- 99% perusahaan RI rekrut lulusan dengan micro-credentials.
- 96% perusahaan siap beri gaji awal lebih tinggi.
- Sertifikat GenAI bisa dongkrak gaji lulusan hingga lebih dari 15%.
Suara.com - Perusahaan kini semakin memburu lulusan yang memiliki bukti keterampilan spesifik atau micro-credentials, bahkan ada pemberi kerja yang siap untuk memberi gaji lebih tinggi demi merekrut pekerja ini.
Temuan tersebut terungkap dalam Micro-Credentials Impact Report 2026 yang menunjukkan adopsi micro-credentials di Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Sebanyak 99% perusahaan di Indonesia mengaku telah merekrut sedikitnya tiga kandidat yang memiliki micro-credentials dalam satu tahun terakhir, menandakan praktik perekrutan berbasis keterampilan (skills-first hiring) semakin dominan.
Bahkan, kepemilikan micro-credentials kini bukan hanya memperbesar peluang diterima bekerja, tetapi juga membuka jalan memperoleh penghasilan yang lebih tinggi.
Laporan tersebut mencatat 96% pemberi kerja di Indonesia bersedia menawarkan gaji awal lebih besar kepada lulusan yang memiliki micro-credentials. Angka itu semakin mencolok untuk bidang teknologi mutakhir. Sebanyak 49% perusahaan bahkan siap memberikan kenaikan gaji lebih dari 15% bagi lulusan yang mengantongi micro-credentials di bidang Generative AI (GenAI).
Tak hanya soal gaji, proses perekrutan pun menjadi jauh lebih cepat. Sebanyak 85% perusahaan menilai kandidat dengan micro-credentials dapat melewati proses rekrutmen lebih singkat, atau 12 poin persentase lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Temuan tersebut menunjukkan perusahaan mulai memprioritaskan bukti kemampuan praktis dibanding sekadar latar belakang pendidikan formal.
Di sisi lain, manfaatnya juga dirasakan oleh para lulusan. Sebanyak 97% lulusan Indonesia yang memiliki micro-credentials berhasil memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya dalam waktu 12 bulan setelah lulus.
Perubahan tren ini dinilai menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia untuk semakin mendekatkan kurikulum dengan kebutuhan industri.
Prospeknya pun tidak kecil. Laporan PwC memperkirakan investasi yang tepat dalam peningkatan keterampilan (upskilling) berpotensi mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia lebih dari US$70 miliar pada 2030. Namun, peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila dunia kerja memiliki pasokan talenta yang benar-benar menguasai keterampilan yang dibutuhkan industri.
Managing Director Asia Pacific Coursera, Ashutosh Gupta, mengatakan perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara perusahaan menilai calon tenaga kerja.
"Seiring berkembangnya pemanfaatan AI di dunia kerja, kemampuan untuk menunjukkan keterampilan yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan industri menjadi semakin penting bagi para pencari kerja. Di Indonesia, micro-credentials tidak lagi sekadar menjadi nilai tambah, tetapi semakin menjadi indikator penting dari kesiapan kerja dan daya saing kandidat," ujar Gupta.
Menurutnya, kini telah terjadi keselarasan kepentingan antara mahasiswa, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Mahasiswa menginginkan sertifikasi yang diakui sebagai bagian dari pendidikan formal, perusahaan bersedia memberikan kompensasi lebih tinggi kepada pemiliknya, sementara perguruan tinggi melihatnya sebagai strategi untuk menjaga relevansi lulusan di pasar kerja.