- CNGR berencana mengakuisisi 80 persen saham PT GNI yang diperkirakan rampung awal tahun depan.
- Aksi korporasi ini dilakukan saat PT GNI menghadapi krisis keuangan dan status PKPU di Jakarta Pusat.
- Akuisisi tersebut bertujuan memperkuat dominasi rantai pasok material baterai global milik perusahaan asal China tersebut.
Suara.com - Perusahaan material baterai global asal China, CNGR Advanced Material Co., Ltd., dikabarkan tengah berada dalam tahap pembicaraan intensif untuk mengakuisisi 80 persen kepemilikan saham PT Gunbuster Nickel Industry (GNI).
Berdasarkan informasi yang beredar, realisasi akuisisi ini diperkirakan dapat rampung pada awal tahun depan. Jadwal tersebut menyesuaikan dengan proses restrukturisasi utang smelter GNI—yang berada di bawah perintah dan pengawasan pengadilan—yang dijadwalkan berakhir pada periode waktu tersebut.
Langkah ekspansi CNGR ini dilakukan ketika GNI tengah menghadapi tekanan finansial yang berat. Saat ini, GNI berstatus dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) sementara di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.
Imbas dari krisis keuangan pada level induk usahanya, GNI sebelumnya terpaksa menutup sementara dua dari tiga lini operasional smelternya di Morowali Utara, serta melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan pekerjanya.
Sejumlah analis pasar memandang bahwa manuver akuisisi ini ibarat pedang bermata dua bagi CNGR. Di satu sisi, langkah ini dinilai berisiko tinggi karena CNGR harus mewarisi tumpukan kewajiban terhadap vendor dan kreditur GNI.
Namun di sisi lain, kondisi distressed asset (aset bermasalah) ini membuka peluang bagi CNGR untuk merampungkan akuisisi dengan valuasi harga yang jauh lebih terdiskon, sekaligus memperkuat dominasi rantai pasok mereka di Sulawesi.
Profil Global CNGR: Pemasok Utama Tesla hingga Samsung
Di kancah industri energi baru global, CNGR bukanlah nama sembarangan. Didirikan pada 2014 dan tercatat di Bursa Efek Shenzhen (kode saham: 300919) sejak Desember 2020, CNGR merupakan produsen material baterai yang berfokus pada komponen prekursor katoda untuk baterai lithium-ion, meliputi material berbasis nikel, kobalt, fosfor, hingga natrium.
Perusahaan ini menguasai pangsa pasar global dan telah menduduki peringkat pertama dalam volume pengiriman produk berbasis nikel dan kobalt selama lima tahun berturut-turut.
Produk inovatif mereka, seperti sintesa prekursor terner (pCAM) dan nikel elektrolitik, telah menjadi tulang punggung rantai pasok bagi raksasa otomotif dan elektronik dunia, termasuk Tesla, CATL, Panasonic, LG Chem, Samsung, dan BYD. Secara finansial, perusahaan mencatatkan kinerja yang solid dengan total aset mencapai RMB 73,02 miliar pada tahun 2024.
Indonesia memegang peran sentral dalam strategi globalisasi CNGR, khususnya dalam mengamankan bahan baku hulu. Jejak investasi CNGR di Indonesia sangat masif dan terintegrasi, membentang dari Sulawesi hingga Maluku Utara.
Di kawasan Morowali dan Morowali Utara, CNGR beroperasi melalui PT Zhongtsing New Energy, PT CNGR Ding Xing New Energy, serta PT Nadesico Nickel Industry. Di Weda Bay, mereka berekspansi lewat PT Debonair Nickel Indonesia dan PT Jade Bay Metal Industry.
Rencana jangka panjang perusahaan ini juga mencakup pembangunan Kawasan Industri Tekno Hijau Konasara (KITHK) di Konawe Utara, Sulawesi Tenggara, yang diproyeksikan menjadi pusat hilirisasi material energi terintegrasi.
Manuver bisnis CNGR juga merambah ke pasar modal Indonesia. Melalui anak usahanya, PT Eco Energi Perkasa (EEP), CNGR secara tidak langsung mengakuisisi emiten PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) yang sebagian besar sahamnya dikuasai H. Samsudin Andi Arsyad (Haji Isam).
Dalam menancapkan kuku bisnisnya, CNGR aktif menjalin kemitraan strategis dengan entitas lokal. Selain pernah menjajaki kerja sama pengembangan hilirisasi bijih nikel bersama PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (Antam), CNGR juga berkolaborasi dengan kelompok usaha Jhonlin milik pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad (Haji Isam).
Kemitraan ini terwujud melalui PT Anugerah Barokah Energy Baru (ABEB), yang mengelola pabrik prekursor baterai di KEK Setangga, Tanah Bumbu, dan telah diresmikan operasionalnya pada Januari 2026.
Sorotan dan Kritik Lingkungan
Kendati memiliki rekam jejak bisnis yang agresif dan mengkilap, operasional rantai pasok CNGR di Indonesia tidak lepas dari sorotan kritis. Sejumlah lembaga masyarakat sipil dan aktivis pemerhati lingkungan kerap menyoroti dampak ekologis di lingkar kawasan industri pengolahan nikel tempat CNGR bernaung, seperti di IMIP (Morowali) dan IWIP (Halmahera).
Isu-isu yang menjadi perhatian meliputi dugaan pencemaran udara yang memicu gangguan pernapasan masyarakat sekitar, polusi perairan, hingga degradasi wilayah pesisir dan penyusutan tutupan hutan.
Selain isu ekologis, CNGR juga sempat mendapat teguran dari kelompok masyarakat di Sulawesi Tenggara terkait dugaan kurangnya transparansi mengenai rencana pembangunan smelter dan pembebasan lahan yang dijanjikan.