Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Transformasi Tata Kelola Pupuk demi Petani

Fabiola Febrinastri, Tantri Amela Iskandar

Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:07 WIB
Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Pupuk Indonesia Transformasi Tata Kelola Pupuk demi Petani
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi dalam Agrifood Forum 2026 bertajuk “Swasembada Protein & Peluang Pangan Global”, Senin (19/10/2026). (Dok: Pupuk Indonesia)

Suara.com - Dua tahun pemerintahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menjadi momentum pembenahan tata kelola pupuk bersubsidi. Melalui penyederhanaan regulasi, penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar 20 persen, dan peningkatan alokasi pupuk bersubsidi, pemerintah memperkuat fondasi produktivitas pertanian demi mewujudkan swasembada pangan nasional berkelanjutan.
 
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Rahmad Pribadi dalam Agrifood Forum 2026 bertajuk “Swasembada Protein & Peluang Pangan Global”, Senin (19/10/2026). Ia pun memberikan apresiasi atas komitmen pemerintahan Prabowo Gibran. Kebijakan tersebut sekaligus sebagai bentuk keberpihakan nyata kepada petani.
 
“Sejak hari pertama, Presiden sudah menunjukkan komitmennya dalam mendorong ketahanan pangan nasional. Fokusnya jelas, yaitu meningkatkan produksi, dan salah satu kunci utamanya adalah memastikan pupuk tersedia dengan cukup dan harganya semakin terjangkau,” ujar Rahmad.
 
Ia menjelaskan, pupuk memiliki peran strategis karena menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Jika kebutuhan pupuk terpenuhi, petani memiliki dukungan yang lebih baik untuk meningkatkan hasil panen dan memperkuat produksi pangan nasional.
 
“Pupuk seperti senjata yang tidak perlu ditembakkan atau diledakkan, tetapi bisa meluluhlantakkan. Sebab, pupuk berada di sektor hulu yang berkaitan langsung dengan produktivitas,” jelasnya.
 
Untuk mendukung peningkatan produktivitas tersebut, pemerintah melakukan pembenahan tata kelola pupuk bersubsidi melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Pupuk Bersubsidi. Kebijakan ini menyederhanakan proses penyaluran pupuk dengan menghapus 145 aturan yang sebelumnya membelenggu tata kelolanya.
 
Rahmad mencontohkan, sebelum penyederhanaan dilakukan, pemindahan alokasi pupuk dari desa yang kelebihan stok ke desa yang kekurangan harus melalui birokrasi berjenjang. Proses persetujuan dari tingkat kecamatan hingga kementerian berpotensi memakan waktu lama, bahkan pupuk bisa tiba setelah musim panen berakhir.
 
“Sekarang, proses tersebut menjadi lebih sederhana sehingga pupuk bisa lebih mudah disalurkan kepada petani yang membutuhkan. Inilah bentuk pembenahan yang penting karena pupuk harus tersedia ketika petani membutuhkannya,” ungkap Rahmad.
 
Selain menyederhanakan regulasi, pemerintah meningkatkan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,8 juta ton. Penambahan alokasi ini memperkuat upaya pemenuhan kebutuhan pupuk bagi petani yang berhak menerima subsidi.
 
Keberpihakan pemerintah juga diwujudkan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025 yang memungkinkan Pupuk Indonesia beroperasi lebih efisien. Penghematan dari efisiensi tersebut dikembalikan kepada petani melalui penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen.
 
Rahmad menilai, penurunan harga pupuk tersebut merupakan langkah bersejarah bagi petani Indonesia. Berdasarkan pengalamannya, kebijakan ini menjadi momentum yang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap keterjangkauan sarana produksi pertanian.
 
“Sepanjang yang saya tahu, keluarga besar saya adalah petani, dan seumur saya tahu, harga pupuk tidak pernah turun. Baru kali ini saya melihat harga pupuk turun, sehingga keberpihakan Presiden Prabowo kepada petani sangat luar biasa,” katanya.
 
Menurut Rahmad, pupuk bersubsidi bukan sekadar sarana produksi, melainkan juga bentuk kehadiran negara dalam memberikan dukungan kepada petani yang membutuhkan. Karena itu, penyalurannya harus dilakukan secara adil dan tepat sasaran sesuai ketentuan penerima subsidi.
 
Untuk memastikan hal tersebut, Pupuk Indonesia terus memperkuat pengawasan distribusi melalui sistem digital yang terintegrasi. Melalui command center, perusahaan dapat memantau perjalanan pupuk sejak pengangkutan, proses bongkar muat, hingga penebusan oleh petani.
 
Pemantauan tersebut didukung teknologi GPS, CCTV, dokumentasi video, dan pencatatan penebusan yang dilengkapi foto penerima secara real-time. Dengan sistem ini, pergerakan pupuk dapat ditelusuri sehingga potensi penyimpangan dalam distribusi lebih mudah diketahui.
 
“Kalau ada distributor atau kios yang nakal, kami bisa segera mengambil tindakan. Sistem digital ini membantu kami mengawasi distribusi secara transparan dan memastikan pupuk sampai kepada petani yang berhak,” tegas Rahmad.
 
Ia menambahkan, keberhasilan tata kelola pupuk bersubsidi ditentukan oleh regulasi yang baik, pelaksanaan yang konsisten, serta data penerima yang terus diperbarui. Pupuk Indonesia berkomitmen menjalankan perannya agar kebijakan pemerintah dapat dirasakan manfaatnya secara nyata oleh petani.
 
Rahmad optimistis, pembenahan tata kelola pupuk akan terus mendukung peningkatan produksi pangan nasional. Dengan keberpihakan pemerintah, ketersediaan pupuk yang memadai, serta distribusi yang tepat sasaran, swasembada pangan diharapkan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
 
“Kita sudah melihat bukti nyata bahwa swasembada pangan tercapai. Dengan komitmen pemerintah dan kerja sama seluruh pihak, insya Allah swasembada ini akan berkelanjutan,” tutup Rahmad. ***

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Media Asing Soroti 2 Tahun Prabowo Gibran: Kontroversi MBG, Peran Wapres Dipertanyakan

Media Asing Soroti 2 Tahun Prabowo Gibran: Kontroversi MBG, Peran Wapres Dipertanyakan

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:10 WIB

Spanduk Raksasa Greenpeace di Bundaran HI, "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah"

Spanduk Raksasa Greenpeace di Bundaran HI, "Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah"

Foto | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:09 WIB

Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Eks KSAD Subagyo Hadi Siswoyo

Prabowo Beri Penghormatan Terakhir untuk Eks KSAD Subagyo Hadi Siswoyo

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:08 WIB

Sebut Rezim 'Gagal Total', Koalisi SADAR Beberkan 5 Rapor Merah Prabowo di Tugu Proklamasi

Sebut Rezim 'Gagal Total', Koalisi SADAR Beberkan 5 Rapor Merah Prabowo di Tugu Proklamasi

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 13:24 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, PKS Tegaskan Sikap Kritis, Konstruktif dan Solutif di Koalisi

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, PKS Tegaskan Sikap Kritis, Konstruktif dan Solutif di Koalisi

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:57 WIB

Harga Becak Listrik Prabowo Buatan Pindad Rp22 Juta Per Unit

Harga Becak Listrik Prabowo Buatan Pindad Rp22 Juta Per Unit

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:46 WIB

Terkini

BBRI Siap Buyback Saham Hingga Akhir 2026, Target Harga Rp4.050

BBRI Siap Buyback Saham Hingga Akhir 2026, Target Harga Rp4.050

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:05 WIB

BGN Nonaktifkan Kepala SPPG dan Korwil Purwakarta Usai Terlibat Perkelahian

BGN Nonaktifkan Kepala SPPG dan Korwil Purwakarta Usai Terlibat Perkelahian

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:05 WIB

3 Bedak Padat SPF 50 di Bawah Rp100 Ribu, Praktis Bantu Kulit Halau Sinar UV

3 Bedak Padat SPF 50 di Bawah Rp100 Ribu, Praktis Bantu Kulit Halau Sinar UV

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:05 WIB

Masjid Sidrotul Muntaha: Masjid Megah yang Tersembunyi di Bawah Tanah

Masjid Sidrotul Muntaha: Masjid Megah yang Tersembunyi di Bawah Tanah

Your Say | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Bagaimana Cara Memilih Shade Bedak Tabur untuk Kulit Sawo Matang agar Hasil Tidak Abu-Abu?

Bagaimana Cara Memilih Shade Bedak Tabur untuk Kulit Sawo Matang agar Hasil Tidak Abu-Abu?

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Mees Hilgers Bongkar Komunikasi Terbaru dengan John Herdman: Garuda is Calling

Mees Hilgers Bongkar Komunikasi Terbaru dengan John Herdman: Garuda is Calling

Bola | Selasa, 20 Oktober 2026 | 15:00 WIB

Tak Mau Dipanggil Ahjussi, Gong Yoo Minta Dipanggil Oppa di Fan Meeting Jakarta

Tak Mau Dipanggil Ahjussi, Gong Yoo Minta Dipanggil Oppa di Fan Meeting Jakarta

Entertainment | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:58 WIB

5 Saksi Dipanggil Terkait Kasus Pemotongan Upah Pungut di Bogor

5 Saksi Dipanggil Terkait Kasus Pemotongan Upah Pungut di Bogor

Bogor | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:57 WIB

Bedanya Bedak Tabur Marcks Active dan Marcks Breathable Powder, Mana yang Cocok untuk Anda?

Bedanya Bedak Tabur Marcks Active dan Marcks Breathable Powder, Mana yang Cocok untuk Anda?

Lifestyle | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:56 WIB

Berapa Harga BYD Racco di Luar China? Intip Banderol Mengejutkan Mobil Listrik Mungil Ini

Berapa Harga BYD Racco di Luar China? Intip Banderol Mengejutkan Mobil Listrik Mungil Ini

Otomotif | Selasa, 20 Oktober 2026 | 14:55 WIB

×