- BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham AMMN dengan target harga Rp6.000 per saham berbasis metode penilaian SOTP.
- Pemulihan produksi tambang Batu Hijau dan operasional smelter diproyeksikan mendorong lonjakan laba bersih signifikan bagi AMMN pada 2026.
- Pertumbuhan kinerja didukung oleh peningkatan permintaan global terhadap tembaga serta komoditas emas yang memiliki prospek harga sangat kuat.
Suara.com - Emiten tambang emas, PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) masih direkomendasikan jadi saham yang layak dibeli. Hal ini seiring dengan pulihnya produksi dan mulai meningkatnya kontribusi bisnis hilir.
Mengutip risetnya, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mematok target harga saham Rp6.000 per saham.
Adapun, berdasarkan data Stokbit, hari ini saham AMMN diperdagangkan turun 40 poin atau 1,20 persen ke harga Rp3.300.
"Kami meyakini AMMN sedang memasuki siklus pertumbuhan laba yang besar pada 2026 setelah melalui tahun transisi Fase 8. Pemulihan produksi Batu Hijau dan peningkatan bisnis hilir menjadi pendorong utama kinerja perusahaan ke depan," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya yang dikutip Senin, (29/6/2026).

BRIDS menjelaskan, target harga tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 79,6 persen dibandingkan harga saham AMMN saat riset diterbitkan yang berada di level Rp3.340 per saham.
Valuasi tersebut dihitung menggunakan metode Sum of The Parts (SOTP), yang memperhitungkan kontribusi tambang Batu Hijau, smelter dan Precious Metal Refinery (PMR), hingga potensi jangka panjang proyek Elang.
BRI Danareksa Sekuritas juga menegaskan keyakinannya terhadap prospek saham AMMN dengan memberikan rekomendasi beli.
"Kami menilai saham AMMN dengan rekomendasi Buy dan target harga berbasis SOTP sebesar Rp6.000 per saham," tulis BRI Danareksa Sekuritas.
Dalam risetnya, BRI Danareksa memproyeksikan pendapatan AMMN mencapai sekitar 4 miliar dolar AS pada 2026 atau meningkat 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diperkirakan melonjak 97 persen menjadi 2,02 miliar dolar AS. Laba bersih juga diproyeksikan naik menjadi 909 juta dolar AS dari 249 juta dolar AS pada 2025.
Menurut BRIDS, lonjakan kinerja tersebut akan ditopang oleh pulihnya produksi Batu Hijau, meningkatnya penjualan produk hasil hilirisasi, serta prospek harga tembaga dan emas yang masih positif.
Pemulihan tersebut mulai terlihat pada kuartal I 2026. Produksi bijih segar meningkat menjadi 38 juta ton dibandingkan hanya sekitar 1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.
Kondisi tersebut mendorong produksi konsentrat mencapai 167,8 ribu dry metric ton atau naik 110 persen secara tahunan. Produksi tembaga meningkat 173 persen menjadi 101 juta pon, sedangkan produksi emas melonjak 321 persen menjadi 136 ribu ons.
Tak hanya mengandalkan produksi tambang, AMMN juga mulai menikmati manfaat dari hilirisasi melalui fasilitas smelter dan PMR yang telah beroperasi.
Pada kuartal I 2026, smelter menghasilkan 27,7 ribu ton katoda tembaga dan PMR memproduksi 66,2 ribu ons emas murni. BRIDS menilai transformasi dari penjualan konsentrat menuju produk logam olahan akan meningkatkan kualitas pendapatan perusahaan dalam jangka panjang.
Prospek AMMN juga didukung oleh fundamental pasar tembaga yang dinilai masih kuat. BRI Danareksa melihat permintaan tembaga akan terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik, pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI), pembangunan jaringan listrik, hingga proyek energi terbarukan.
Harga emas juga diproyeksikan tetap memiliki fondasi yang kuat berkat pembelian berkelanjutan oleh bank-bank sentral dunia, terutama Bank Sentral China (PBoC) yang tercatat telah menambah cadangan emas selama 19 bulan berturut-turut.
BRIDS juga menilai valuasi AMMN masih relatif menarik. Saham perusahaan diperdagangkan pada valuasi sekitar 6,7 kali EV/EBITDA 2026, lebih rendah dibandingkan rata-rata perusahaan tambang tembaga dan emas global yang berada di kisaran 9,1 kali EV/EBITDA.
"Kami menilai valuasi saat ini belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan kinerja AMMN pada 2026 yang didorong oleh pemulihan produksi Fase 8, peningkatan utilisasi smelter dan PMR, serta pergeseran menuju penjualan produk hasil pemurnian yang memiliki nilai tambah lebih tinggi," tulis BRIDS
Meski demikian, BRIDS mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, seperti potensi gangguan operasional smelter, keterlambatan pembangunan fasilitas pengolahan, penurunan harga tembaga dan emas, kenaikan royalti, serta perkembangan proyek Elang yang lebih lambat dari perkiraan.
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.