Rupiah Masuk Daftar Mata Uang Paling Lemah di Dunia, Benarkah Fundamental Ekonomi RI Rendah?

Dythia Novianty, Rina Anggraeni

Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:56 WIB
Rupiah Masuk Daftar Mata Uang Paling Lemah di Dunia, Benarkah Fundamental Ekonomi RI Rendah?
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta. [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyatakan nilai rupiah keenam terendah di dunia bukan ukuran keburukan ekonomi Indonesia pada 13 Oktober 2026.
  • Penyebab utama pelemahan rupiah berasal dari tekanan eksternal seperti kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan tingginya harga minyak.
  • Bank Indonesia diminta melakukan pendekatan stabilisasi menyeluruh melalui intervensi pasar valuta asing dan pengelolaan instrumen keuangan rupiah yang efektif.

Suara.com - Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, masuknya rupiah sebagai daftar mata uang paling lemah di dunia bukan jadi tolak ukur melihat fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, rendahnya nilai nominal rupiah tidak dapat dijadikan ukuran bahwa perekonomian Indonesia lebih buruk dibandingkan negara yang mata uangnya memiliki nilai nominal lebih tinggi. 

Pasalnya, berdasarkan data konverter mata uang yang dirujuk Forbes Advisor UK merilis 10 mata uang dengan nilai nominal terendah terhadap dolar AS. Dalam daftar itu, rupiah masuk dan berada di peringkat keenam.

"Ukuran kesehatan perekonomian yang lebih tepat adalah pertumbuhan pendapatan riil per kapita, produktivitas tenaga kerja, tingkat inflasi, daya saing ekspor, keseimbangan transaksi berjalan, cadangan devisa, dan stabilitas sistem keuangan," bebernya saat dihubungi Suara.com, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, yang perlu diluruskan terlebih dahulu bahwa masuknya rupiah dalam daftar mata uang terlemah dunia tidak berarti rupiah mengalami depresiasi paling besar dibandingkan seluruh mata uang lainnya.  

Sebab, pemeringkatan tersebut didasarkan pada nilai nominal satu unit mata uang terhadap dolar AS, bukan besarnya persentase pelemahan dalam periode tertentu.

Ilustrasi inflasi. [Ist]
Ilustrasi inflasi. [Ist]

"Jadi, yang perlu dikhawatirkan bukan besarnya nominal Rp17.000–18.000 per dolar AS, melainkan apakah pelemahan tersebut berlangsung terlalu cepat, meningkatkan inflasi, memperbesar beban utang, dan mengurangi kemampuan masyarakat maupun dunia usaha mempertahankan daya belinya," katanya.

Menurut dia, pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh tekanan eksternal, tetapi besarnya depresiasi juga mencerminkan meningkatnya kerentanan fundamental domestik. 

Dari eksternal, kenaikan suku bunga bank sentral AS pada September menjadi 3,75–4,00 persen, imbal hasil surat utang AS tenor 10 tahun yang berada di sekitar 5,24 persen, serta harga minyak yang tinggi membuat investasi berbasis dolar semakin menarik.

baca juga

"Artinya, tekanan rupiah belum menunjukkan krisis fundamental ekonomi, tetapi guncangan global saat ini diperbesar oleh kebutuhan devisa yang meningkat dan kemampuan perekonomian menghasilkan pasokan dolar yang belum cukup kuat secara berkelanjutan," jelasnya.

Dia menambahkan, Bank Indonesia perlu mempertahankan pendekatan stabilisasi yang menyeluruh dan terukur, bukan hanya mengandalkan kenaikan suku bunga atau penggunaan cadangan devisa secara agresif dalam menguatkan rupiah. 

Untuk itu, BI perlu tetap hadir melalui intervensi di pasar valuta asing tunai, transaksi berjangka domestik, dan pasar luar negeri untuk mengurangi gejolak nilai tukar yang berlebihan.

" Penggunaan transaksi berjangka dapat membantu mengurangi kebutuhan penjualan dolar secara langsung, tetapi tetap harus memperhatikan risiko dan biaya yang timbul dari posisi transaksi tersebut. BI juga perlu menjaga daya tarik instrumen keuangan rupiah melalui pengelolaan imbal hasil SRBI, memperkuat likuiditas pasar valuta asing, dan memperluas fasilitas perlindungan nilai bagi eksportir, importir, serta perbankan," tuturnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dolar Menguat, Harga Komponen Naik, Pendapatan IOTF Tetap Tumbuh 16%

Dolar Menguat, Harga Komponen Naik, Pendapatan IOTF Tetap Tumbuh 16%

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 11:27 WIB

Rupiah Terus Menguat, Dolar AS Anjlok ke Level Rp17.868

Rupiah Terus Menguat, Dolar AS Anjlok ke Level Rp17.868

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 09:59 WIB

Wamenko Drajad Yakin Ekonomi RI 2027 Tumbuh Lebih Dari 6 Persen

Wamenko Drajad Yakin Ekonomi RI 2027 Tumbuh Lebih Dari 6 Persen

Bisnis | Kamis, 08 Oktober 2026 | 09:45 WIB

Jurus Genjot Ekonomi Digital Daerah, Pangkas Harga Internet hingga Naikkan Bandwidth

Jurus Genjot Ekonomi Digital Daerah, Pangkas Harga Internet hingga Naikkan Bandwidth

Bisnis | Rabu, 07 Oktober 2026 | 15:05 WIB

Rupiah Tahan Banting, Paling Kuat se-Asia di Level Rp17.889

Rupiah Tahan Banting, Paling Kuat se-Asia di Level Rp17.889

Bisnis | Rabu, 07 Oktober 2026 | 17:00 WIB

Luhut Dorong Ekonomi Berbasis Pengetahuan, AI hingga Energi Jadi Fokus

Luhut Dorong Ekonomi Berbasis Pengetahuan, AI hingga Energi Jadi Fokus

Bisnis | Rabu, 07 Oktober 2026 | 14:49 WIB

Terkini

Pakar UGM soal Dua Tahun Prabowo-Gibran: Hak Publik Dapat Layanan Ideal Jauh dari Kenyataan

Pakar UGM soal Dua Tahun Prabowo-Gibran: Hak Publik Dapat Layanan Ideal Jauh dari Kenyataan

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:50 WIB

Pemadaman Listrik Total, Harga Kamar Hotel di Batam Tembus Rp34 Juta per Malam

Pemadaman Listrik Total, Harga Kamar Hotel di Batam Tembus Rp34 Juta per Malam

Batam | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:49 WIB

Menlu Malaysia: Jarak Pandang Buruk Lumpuhkan Pemadaman Udara Kebakaran Hutan Indonesia

Menlu Malaysia: Jarak Pandang Buruk Lumpuhkan Pemadaman Udara Kebakaran Hutan Indonesia

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:46 WIB

6 Pensil Alis di Bawah Rp20 Ribu, Dilengkapi Sikat dan Rautan

6 Pensil Alis di Bawah Rp20 Ribu, Dilengkapi Sikat dan Rautan

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:45 WIB

Harga Pangan Nasional: Cabai Merah Keriting Tembus Rp155 Ribu per Kg, Bawang Merah Ikut Melonjak

Harga Pangan Nasional: Cabai Merah Keriting Tembus Rp155 Ribu per Kg, Bawang Merah Ikut Melonjak

Bisnis | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:38 WIB

Gibran dalam Sandera Koboi-koboi Senayan

Gibran dalam Sandera Koboi-koboi Senayan

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:36 WIB

Kalau Minta Maaf Kita Kalah: Pengakuan Menohok Ayah Korban Bullying di SDN Mejayan 1 Madiun

Kalau Minta Maaf Kita Kalah: Pengakuan Menohok Ayah Korban Bullying di SDN Mejayan 1 Madiun

Jatim | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:33 WIB

Apakah Viva Skin Food Bisa Dijadikan Moisturizer? Cek Manfaatnya Sesuai Klaim

Apakah Viva Skin Food Bisa Dijadikan Moisturizer? Cek Manfaatnya Sesuai Klaim

Lifestyle | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:33 WIB

Sudah Parah! Malaysia Perkarakan Kabut Asap dari Indonesia ke Tingkat ASEAN

Sudah Parah! Malaysia Perkarakan Kabut Asap dari Indonesia ke Tingkat ASEAN

News | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:32 WIB

Review Film The Uprising: Drama Sejarah Epik Paul Greengrass yang Memukau

Review Film The Uprising: Drama Sejarah Epik Paul Greengrass yang Memukau

Your Say | Selasa, 13 Oktober 2026 | 10:30 WIB

×