-
Reli IHSG 2025 ditopang saham konglomerasi yang kini berbalik menjadi sumber tekanan.
-
Pembekuan penyesuaian indeks MSCI menyoroti transparansi dan konsentrasi kepemilikan saham.
-
Era membeli saham hanya bermodal nama besar konglomerat mulai menghadapi ujian.
Suara.com - Saham-saham konglomerasi yang menjadi motor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025 kini justru menjadi salah satu sumber tekanan di pasar modal. Perubahan sentimen ini menandai berakhirnya era ketika nama besar pemilik dan cerita ekspansi bisnis cukup untuk membuat saham diburu investor.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026) sepanjang 2025, IHSG melesat 21,49% dan mencetak puluhan rekor tertinggi sepanjang masa. Reli tersebut tidak lepas dari meroketnya saham-saham yang terafiliasi dengan sejumlah konglomerat, mulai dari Prajogo Pangestu, Happy Hapsoro, keluarga Bakrie, Anthony Salim, hingga Haji Isam.

Saham-saham milik para taipan tersebut menjadi primadona di tengah perburuan investor terhadap emiten yang memiliki cerita ekspansi bisnis, mulai dari energi, pertambangan, infrastruktur, hingga perkebunan. Sejumlah saham bahkan mencatatkan kenaikan ratusan hingga ribuan persen dalam setahun.
Namun, pesta saham konglomerasi itu kini menghadapi ujian berat. Perubahan sikap penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan konsentrasi pemegang saham, menjadi titik balik bagi pasar modal Indonesia.

MSCI membekukan sementara sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia di tengah evaluasi terhadap transparansi data kepemilikan dan ketersediaan saham publik atau free float. Kebijakan tersebut membuat pasar menghadapi ketidakpastian, terutama bagi emiten yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. MSCI juga menunda peningkatan sejumlah faktor inklusi saham Indonesia dalam indeksnya selama evaluasi berlangsung.
Tekanan tersebut turut memperburuk sentimen di pasar domestik. IHSG sempat mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt beberapa kali ketika tekanan jual meningkat tajam.
Persoalan yang semula terlihat teknis, yakni keterbukaan kepemilikan dan jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik, kemudian berkembang menjadi pertanyaan lebih besar: seberapa kuat fondasi kenaikan harga saham-saham konglomerasi selama ini?
Kini, berdasarkan data kinerja IHSG secara year to date (YtD) telah terkoreksi 31,47% sepanjang 2026. Sejumlah saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi primadona ikut berguguran.
PT Petrosea Tbk (PTRO), yang terafiliasi dengan Grup Prajogo Pangestu, tercatat merosot 61,74%. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, turun 50,41%.
Tekanan serupa dialami PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merosot 54,37% dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang terkoreksi 49,55%. Angka tersebut menunjukkan betapa dalamnya pembalikan arah saham-saham yang sebelumnya menjadi bagian dari cerita reli pasar.
Koreksi saham-saham konglomerasi juga terlihat dalam perdagangan belakangan ini. Pada 12 Oktober 2026, saham PTRO dan BUMI kembali melemah tajam, sementara saham-saham Grup Barito dan Sinar Mas ikut tertekan.
Meski demikian, kejatuhan harga saham tidak otomatis berarti seluruh bisnis di baliknya kehilangan prospek. Setiap emiten memiliki kondisi keuangan, struktur utang, arus kas, prospek industri, dan strategi ekspansi yang berbeda. Karena itu, koreksi harga perlu dibedakan dari penurunan fundamental perusahaan.