- Kementerian Perindustrian mendorong teknologi ramah lingkungan dan target TKDN 40 persen untuk kapal rute perintis.
- Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyampaikan hal tersebut di Kantor Kemenperin, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026.
- Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas pembangunan kapal berdasarkan wilayah dan jenis kapal dalam periode tahun 2026 sampai 2030.
Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong penerapan teknologi ramah lingkungan dalam industri perkapalan nasional melalui penggunaan liquefied natural gas (LNG), liquefied petroleum gas (LPG), dan elektrifikasi kapal. Pengembangan tersebut diarahkan untuk mendukung industri kapal rute perintis dengan target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 40 persen.
Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, penerapan teknologi ramah lingkungan menjadi salah satu bagian dari arah pengembangan industri perkapalan nasional. Pemerintah juga mendorong peningkatan kapasitas produksi dan penggunaan komponen buatan dalam negeri.
"Sejalan dengan itu, penerapan teknologi ramah lingkungan seperti penggunaan LNG, LPG, dan elektrifikasi terus didorong untuk mendukung industri kapal rute perintis dengan target peningkatan TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) hingga 40 persen," ujar Sarmuji di Kantor Kemenperin, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Pengembangan industri perkapalan tersebut tidak hanya mencakup penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM), modernisasi fasilitas galangan, dan penguasaan teknologi.
"Pengembangan industri ini tidak hanya mencakup peningkatan kapasitas galangan dan kemampuan membangun berbagai jenis kapal, tetapi juga penguatan SDM, penguasaan teknologi, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta peningkatan penggunaan komponen dalam negeri," ujarnya.
Kementerian Perindustrian saat ini tengah menyiapkan peta jalan industri perkapalan nasional sebagai acuan pengembangan sektor tersebut. Pemerintah berharap masukan dari pelaku industri dapat membantu menyempurnakan arah pengembangan dan target yang disusun.
Pada periode 2026–2030, galangan kapal di luar Pulau Jawa diarahkan mampu membangun kapal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT). Sementara itu, galangan di Pulau Jawa dan Batam ditargetkan mampu membangun kapal hingga 50.000 DWT.
Kapasitas pembangunan kapal tanker juga ditargetkan mencapai 60.000 DWT, sedangkan kapal penumpang diarahkan mampu menampung hingga 2.000 orang.
"Hasilnya diharapkan menjadi dasar perumusan arah pengembangan dan target yang lebih terukur, realistis, serta sesuai dengan kebutuhan industri perkapalan nasional ke depan," ungkap Sarmuji.
Indonesia saat ini memiliki 342 perusahaan galangan kapal yang tersebar di lebih dari 29 provinsi dan 70 kabupaten/kota. Selain itu, terdapat 127 perusahaan komponen kapal yang sekitar 90 persennya merupakan usaha kecil dan menengah.