- Pemerintah Indonesia memilih pengembangan desain chip sebagai langkah awal strategis untuk masuk ke industri semikonduktor global.
- Kementerian Perindustrian mendirikan fasilitas ICDEC di Bandung pada Januari 2026 untuk memperkuat kolaborasi riset dan pendidikan talenta lokal.
- ICDEC menjalin kerja sama pelatihan dengan berbagai mitra internasional seperti Intel dan Apple guna memperluas rantai pasok teknologi.
Suara.com - Indonesia memilih pengembangan desain chip sebagai langkah awal untuk masuk ke industri semikonduktor global. Strategi ini ditempuh di tengah meningkatnya kebutuhan chip dunia dan keterbatasan kapasitas fabrikasi wafer di dalam negeri.
Semikonduktor atau chip kini menjadi komponen penting bagi berbagai sektor industri, mulai dari otomotif, telekomunikasi, energi, dirgantara, hingga kecerdasan buatan (AI). Ketergantungan terhadap komponen ini membuat kemampuan mengembangkan teknologi semikonduktor menjadi salah satu faktor yang menentukan daya saing industri suatu negara.
Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk membangun industri semikonduktor secara mandiri. Salah satunya adalah belum tersedianya kapasitas fabrikasi wafer, sehingga pemerintah memilih desain chip sebagai pintu masuk yang dinilai lebih realistis untuk dikembangkan pada tahap awal.
Mantan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita (AGK) sebelumnya menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor semikonduktor. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal penting bagi pengembangan ekosistem industri semikonduktor nasional.
Menurut AGK, pengembangan industri ini perlu dilakukan melalui langkah konkret dan bertahap, dengan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi desain chip.
![Ilustrasi chipset. [Unsplash]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/06/20/55978-ilustrasi-chipset.jpg)
"Fokus awal kami adalah menyiapkan SDM yang mampu mendesain chip," ujar AGK seperti dikutip, Kamis (22/10/2026).
Desain chip dipilih karena merupakan segmen bernilai tambah tinggi yang bertumpu pada kemampuan sumber daya manusia. Melalui pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan dapat membangun kompetensi teknologi sebelum melangkah ke tahapan industri yang lebih kompleks.
Pemerintah sebelumnya telah menyusun peta jalan semikonduktor yang mencakup empat pilar, yakni material, desain, fabrikasi, perakitan, pengujian, dan pengemasan. Pengembangan desain chip dan talenta ditempatkan sebagai penggerak tahap awal.
AGK menegaskan bahwa pembangunan industri semikonduktor tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi membutuhkan konsistensi dan kesinambungan.
Salah satu upaya untuk mengembangkan kemampuan desain chip di Indonesia dilakukan melalui pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC) pada 2023.
ICDEC diprakarsai Kementerian Perindustrian bersama PT Hartono Istana Teknologi atau Polytron dan pakar desain chip dari 13 perguruan tinggi di Indonesia. Organisasi nirlaba ini dibentuk untuk mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan mitra global.
Saat ini, ICDEC bermitra dengan 16 perguruan tinggi dan tujuh pelaku industri. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan talenta desain chip yang dapat berkontribusi dalam rantai pasok semikonduktor global.
Pada Januari 2026, AGK meresmikan fasilitas ICDEC di ITB Innovation Park, Bandung, bersamaan dengan penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026.
Tiga bulan kemudian, ICDEC menandatangani kerja sama dan surat minat pengembangan sumber daya manusia dengan Intel, National Taiwan Normal University, dan President University.
Upaya pengembangan talenta juga dilakukan melalui pelatihan desain chip bersama Polytron, IMEC Belgia, dan Cadence yang dimulai pada Oktober 2024 di Kudus. Selain itu, Kementerian Perindustrian menandatangani nota kesepahaman dengan Apple yang memuat komitmen riset dan pengembangan di Indonesia melalui ICDEC.