Era Saham Konglo Berakhir? Dulu Angkat IHSG, Kini Jadi Beban Pasar

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:45 WIB
Era Saham Konglo Berakhir? Dulu Angkat IHSG, Kini Jadi Beban Pasar
Sejumlah konglomerat Boy Thohir, Aguan, Prajogo Pangestu, Franky Wijaya dalam satu meja (Instagram/maruararsirait)
baca 10 detik
  • Reli IHSG 2025 ditopang saham konglomerasi yang kini berbalik menjadi sumber tekanan.

  • Pembekuan penyesuaian indeks MSCI menyoroti transparansi dan konsentrasi kepemilikan saham.

  • Era membeli saham hanya bermodal nama besar konglomerat mulai menghadapi ujian.

Suara.com - Saham-saham konglomerasi yang menjadi motor penggerak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025 kini justru menjadi salah satu sumber tekanan di pasar modal. Perubahan sentimen ini menandai berakhirnya era ketika nama besar pemilik dan cerita ekspansi bisnis cukup untuk membuat saham diburu investor.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026) sepanjang 2025, IHSG melesat 21,49% dan mencetak puluhan rekor tertinggi sepanjang masa. Reli tersebut tidak lepas dari meroketnya saham-saham yang terafiliasi dengan sejumlah konglomerat, mulai dari Prajogo Pangestu, Happy Hapsoro, keluarga Bakrie, Anthony Salim, hingga Haji Isam.

Sumber kekayaan Prajogo Pangestu (instagram/baritopacific.id)
Sumber kekayaan Prajogo Pangestu (instagram/baritopacific.id)

Saham-saham milik para taipan tersebut menjadi primadona di tengah perburuan investor terhadap emiten yang memiliki cerita ekspansi bisnis, mulai dari energi, pertambangan, infrastruktur, hingga perkebunan. Sejumlah saham bahkan mencatatkan kenaikan ratusan hingga ribuan persen dalam setahun.

Namun, pesta saham konglomerasi itu kini menghadapi ujian berat. Perubahan sikap penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI), terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan konsentrasi pemegang saham, menjadi titik balik bagi pasar modal Indonesia.

Rumor mengenai rencana Haji Isam membeli sekitar 62,2% saham BYAN menjadi katalis utama pergerakan saham. Spekulasi tersebut semakin ramai setelah adanya pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8). Desain Suara.com/AI
Haji Isam membeli sekitar 30% saham BYAN menjadi katalis utama pergerakan saham. Spekulasi tersebut semakin ramai setelah adanya pertemuan antara Haji Isam dan Low Tuck Kwong di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Sabtu (15/8). Desain Suara.com/AI

MSCI membekukan sementara sejumlah penyesuaian indeks saham Indonesia di tengah evaluasi terhadap transparansi data kepemilikan dan ketersediaan saham publik atau free float. Kebijakan tersebut membuat pasar menghadapi ketidakpastian, terutama bagi emiten yang memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi. MSCI juga menunda peningkatan sejumlah faktor inklusi saham Indonesia dalam indeksnya selama evaluasi berlangsung.

Tekanan tersebut turut memperburuk sentimen di pasar domestik. IHSG sempat mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt beberapa kali ketika tekanan jual meningkat tajam.

Persoalan yang semula terlihat teknis, yakni keterbukaan kepemilikan dan jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik, kemudian berkembang menjadi pertanyaan lebih besar: seberapa kuat fondasi kenaikan harga saham-saham konglomerasi selama ini?

Kini, berdasarkan data kinerja IHSG secara year to date (YtD) telah terkoreksi 31,47% sepanjang 2026. Sejumlah saham konglomerasi yang sebelumnya menjadi primadona ikut berguguran.

PT Petrosea Tbk (PTRO), yang terafiliasi dengan Grup Prajogo Pangestu, tercatat merosot 61,74%. Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro, turun 50,41%.

baca juga

Tekanan serupa dialami PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang merosot 54,37% dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang terkoreksi 49,55%. Angka tersebut menunjukkan betapa dalamnya pembalikan arah saham-saham yang sebelumnya menjadi bagian dari cerita reli pasar.

Koreksi saham-saham konglomerasi juga terlihat dalam perdagangan belakangan ini. Pada 12 Oktober 2026, saham PTRO dan BUMI kembali melemah tajam, sementara saham-saham Grup Barito dan Sinar Mas ikut tertekan.

Meski demikian, kejatuhan harga saham tidak otomatis berarti seluruh bisnis di baliknya kehilangan prospek. Setiap emiten memiliki kondisi keuangan, struktur utang, arus kas, prospek industri, dan strategi ekspansi yang berbeda. Karena itu, koreksi harga perlu dibedakan dari penurunan fundamental perusahaan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kalau Prabowo Batuk, Harga Saham dan Nilai Rupiah Anjlok

Kalau Prabowo Batuk, Harga Saham dan Nilai Rupiah Anjlok

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 13:17 WIB

IHSG Masih Lesu Bertahan di Level 5.900, Cek Saham ENRG

IHSG Masih Lesu Bertahan di Level 5.900, Cek Saham ENRG

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 09:18 WIB

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini dan Arus Dana Asing

Proyeksi Teknikal IHSG Hari Ini dan Arus Dana Asing

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 07:55 WIB

Terkini

DPR Minta Pemerintah Tak Sungkan Terima Bantuan Asing Atasi Karhutla: Ini Juga Tanggung Jawab Mereka

DPR Minta Pemerintah Tak Sungkan Terima Bantuan Asing Atasi Karhutla: Ini Juga Tanggung Jawab Mereka

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:43 WIB

BRI Tebar Diskon Rp50 Ribu di Jaringan Supermarket Premium SBL 2027

BRI Tebar Diskon Rp50 Ribu di Jaringan Supermarket Premium SBL 2027

Bri | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:41 WIB

Bukan Wajib Militer, Negara Justru Lebih Butuh Hacker dan Praktisi IT Buat Jadi 'Komcad'

Bukan Wajib Militer, Negara Justru Lebih Butuh Hacker dan Praktisi IT Buat Jadi 'Komcad'

Your Say | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:35 WIB

Cara Cek Keaslian SK ASN BKN Resmi Lewat Scan QR Code di HP, Ini Langkahnya

Cara Cek Keaslian SK ASN BKN Resmi Lewat Scan QR Code di HP, Ini Langkahnya

Lifestyle | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Didukung UU, KDMP Dipersilahkan Kelola Tambang

Didukung UU, KDMP Dipersilahkan Kelola Tambang

Bisnis | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Infinix Note 70 Pro Muncul di EEC, Diduga Bawa Baterai 7.000 mAh dan Layar 144 Hz

Infinix Note 70 Pro Muncul di EEC, Diduga Bawa Baterai 7.000 mAh dan Layar 144 Hz

Tekno | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:34 WIB

PT SIR Gugat Natura City soal Sengketa Lahan 14 Hektare di Bogor

PT SIR Gugat Natura City soal Sengketa Lahan 14 Hektare di Bogor

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:34 WIB

Lille Bermain Buruk Sebelum Calvin Verdonk Masuk, Ancelotti: Kami Tak Pantas Dibantai Arsenal

Lille Bermain Buruk Sebelum Calvin Verdonk Masuk, Ancelotti: Kami Tak Pantas Dibantai Arsenal

Bola | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:33 WIB

Kejagung Periksa Kajari Konawe Fachrizal Terkait Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

Kejagung Periksa Kajari Konawe Fachrizal Terkait Dugaan Penyalahgunaan Wewenang

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:33 WIB

PKS Dorong Pileg dan Pilpres Digelar Terpisah dalam Revisi UU Pemilu

PKS Dorong Pileg dan Pilpres Digelar Terpisah dalam Revisi UU Pemilu

News | Rabu, 14 Oktober 2026 | 15:33 WIB

×