Lapangan dan Taktik, Kunci Persija untuk Taklukkan Home United

Syaiful Rachman
Lapangan dan Taktik, Kunci Persija untuk Taklukkan Home United
Sejumlah pemain Persija Jakarta menjalani latihan perdana jelang pertiandingan musim 2019 di Lapangan Aldiron, Jakarta, Senin (7/1/). [ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan]

Persija akan menghadapi Home United di Singapura.

Suara.com - Bukan hal mudah bagi Persija Jakarta untuk bisa menaklukkan Home United pada laga tandang kualifikasi Liga Champions Asia (LCA) 2019 yang berlangsung di Stadion Jalan Besar, Kallang, Singapura, Selasa (5/2), mulai pukul 18.30 WIB.

Untuk menang, setidak-tidaknya, klub berjuluk Macan Kemayoran itu harus memperhatikan secara saksama dua hal berikut. Pertama, tentu saja kondisi lapangan Jalan Besar yang terbuat dari rumput buatan atau artifisial. Kedua, soal taktik.

Terkait rumput Jalan Besar, Persija sudah merasakannya ketika mereka melawat ke Jalan besar di semifinal zona ASEAN Piala AFC 2018. Hasilnya, Persija kalah 2-3 dan akhirnya harus tersingkir setelah takluk 1-3 di leg kedua di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Lapangan dengan rumput artifisial atau sering pula disebut lapangan sintetis memiliki karakteristik berbeda dengan lapangan berumput alami yang lazim dipakai di Indonesia.

Rumput sintetis di lapangan sepak bola biasanya terbuat dari serat nilon. Ciri khas kasat mata, lapangan sintetis memiliki permukaan yang datar dan rata karena seluruh rumput memiliki ketinggian yang persis sama.

Lapangan baru Persija di Aldiron, Pancoran, Jakarta Selatan (Suara.com/ Adit Rianto/ Peter Rotti)
Lapangan baru Persija di Aldiron, Pancoran, Jakarta Selatan (Suara.com/ Adit Rianto/ Peter Rotti)

Ini yang membuat pemain sepak bola harus pandai-pandai memiliki sepatu yang bisa membuat kakinya mencengkram lapangan dengan baik supaya tidak terpeleset. Selain itu, mereka juga harus sedikit menyesuaikan teknik bermain karena permukaan yang nyaris tanpa ganjalan membuat bola mengalir lebih cepat.

Kondisi ini sering kali menyebalkan bagi para pesepak bola yang tidak terbiasa bermain di atas rumput artifisial.

Penelitian tiga ilmuwan yaitu Helena Andersson, Bjorn Ekblom (dari Swedia) dan Peter Krustrup (Denmark) terhadap 72 pesepak bola elit Swedia, yang dituangkan dalam laporan ilmiah "Elite football on artificial turf versus natural grass: Movement patterns, technical standards, and player impressions" yang dimuat dalam Journal of Sports Sciences (2008), mengungkapkan bahwa pesepak bola yang kerap bermain di lapangan konvensional merasa bahwa bermain di atas rumput sintetis lebih sulit secara fisik dan teknik.

Dari sisi teknik, para pemain mengakui lebih susah mengendalikan, berlari tanpa bola, mengirimkan umpan yang tepat dan menendang bola di lapangan sintetis.

Sejumlah pesepak bola Persija Jakarta mengikuti latihan di Lapangan Wisma Aldiron, Pancoran, Jakarta, Senin (7/1).  [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]
Sejumlah pesepak bola Persija Jakarta mengikuti latihan di Lapangan Wisma Aldiron, Pancoran, Jakarta, Senin (7/1). [ANTARA FOTO/Galih Pradipta]

Lalu, bermain di rumput artifisial lebih berisiko menimbulkan cedera. Itu terlihat berdasarkan penelitian, para pesepak bola elit lebih sedikit melakukan "sliding tackle" karena khawatir cedera.

Pemain takut menderita luka yang perih (burns) di kakinya akibat bergesekan dengan "rumput" serat nilon. Laman Duke University, Amerika Serikat, juga menyebut bahwa kemungkinan terjadinya cedera lutut ACL, merujuk penelitian terkait "American football", lebih tinggi di lapangan buatan daripada rumput alami.

Kondisi-kondisi inilah yang mau tak mau harus dihadapi Persija ketika bertandang ke markas Home United. Jika sukses menangkal semuanya, Persija bisa saja menaklukkan tuan rumah. Apalagi ditambah dengan taktik yang jitu, probabilitas berjaya akan lebih besar.

Taktik Pelatih Persija Ivan Kolev merasa yakin timnya kini sudah berbeda dibandingkan ketika disingkirkan Home United di Piala AFC 2018. Salah satu bedanya adalah penunjukan dirinya sebagai pelatih anyar sejak tahun 2019, menggantikan Stefano "Teco" Cugurra.

Pelatih anyar Persija Jakarta, Ivan Kolev, memimpin latihan perdana skuat asuhannya di Lapangan PS AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (16/1/2019). [Dok. Media Persija]
Pelatih anyar Persija Jakarta, Ivan Kolev, memimpin latihan perdana skuat asuhannya di Lapangan PS AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (16/1/2019). [Dok. Media Persija]

Namun sejatinya, praktis hanya pergantian pelatih yang membuat Persija menjadi berbeda. Dari sisi pemain dan taktik, hampir tidak perubahan sejak Teco masih berkuasa.

Soal pemain, hampir semua pemain Persija merupakan pemain yang sama pada tahun 2018, terutama pemain andalan mereka seperti Marco Simic, Riko Simanjuntak, Ismed Sofyan dan Ramdani Lestaluhu.

Adapun nama baru di Persija adalah Alberto "Beto" Goncalves yang bersama Jaimerson da Silva dipinjam dari Madura United untuk menambal tim Macan Kemayoran. Satu lagi pemain pinjaman jangka pendek ini adalah gelandang Rishadi Fauzi.

Sayangnya, Jaimerson da Silva, bek andalan Persija di tahun 2018, diprediksi tidak tampil kontra Home United karena masih menjalani hukuman kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Home United di Piala AFC pada 15 Mei 2018.

Ketiga pemain didatangkan karena Persija tidak dapat menurunkan tiga pemain asing barunya yakni Vinicius Lopes Laurindo, Bruno Oliviera de Matos dan Jakhongir Abdumuminov di kualifikasi Liga Champions Asia 2019. Mereka terganjal masalah sertifikat transfer internasional (ITC).

Berkaca dari dua pertandingan kontra 757 Kepri Jaya di 32 besar Piala Indonesia 2018-2019, Persija di bawah kendali Ivan Kolev tetap menampilkan apa yang ditunjukkan Persija-nya Teco.

Macan Kemayoran setia dengan formasi empat bek, tiga gelandang, dua pemain cepat dan satu penyerang tengah. Nyaris tak ada nama baru di sana kecuali Beto dan Rishadi Fauzi.

Serangan tetap bertumpu pada sisi sayap di mana di sana ada Riko Simanjuntak dan Novri Setiawan. Penyerang tengah, tentu saja diisi striker asal Kroasia Marko Simic, dibantu Beto yang diyakini menjadi cadangan.

Di sektor gelandang, tidak ada lagi sosok tangguh Rohit Chand. Akan tetapi, Persija masih memiliki pilihan seperti Ramdani Lestaluhu, Sandi Sute, Tony Sucipto dan Fitra Ridwan.

Untuk bek, Persija tidak diperkuat bek kiri Muhammad Rezaldi Hehanussa yang cedera. Posisi Rezaldi kemungkinan diisi pemain berpengalaman Tony Sucipto yang memang andal mengisi beberapa posisi. Lalu ada pula Ismed Sofyan di kanan dan duet Maman Abdurrahman dan Ryuji Utomo di bek tengah.

Sementara gawang Persija hampir pasti diisi oleh kiper tim nasional Indonesia Andritany Ardhiyasa.

Dengan taktik dan susunan pemain yang hampir serupa dengan 2018, Persija sepertinya mesti bergantung pada individu yang dapat mengubah keadaan.

Di sini, Alberto "Beto" Goncalves bisa sangat berpengaruh. Dengan pengalamannya, penyerang timnas Indonesia berusia 38 tahun ini dapat memberikan opsi berbeda jika penyerang utama Marko Simic menemui jalan buntu.

Bersamaan dengan itu, Persija harus mewaspadai pemain kunci Home United seperti Adam Swandi, pemain 23 tahun yang menjadi pemain muda terbaik Liga Utama Singapura tahun 2018.

Kalau berhasil mengalahkan Home United, Persija akan menghadapi tim asal Australia Newcastle Jets pada Selasa (12/2/2019) di kualifikasi kedua Liga Champions Asia. Apabila kalah, Persija otomatis bermain di babak grup Piala AFC 2019.

Seandainya menaklukkan Newcastle, Persija selanjutnya bertemu klub Liga Jepang Kashima Antlers pada Selasa (19/2/2019) di fase playoff, yang menjadi penentu apakah Persija berhak bermain di fase grup Liga Champions Asia 2019 atau tidak. (Antara)

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS