Kolaborasi Kementerian,Lembaga dan Stakeholders Jadi Kunci Membangun Ekosistem Intelijen Ekonomi

Fabiola Febrinastri

Selasa, 29 September 2026 | 13:15 WIB
Kolaborasi Kementerian,Lembaga dan Stakeholders Jadi Kunci Membangun Ekosistem Intelijen Ekonomi
Seminar "Sinergi Intelijen Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi Luar Negeri dalam Memperkuat Kepentingan Strategis Indonesia", di Jakarta. (Dok: Orion)

Suara.com - Tim Pelaksana Intelligence Economic Collaborator Forum (Orion) menggelar Seminar Kebijakan bertema "Sinergi Intelijen Ekonomi dan Kebijakan Ekonomi Luar Negeri dalam Memperkuat Kepentingan Strategis Indonesia", di Jakarta. Seminar ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ken Conboy, penulis buku INTEL: Inside Indonesia's Intelligence Service; Aji Bayu, Economic Collaborator sekaligus penggagas Orion; dan Aisha Rasyidila Kusumasomantri, M.Sc., Direktur Kerja Sama dan Hubungan Eksternal Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI).

Diskusi dipandu oleh Nugroho Adi Sasongko, S.T., M.Sc., MBA, Ph.D., IPU, Direktur Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peserta yang hadir berasal dari kementerian/lembaga, badan pengusahaan kawasan, lembaga kajian, sektor swasta, dan perguruan tinggi.

Dalam paparannya, Ken Conboy memberikan sejumlah masukan bagi Indonesia dalam mengembangkan intelijen ekonomi dengan berkaca pada pengalaman negara lain. Menurutnya, pengalaman Amerika Serikat dan Prancis menunjukkan bahwa nilai intelijen ekonomi terletak pada ketajaman analisis, bukan banyaknya informasi yang dikumpulkan. Nilai itu juga bergantung pada kemampuan menjaga keadilan bagi dunia usaha, mengingat kaburnya identitas nasional perusahaan multinasional, serta kehati-hatian dalam menghadapi negara sahabat.

Ia menilai, Indonesia dapat memanfaatkan intelijen ekonomi untuk tiga hal: membagikan analisis ekonomi luar negeri secara terukur kepada kementerian, BUMN, dan dunia usaha; memperkuat kontraspionase untuk melindungi BUMN dan perusahaan nasional; serta mendukung perusahaan Indonesia bersaing secara adil dalam tender internasional.

Aji Bayu memaparkan gagasan pembentukan ekosistem kolaborasi intelijen ekonomi untuk mengawal Program Strategis Nasional. Ia menunjukkan bagaimana guncangan global, seperti perang Ukraina, konflik Iran dan Selat Hormuz, tarif Amerika Serikat, dinamika Laut Cina Selatan, dan perebutan elemen tanah jarang, merambat ke tiga program prioritas, yaitu Makan Bergizi Gratis, Nilai Ekonomi Karbon, dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Menurutnya, persoalan utama bukan kekurangan informasi, melainkan putusnya rantai antara analisis dan keputusan akibat fragmentasi data, ego sektoral, dan koordinasi yang belum terlembaga. Melalui model ORION, ia menawarkan empat langkah tanpa membentuk lembaga baru: menjahit kolaborasi melalui MoU/PKS dan SOP bersama dengan orkestrator yang jelas, membangun platform fusi data, membuka siklus intelijen ekonomi bagi pihak nonintelijen, dan menyiapkan payung hukum berbagi data.

Aisha Rasyidila Kusumasomantri menyoroti dinamika geopolitik dan geoekonomi Indo-Pasifik serta implikasinya bagi Indonesia. Ia menjelaskan bahwa konflik berlarut di Asia Barat telah berdampak nyata pada harga energi, pupuk, plastik, dan bahan baku industri di dalam negeri. Ia juga menjelaskan bahwa rivalitas kekuatan besar masuk ke perekonomian Indonesia melalui enam jalur: perdagangan, teknologi, rantai pasok, modal, sumber daya, dan standar.

Ia mendorong agar produk intelijen ekonomi mampu menjawab pertanyaan so what dan now what bagi pembuat kebijakan. Ia juga mendorong pemetaan isu melalui matriks exposure–leverage, diversifikasi mitra dengan rumus "negara X + 1", pembangunan sistem klasifikasi data dan fusion intelligence, serta penguatan demokrasi partisipatoris sebagai fondasi kebijakan yang berpihak pada kepentingan nasional.

Sesi tanya jawab berlangsung dalam dua termin dan diwarnai pertanyaan dari berbagai latar belakang. Pada termin pertama, Dimas, menanyakan cara memastikan intelijen ekonomi tidak terjebak dalam praktik pelanggaran seperti yang dikritik dalam sejumlah literatur tentang badan intelijen asing.

baca juga

Ken Conboy menanggapi bahwa kerja intelijen dalam persaingan internasional memang memiliki karakter yang berbeda dari diplomasi formal. Menurutnya, di situlah tantangan untuk menyeimbangkan pertimbangan etika dengan tuntutan memenangkan kepentingan nasional.

M. Hadianto dari Indo-Pacific Strategic Intelligence mengangkat dua isu, yaitu pentingnya mekanisme economic early warning system untuk membaca risiko struktural di balik indikator yang tampak sehat, serta dilema antara tuntutan kecepatan pengambilan kebijakan dan prinsip kehati-hatian.

Aji Bayu menjawab bahwa sistem peringatan dini ekonomi perlu memadukan perangkat analitis berbasis teknologi dengan verifikasi lapangan. Sistem itu juga perlu melibatkan ekonom, analis, dan media agar laporan yang disusun komprehensif dan mampu mencegah kejutan yang tidak perlu.

Ia menambahkan bahwa penguatan SDM dengan latar belakang ekonomi menjadi kebutuhan mendesak. Ia juga mengakui bahwa dinamika antara rekomendasi intelijen dan keputusan politik merupakan tantangan klasik yang dihadapi banyak negara.

Rinaldi menanyakan peran intelijen ekonomi dalam mendukung posisi pemerintah pada perundingan bilateral dan multilateral, seperti RCEP dan CEPA. Menurutnya, posisi runding Indonesia kerap bersifat normatif karena minim informasi mendalam tentang kepentingan negara mitra.

Ken Conboy menjelaskan bahwa mengetahui posisi dasar dan area fleksibilitas mitra runding sebelum perundingan dimulai memberikan keunggulan yang sangat besar. Karena itu, dukungan intelijen sebelum perundingan merupakan area yang perlu dipikirkan Indonesia ke depan. Aji Bayu mencontohkan bahwa dalam perundingan tarif dengan Amerika Serikat, masukan intelijen tidak hanya berupa informasi, tetapi juga saran langkah untuk meningkatkan daya tawar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kanwil BPN Jatim Digeledah KPK, ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

Kanwil BPN Jatim Digeledah KPK, ATR/BPN Pastikan Layanan Pertanahan Tetap Berjalan

News | Selasa, 29 September 2026 | 08:33 WIB

Pengadilan Pajak Dialihkan ke MA Akhir Tahun, Kemenkeu Siapkan Masa Transisi SDM & IT

Pengadilan Pajak Dialihkan ke MA Akhir Tahun, Kemenkeu Siapkan Masa Transisi SDM & IT

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 18:50 WIB

Kemenkeu Telah Lunasi Utang Gagal Bayar Waskita Senilai Rp722 Miliar

Kemenkeu Telah Lunasi Utang Gagal Bayar Waskita Senilai Rp722 Miliar

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 17:57 WIB

Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Lartas Impor, Kemendag Bilang Begini

Wajib Halal Oktober 2026 Bukan Lartas Impor, Kemendag Bilang Begini

Bisnis | Senin, 28 September 2026 | 16:46 WIB

Muthowwif Sindir Jemaah Lansia, Kemenhaj Pikirkan Sanski Blacklist

Muthowwif Sindir Jemaah Lansia, Kemenhaj Pikirkan Sanski Blacklist

News | Senin, 28 September 2026 | 15:00 WIB

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Evaluasi Problem Ekonomi: AEI Soroti Risiko Fiskal hingga Deforestasi

Your Say | Sabtu, 26 September 2026 | 20:10 WIB

Terkini

Rayakan Hari Batik Nasional 2026, Shopee Bagikan Fun Fact Menarik Soal Batik

Rayakan Hari Batik Nasional 2026, Shopee Bagikan Fun Fact Menarik Soal Batik

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:13 WIB

Dinilai Paling Paham 'Jeroan' Ibu Kota, DPRD DKI Minta Kapolri Baru Perkuat Keamanan Jakarta

Dinilai Paling Paham 'Jeroan' Ibu Kota, DPRD DKI Minta Kapolri Baru Perkuat Keamanan Jakarta

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:09 WIB

One of a Kind Romance Tayang 9 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya

One of a Kind Romance Tayang 9 November, Ini Daftar Para Pemain Utamanya

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:00 WIB

Kemenkeu Ungkap Jurus RI Keluar dari Jebakan Middle Income Trap

Kemenkeu Ungkap Jurus RI Keluar dari Jebakan Middle Income Trap

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:59 WIB

Pertamina Perkuat Komitmen Menjaga Ketahanan Energi Nasional di Hari Kesaktian Pancasila

Pertamina Perkuat Komitmen Menjaga Ketahanan Energi Nasional di Hari Kesaktian Pancasila

Bisnis | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:51 WIB

Kenapa Zodiak Gemini Sering Banget Dibenci? Ini 5 Alasan Utamanya!

Kenapa Zodiak Gemini Sering Banget Dibenci? Ini 5 Alasan Utamanya!

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:35 WIB

Menteri Mukhtarudin Dorong Lulusan Poltekkes Jadi Tenaga Kesehatan Profesional di Dunia

Menteri Mukhtarudin Dorong Lulusan Poltekkes Jadi Tenaga Kesehatan Profesional di Dunia

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:33 WIB

Polisi Sebut Tak Temukan Unsur Pungli dan Pemerasan di Kasus Bolosego Alkid Yogyakarta

Polisi Sebut Tak Temukan Unsur Pungli dan Pemerasan di Kasus Bolosego Alkid Yogyakarta

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:33 WIB

JARI98 Ungkap Peran Strategis Listyo Sigit di KSP, 'Benteng Kokoh' Presiden Prabowo?

JARI98 Ungkap Peran Strategis Listyo Sigit di KSP, 'Benteng Kokoh' Presiden Prabowo?

Jatim | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:32 WIB

Setelah Sukses di Musim Pertama, Anime Draw This Then Die Lanjut Musim ke-2

Setelah Sukses di Musim Pertama, Anime Draw This Then Die Lanjut Musim ke-2

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 19:30 WIB

×