- PT Waskita Karya (Persero) Tbk membukukan rugi bersih sebesar Rp2,87 triliun pada kuartal III-2026.
- Pendapatan perusahaan meningkat 53,79 persen menjadi Rp8,12 triliun pada sembilan pertama tahun 2026.
- Ekuitas perseroan mengalami penurunan signifikan sebesar 71,93 persen menjadi Rp1,03 triliun per September 2026.
Suara.com - PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) masih mengalami kerugian pada kuartal III-2026 sebesar Rp2,87 triliun. Meskipun, raihan rugi bersih itu menyusut 9,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp3,17 triliun.
Mengutip laporan keuangan di keterbukaan informasi, Selasa (13/10/2026), pada sembilan pertama tahun ini, Waskita Karya meraih pendapatan sebesar Rp8,12 triliun, naik 53,79 persen dibandingkan Rp5,28 triliun pada periode yang sama 2025.
Namun, peningkatan pendapatan tersebut diikuti kenaikan beban pokok pendapatan. Pada kuartal III-2026, beban pokok BUMN konstruksi ini mencapai Rp7,16 triliun, meningkat 66,51 persen dibandingkan Rp4,30 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan beban pokok yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan membuat laba bruto perseroan justru mengalami penurunan.

Waskita Karya membukukan laba bruto Rp950,44 miliar pada kuartal III-2026, turun 3,01 persen dibandingkan Rp979,97 miliar pada kuartal III-2025.
Selain beban pokok pendapatan, Waskita Karya juga mencatat kenaikan beban pajak final. Beban pajak final perseroan meningkat menjadi Rp138,85 miliar pada kuartal III-2026, naik 45,59 persen dibandingkan Rp95,37 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi posisi neraca, Waskita Karya mencatat total aset perseroan sebesar Rp73,07 triliun per 30 September 2026, naik 3,31 persen dibandingkan posisi 31 Desember 2025 sebesar Rp70,73 triliun.
Sementara itu, total liabilitas meningkat dari Rp67,06 triliun pada akhir 2025 menjadi Rp72,03 triliun per 30 September 2026. Angka tersebut naik 7,41 persen.
Sebaliknya, ekuitas perseroan mengalami penurunan signifikan. Ekuitas Waskita Karya tercatat sebesar Rp1,03 triliun per September 2026, turun 71,93 persen dibandingkan Rp3,67 triliun pada 31 Desember 2025.
Selain itu, kas dan setara kas perseroan turun 50 persen menjadi Rp1,50 triliun pada kuartal III-2026, dibandingkan Rp3 triliun pada periode pembanding 2025.