- IHSG mengalami tekanan signifikan dengan koreksi 3,28 persen pada akhir September hingga awal Oktober 2026 akibat penurunan sektor teknologi dan konglomerasi.
- Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI menjadi penopang utama indeks karena mencatatkan koreksi lebih ringan sebesar 2,22 persen.
- Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih pada saham BBRI di beberapa sesi perdagangan kunci di tengah tren penjualan bersih di pasar.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup signifikan sejak akhir September hingga awal Oktober 2026. Koreksi indeks terutama dipicu oleh penurunan tajam pada sektor teknologi dan saham-saham kelompok konglomerasi.
Di tengah gelombang tekanan tersebut, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) muncul sebagai salah satu penopang utama yang beberapa kali berhasil menahan laju penurunan indeks domestik.
Selama pekan 28 September hingga 2 Oktober 2026, IHSG terkoreksi 3,28 persen. Penurunan indeks disumbang oleh emiten-emiten berkapitalisasi besar, di antaranya PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang anjlok 40,00 persen dengan bobot penurunan 36,71 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang susut 10,17 persen (19,13 poin), serta PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang melemah 6,64 persen (14,75 poin).
Saham pemberat lainnya mencakup PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang turun 13,64 persen (13,74 poin), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berkurang 2,40 persen (13,15 poin), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tergerus 7,21 persen (8,52 poin). Sementara itu, saham BBRI hanya terkoreksi 2,22 persen dengan kontribusi tekanan 10,31 poin, atau mencatatkan daya tahan yang relatif lebih kuat dibandingkan penurunan IHSG secara keseluruhan.
Transaksi Harian dan Aksi Beli Asing pada BBRI
Meskipun pasar saham secara keseluruhan dibayangi oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing yang mencapai total Rp82,55 triliun sepanjang tahun 2026 hingga awal Oktober, aliran dana asing pada saham BBRI justru mencatatkan akumulasi positif pada beberapa sesi perdagangan kunci:
29 September 2026: IHSG ditutup melemah 0,43 persen ke posisi 6.121,70 dengan net sell asing seluruh pasar mencapai Rp777,18 miliar. Pada sesi I, saham BBRI sempat melonjak 1,91 persen ke level Rp3.200 per saham dan menyumbang 8,79 poin terhadap indeks. Saham BBRI ditutup menguat 0,96 persen ke level Rp3.170 per saham dengan transaksi net buy asing sebesar Rp58,20 miliar.
30 September 2026: IHSG terkoreksi 0,83 persen ke level 6.071,14 di tengah net sell asing Rp1,61 triliun. Saham BBRI mencatatkan aksi jual bersih asing sebesar Rp78,89 miliar.
1 Oktober 2026: IHSG merosot 1,01 persen ke posisi 6.009,50 dengan net sell asing Rp241,86 miliar, di mana net sell asing pada BBRI tercatat sebesar Rp41,12 miliar.
2 Oktober 2026: IHSG menguat 0,46 persen ke posisi 6.036,88, meski total net sell asing di pasar mencapai Rp1,27 triliun.
5 Oktober 2026: IHSG menguat 1,36 persen ke posisi 6.118,86 dengan net sell asing melandai ke angka Rp205 miliar.
6 Oktober 2026: IHSG menguat 1,21 persen ke level 6.192,93. Investor asing kembali membukukan net buy pada saham BBRI senilai Rp45,80 miliar, meskipun total pasar masih mencatatkan net sell Rp629,87 miliar.
7 Oktober 2026: IHSG melemah 0,75 persen ke posisi 6.146,72 dengan net sell pasar Rp871,36 miliar. Saham BBRI kembali diserbu investor asing dengan nilai net buy mencapai Rp129,58 miliar.
Daya Tarik Valuasi dan Kinerja Keuangan BBRI
Masuknya kembali modal asing ke saham BBRI secara selektif membedakannya dari saham perbankan besar lain seperti BBCA dan BMRI yang masih cenderung dilepas asing. Pilihan investor ini lebih didorong oleh faktor penyesuaian porsi kepemilikan (positioning) dan valuasi pasar ketimbang semata-mata pertumbuhan laba.
Secara fundamental (laporan bank only per Agustus 2026), laba bersih BBRI tumbuh 6,6 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp34,77 triliun dengan penyaluran kredit tumbuh 13,7 persen. Dengan rasio harga terhadap nilai buku (Price to Book Value/PBV) di kisaran 1,6 kali, harga saham BBRI dinilai relatif menarik bagi investor jangka panjang.
Uji Indikator: Rotasi Defensif atau Rebound Teknikal?
Kinerja saham BBRI yang mampu mengungguli IHSG memicu analisis mengenai potensi pergeseran peta portofolio pelaku pasar:
- Koreksi mingguan BBRI sebesar 2,22 persen terbukti lebih ringan ketimbang penurunan IHSG yang mencapai 3,28 persen, mengindikasikan adanya daya tahan teknikal yang cukup solid.
- Arus dana asing pada BBRI masih bergerak dinamis antara net buy dan net sell (tercatat net buy pada 28–29 September serta 6–7 Oktober), sehingga belum sepenuhnya memenuhi kriteria rotasi defensif yang menuntut akumulasi bersih secara berturut-turut.
- Volume transaksi harian pada hari-hari penguatan saham BBRI tercatat sekitar 135 juta saham, atau berada di kisaran 82 persen dari rata-rata volume pergerakan 20 hari yang sebesar 165 juta saham.
Meskipun kekuatan relatif saham BBRI terbukti menjadi penyeimbang IHSG saat indeks tertekan ke kisaran psikologis 6.000, konsistensi aliran modal asing dan partisipasi saham perbankan lainnya masih menjadi parameter penting untuk mengonfirmasi arah tren selanjutnya secara menyeluruh.
DISCLAIMER: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi publik mengenai dinamika pasar modal dan indikator pergerakan saham. Seluruh data transaksi, kinerja keuangan, dan statistik arus modal disadur secara presisi dari rilis riset pasar perbankan dan Bursa Efek Indonesia. Keputusan investasi sepenuhnya berada pada tanggung jawab masing-masing investor.