- Kajian Cochrane Library pada 26 Agustus 2026 menyatakan rokok elektronik nikotin efektif membantu perokok dewasa berhenti merokok.
- Penelitian melibatkan 29.861 peserta menunjukkan tingkat keberhasilan rokok elektronik lebih tinggi daripada terapi pengganti nikotin konvensional.
- Data penjualan belum cukup menyimpulkan peralihan ke vape menekan permintaan rokok konvensional atau mendongkrak industri alternatif.
Suara.com - Perkembangan produk tembakau alternatif, seperti rokok elektronik atau vape, berpotensi memengaruhi persaingan industri tembakau seiring munculnya bukti ilmiah mengenai perannya dalam membantu perokok dewasa berhenti merokok.
Kajian sistematis terbaru yang diterbitkan di Cochrane Library pada 26 Agustus 2026 menunjukkan rokok elektronik yang mengandung nikotin memiliki tingkat keberhasilan lebih tinggi dalam membantu perokok dewasa berhenti merokok dibandingkan terapi pengganti nikotin, seperti koyo dan permen karet nikotin.
Kajian berjudul Electronic Cigarettes for Smoking Cessation tersebut menganalisis 80 uji klinis acak yang melibatkan 29.861 peserta. Dari jumlah itu, sembilan merupakan studi baru yang dimasukkan dalam pembaruan kajian.
Temuan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam melihat perkembangan produk tembakau alternatif. Namun, kajian ini berfokus pada keberhasilan berhenti merokok dan tidak secara langsung mengukur dampaknya terhadap penjualan rokok konvensional, pangsa pasar vape, maupun kinerja industri tembakau.
Peneliti dari University of Massachusetts Amherst, Jamie Hartmann-Boyce, mengatakan hasil kajian menunjukkan konsistensi bukti mengenai potensi rokok elektronik untuk membantu perokok berhenti.

"Berdasarkan konsistensi temuan di sini, jelas rokok elektronik merupakan opsi yang terbukti dan layak bagi orang-orang yang berhenti dari rokok. Pembaruan ini mencakup 9 uji klinis baru dan kesimpulan utama kami tidak berubah," ujar Jamie Hartmann-Boyce, dikutip Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan kajian tersebut, sekitar 8 hingga 10 dari setiap 100 pengguna rokok elektronik bernikotin berhasil berhenti merokok selama sedikitnya enam bulan. Sementara itu, tingkat keberhasilan pada pengguna terapi pengganti nikotin mencapai sekitar 6 dari 100 orang.
Adapun di antara perokok dewasa yang tidak mendapatkan dukungan atau hanya memperoleh dukungan perilaku, sekitar 5 dari 100 orang berhasil berhenti merokok.
Perbedaan tingkat keberhasilan tersebut memperlihatkan adanya alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam upaya membantu perokok dewasa berhenti. Meski demikian, data itu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa peralihan ke vape akan meningkatkan penjualan produk alternatif atau menekan permintaan rokok konvensional.
Penulis utama kajian, Nicola Lindson dari University of Oxford, Inggris, menilai ketersediaan berbagai pilihan dapat membantu perokok dewasa yang mengalami kesulitan untuk berhenti.
"Penting untuk menyediakan berbagai pilihan berbeda yang dapat membantu seseorang beralih, yang bisa mendorong mereka untuk terus mencoba. Produk ini lebih rendah bahayanya dari rokok dan itulah perbandingan paling penting bagi orang-orang yang masih merokok," jelasnya.
Dalam konteks industri, perkembangan pilihan produk tersebut membuka ruang untuk membahas bagaimana perubahan perilaku konsumen dapat memengaruhi persaingan antara rokok konvensional dan produk tembakau alternatif. Namun, besarnya peluang pasar tetap perlu dilihat melalui data penjualan, jumlah konsumen, harga produk, serta perkembangan regulasi.
Kajian tersebut juga menekankan bahwa temuan yang diperoleh berlaku secara spesifik pada rokok elektronik teregulasi yang mengandung nikotin, bukan seluruh produk vape yang beredar.
"Perlu ditekankan bahwa tinjauan kami dilakukan pada rokok elektronik teregulasi yang mengandung nikotin," bebernya.
Peneliti juga menyatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dampak penggunaan rokok elektronik dalam jangka panjang. Dengan demikian, temuan mengenai keberhasilan membantu perokok berhenti tidak dapat dimaknai sebagai bukti bahwa vape bebas risiko.
Akademisi Universitas Padjadjaran, Indra Mustika, mengatakan hasil kajian tersebut menunjukkan adanya bukti yang cukup kuat mengenai potensi vape dalam membantu perokok dewasa beralih dari kebiasaan merokok.
"Bagi perokok dewasa yang belum berhasil berhenti merokok, informasi mengenai berbagai alternatif yang tersedia perlu disampaikan berdasarkan bukti ilmiah agar mereka dapat mengambil keputusan yang lebih tepat," pungkasnya.