegaskan teknologi canggih saja tidak cukup. Keberhasilan sistem tersebut bergantung pada pemilahan sampah sejak dari sumbernya atau rumah tangga.

"Teknologi pemilahan jenis-jenis sampah anorganik di sini dilakukan secara cepat dan efisien, dengan output berupa bahan baku yang berkualitas," ujarnya.

baca juga

Ia menambahkan, penerapan sistem serupa di Indonesia membutuhkan dukungan seluruh ekosistem, mulai dari masyarakat, industri daur ulang sebagai offtaker, hingga produsen melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR) atau tanggung jawab produsen yang diperluas.

"Prinsip ini tentunya dapat diterapkan di Indonesia, asal diawali dengan pemilahan yang baik. Kemudian peran aktif offtaker, industri daur ulang, serta tanggung jawab produsen yang diperluas. Semua pihak harus memainkan perannya secara optimal," tegasnya.

Jumhur juga memastikan Indonesia siap menerapkan kebijakan EPR. Saat ini pemerintah sedang menyusun regulasi yang menjadi landasan penerapan kebijakan tersebut dan ditargetkan segera rampung.

"Indonesia sangat siap menerapkan EPR. Saat ini aturan sedang disusun, kita harapkan bisa selesai dalam waktu dekat," katanya.

Menurutnya, implementasi EPR akan menjadi salah satu fondasi penting dalam mempercepat transisi Indonesia dari ekonomi linier menuju ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya ekonomi.

Ia berharap penutupan TPA open dumping dapat mendorong pemilahan sampah di tingkat hulu sehingga sampah yang telah dipilah memiliki nilai jual.

"Dengan adanya penutupan open dumping, kita harapkan pemilahan sampah di hulu terjadi. Apabila pemilahan berjalan baik, tentu sampah yang terpilah ini akan menjadi komoditas," ujarnya.

Jumhur menjelaskan, sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik bisa menjadi bahan baku industri. Kondisi tersebut diyakini akan mempercepat terbentuknya ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia.

Selain mempelajari teknologi, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan Biffa Waste Management dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah modern, peningkatan kapasitas MRF, serta percepatan implementasi praktik ekonomi sirkular di berbagai daerah di Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pelaksaanaan Sensus Ekonomi 2026 di Berbagai Daerah

Pelaksaanaan Sensus Ekonomi 2026 di Berbagai Daerah

Foto | Jum'at, 26 Juni 2026 | 08:00 WIB

5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar

5 Tahun Holding UMi: Lebih Mudah, Dekat dan Berdampak untuk Nasabah PNM Mekaar

Bisnis | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:00 WIB

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka

News | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:26 WIB

Terkini

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Program 1 Polis 1 Mangrove Generali Tembus 20.000 Pohon

Foto | Jum'at, 25 September 2026 | 05:00 WIB

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

×