- Nilai tukar rupiah berhasil menguat ke level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat.
- Penguatan tersebut didorong oleh meredanya tekanan jual dolar serta penurunan harga minyak dunia yang terjadi hari ini.
- Mayoritas mata uang Asia juga mengalami penguatan, dengan rupee India mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,51 persen.
Suara.com - Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada Selasa (13/10/2026) sore. Padahal, mata uang Garuda sempat melemah di awal perdagangan.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup ke level Rp17.900 per dolar AS, melemah 13 poin atau turun 0,07 persen dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.899.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan jual dolar AS yang mereda jadi salah pendorong penguatan rupiah hari ini.
"Rupiah ditutup menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya tekanan jual pada US treasury dan perlemahan dolar AS sendiri," ujarnya saat dihubungi Suara.com.
![Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan mata uang dollar AS di Jakarta, Selasa (29/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/29/40032-nilai-tukar-rupiah-ilustrasi-dolar-ilustrasi-dollar-ilustrasi-rupiah.jpg)
Selain itu, Lukman menambahkan, sentimen positif rupiah juga berasal dari harga minyak dunia yang terus alami penurunan.
"Rupiah diperkirakan masih akan berfluktuasi dan menguat dengan merespon perkembangan eksternal," jelasnya.
Sementara itu mayoritas mata uang Asia cenderung menguat. Rinciannya rupee India jadi paling kuat dengan melonjak 0,51 persen.
Disusul yen Jepang naik 0,45 persen. Lalu ada baht Thailand menguat 0,21 persen dan dolar Singapura naik yipis 0,05 persen.
Sedangkan dolar Taiwan melemah paling dalam merosot 0,74 persen. Selanjutnya ada won Korea Selatan yang anjlok 0,51 persen dan peso Filipina yang juga melemah 0,05 persen. Lalu ada, ringgit Malaysia turun 0,03 persen.