- Pengamat Ibrahim Assuaibi memprediksi harga minyak dunia berpotensi menembus level US$100 per barel pada pekan depan.
- Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, memicu kenaikan harga minyak tersebut.
- Kebijakan Amerika Serikat melarang ekspor solar turut menurunkan pasokan global dan mendongkrak harga minyak mentah.
Kondisi itu dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia.
"Dan ini membuat ketegangan di Timur Tengah, ya terutama di Selat Bab el-Mandeb ya, kemungkinan semakin melebar, ya semakin panas. Dan ini yang membuat harga minyak kemungkinan besar akan di level di atas level 100," tuturnya.
Selain konflik geopolitik, Ibrahim juga menyoroti kebijakan Amerika Serikat yang melarang ekspor solar.
Menurut dia, kebijakan tersebut turut berdampak terhadap pasokan solar secara global dan berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah.
"Nah, yang kedua bahwa Amerika, ya melarang untuk ekspor solar. Ini pun juga membuat apa? Membuat solar secara global ini mengalami penurunan yang cukup signifikan, ya sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah," ucap Ibrahim.
Pergerakan harga minyak tersebut juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Ibrahim dalam melihat arah harga emas dunia.
Ia menilai kenaikan harga minyak dan ketegangan geopolitik dapat berjalan beriringan dengan perubahan indeks dolar serta pergerakan harga emas.