- Kapasitas keramik RI diproyeksi naik dari 672 juta m² menjadi 728 juta m² pada 2029.
- 95% produksi masih terserap pasar domestik, ekspor menjadi ruang pertumbuhan.
- SAKI membidik Indonesia masuk empat besar produsen keramik dunia.
Suara.com - Industri keramik Indonesia terus memperbesar kapasitas produksi di tengah peluang pertumbuhan sektor konstruksi. Kapasitas produksi nasional diproyeksikan mencapai sekitar 672 juta meter persegi (m²) per tahun pada 2026 dan meningkat menjadi sekitar 728 juta m² per tahun pada 2029.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh besarnya pasar domestik, terutama dari kebutuhan konstruksi dan properti. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sektor konstruksi menyumbang 9,83% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2025, menjadikannya salah satu sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian.
Namun, besarnya pasar dalam negeri juga menunjukkan tantangan lain. Saat ini sekitar 95% produksi keramik nasional masih diserap pasar domestik. Artinya, peningkatan kapasitas produksi ke depan perlu diikuti dengan perluasan pasar ekspor agar tambahan produksi tidak hanya bergantung pada permintaan dalam negeri.
Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) bahkan melihat peluang bagi Indonesia untuk masuk jajaran empat besar produsen keramik dunia.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan industri keramik nasional memiliki fondasi manufaktur yang cukup kuat untuk meningkatkan daya saing di pasar global.
“Indonesia memiliki fondasi manufaktur yang kuat untuk membawa industri keramik nasional ke level yang lebih tinggi. Dengan ekspansi kapasitas, investasi, dan inovasi yang terus berjalan, kita punya peluang nyata untuk masuk empat besar produsen keramik dunia,” kata Edy kepada wartawan, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, penguatan industri tidak hanya bergantung pada penambahan kapasitas, tetapi juga investasi teknologi dan inovasi produk agar keramik Indonesia mampu bersaing di pasar internasional.
Upaya memperluas pasar tersebut salah satunya didorong melalui KERAMIKA Indonesia 2027, yang diluncurkan Panorama Media bersama ASAKI pada 6 Oktober 2026.
Pameran tersebut akan digelar pada 10-13 Juni 2027 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Banten. KERAMIKA Indonesia 2027 merupakan penyelenggaraan ke-12 dan akan berlangsung bersamaan dengan MEGABUILD Indonesia, MegaFurniture, serta MegaProperty.
Mengusung tema From Indonesia to the World, Shaping the Future of Ceramics, acara ini ditargetkan menjadi ajang pertemuan produsen keramik nasional dengan buyer, importir, distributor, pengembang, kontraktor, arsitek, desainer hingga penyedia teknologi dari berbagai negara.
Salah satu program yang disiapkan adalah International Buyer Program & Business Matching. Program ini akan mempertemukan produsen keramik Indonesia dengan calon pembeli dan mitra distribusi dari luar negeri untuk membuka peluang ekspor dan pengadaan proyek.
Ketua Panitia Keramika Indonesia Desi Natalia mengatakan akses langsung kepada pembeli mancanegara menjadi salah satu kebutuhan industri untuk memperluas pasar.
“Banyak produsen kita sudah siap dari sisi kualitas dan kapasitas, yang dibutuhkan adalah akses yang lebih langsung ke pembeli dan mitra di luar negeri,” ujar Desi.
Penyelenggara menargetkan jejaring buyer dari sejumlah negara, termasuk Vietnam, Malaysia, Filipina, Singapura, Bangladesh, Thailand, Australia, serta negara-negara di Eropa dan Amerika.
Selain mengejar pasar ekspor, KERAMIKA 2027 juga akan mempertemukan pelaku industri dari sisi hulu hingga hilir. Produk yang ditampilkan mencakup ubin keramik dan porselen, bahan baku, glaze, teknologi digital printing, kiln, mesin produksi hingga teknologi otomasi.
Dari sisi desain, pameran juga akan menghadirkan inovasi material, finishing, tekstur, dan teknologi permukaan yang menyasar kebutuhan proyek hunian, komersial hingga perhotelan.
Sekretaris Jenderal Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Pusat Rica Jumaria Ishak menilai perkembangan industri keramik kini semakin berkaitan dengan kebutuhan desain bangunan.
“Keramik hari ini bukan lagi sekadar penutup lantai dan dinding, tetapi elemen yang menentukan karakter sebuah ruang,” kata Rica.