Akhir-akhir kualitas udara di DKI Jakarta tengah jadi sorotan. Kualitas udara di Jakarta memburuk akhir-akhir ini.
Viral di laman sosial media bagaiaman kondisi udara di Jakarta seperti berkabut karena dipenuhi dengan polusi.
Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Asep Kuswanto, salah satu penyebab kualitas udara memburuk akhir-akhir ini lantaran musim kemarau.
"Memang Juli hingga September biasanya musim kemarau sedang tinggi-tingginya. Sehingga berakibat pada kualitas udara menjadi kurang baik," kata Asep.
Pihak Dinas Lingkungan Hidup Jakarta pun menyiapkan tiga langkah strategis untuk menekan kendalikan polusi udara ini.
Pertama, pihak Dinas Lingkungan Hidup Jakarta akan siapkan regulasi dan kebijakan. Selanjutnya, pengurangan emisi pencemaran udara salah satunya dengan menggencarkan uji emisi dan penggunaan transportasi umum.
Ketiga, pihak Dinas Lingkungan Hidup memberikan imbauan agar warga mengecek kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), atau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Sementara itu, Plt Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Ardhasena Sopaheluwakan menerangkan soal memburuknya udara di Jakarta disebabkan siklus harian yang memengaruhi tingkat polusi udara di Jakarta.
Polusi pekat secara visual disebutnya jadi lebih terlihat pada musim kemarau, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta. Menurutnya, siklus kualitas udara seperti ini telah terjadi sejak lama.
"Perlu dicermati bahwa kondisi kualitas udara itu ada siklus hariannya. Pada saat lepas malam hari hingga dini dan hari cenderung lebih tinggi dari pada siang hingga sore," ujar Ardhasena dalam konferensi pers di kantor KLHK, Jakarta Timur.