- Investasi hilirisasi mineral mencapai Rp206,5 triliun pada semester I 2026.
- Investasi Rp227 triliun bergeser ke luar Jawa mengikuti lokasi sumber daya.
- PNBP minerba baru Rp76 triliun hingga Juni 2026, targetnya tembus Rp135 triliun.
Suara.com - Investasi hilirisasi sektor mineral memang terus mengalir deras, tetapi geliat tersebut justru semakin menunjukkan ketimpangan baru dalam peta ekonomi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat investasi hilirisasi mineral mencapai Rp206,5 triliun pada semester I 2026.
Angka tersebut menjadikan sektor mineral sebagai kontributor terbesar dalam investasi hilirisasi nasional. Namun, derasnya investasi kini lebih banyak terkonsentrasi di luar Pulau Jawa, mengikuti lokasi sumber daya alam yang menjadi bahan baku industri.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengatakan akumulasi investasi hilirisasi di luar Pulau Jawa telah mencapai sekitar Rp227 triliun.
“Aktivitas ekonomi mulai bergerak dari Pulau Jawa menuju wilayah yang lebih dekat dengan lokasi sumber daya alam. Saat ini juga terdapat 26 proyek hilirisasi strategis nasional senilai Rp225 triliun yang sedang dikembangkan,” kata Tri dalam forum Global South Dialogue on Critical Mineral and Green Industrialization di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Pergeseran tersebut menjadi sinyal bahwa pusat pertumbuhan industri berbasis sumber daya alam mulai meninggalkan Pulau Jawa. Di satu sisi, kondisi ini dapat membuka pusat-pusat ekonomi baru. Namun di sisi lain, pemerintah menghadapi pekerjaan besar untuk memastikan infrastruktur, tenaga kerja, dan rantai industri di daerah mampu mengejar derasnya investasi.
Dari sisi penerimaan negara, sektor minerba juga belum sepenuhnya menunjukkan capaian yang sebanding dengan besarnya investasi yang digelontorkan.
Hingga Juni 2026, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor minerba baru mencapai Rp76 triliun.
Pemerintah memang membidik penerimaan tahun ini agar dapat melampaui capaian 2025 yang mencapai Rp135 triliun. Namun, target tersebut masih membutuhkan tambahan penerimaan yang cukup besar pada paruh kedua tahun ini.
Dengan posisi Rp76 triliun hingga Juni, pemerintah harus menggenjot penerimaan lebih dari Rp59 triliun hanya untuk melampaui capaian tahun sebelumnya.
Tekanan tersebut menjadi semakin penting karena hilirisasi membutuhkan investasi besar, sementara pemerintah tetap dituntut memastikan manfaat ekonomi yang diterima negara tidak berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan semata.
Tri mengatakan investasi sektor minerba sepanjang 2025 mencapai US$6,7 miliar dengan penyerapan tenaga kerja langsung sebanyak 685.724 orang.
Menurutnya, pertumbuhan investasi dan proyek hilirisasi memberikan dampak terhadap peningkatan nilai tambah komoditas, penerimaan negara, penciptaan lapangan kerja, serta pembangunan fondasi industri strategis nasional.
Namun, pemerintah kini menghadapi tantangan yang lebih berat: memastikan investasi tersebut benar-benar membentuk ekosistem industri, bukan sekadar memindahkan aktivitas pengolahan komoditas mentah ke daerah sumber daya.
“Ini menunjukkan bahwa arah hilirisasi kita mulai bergerak dari sekadar processing menuju pembangunan industrial ecosystem,” pungkas Tri.