- Kegagalan Timnas Indonesia lolos Piala Dunia 2026 sangat menyedihkan bagi pemain seperti Miliano Jonathans.
- Langkah tim terhenti di putaran keempat setelah menelan dua kekalahan telak dari Arab Saudi dan Irak.
- Meskipun kapten mencoba membangkitkan moral, kekecewaan mendalam sulit diatasi oleh para pemain.
Suara.com - Kegagalan menyakitkan Timnas Indonesia untuk melaju ke Piala Dunia 2026 menyisakan luka mendalam bagi para pemain tak terkecuali bagi winger andalan, Miliano Jonathans.
Ia secara terbuka mencurahkan isi hatinya, menggambarkan betapa hancurnya suasana di ruang ganti setelah mimpi terbesar mereka pupus.
Langkah skuad Garuda yang begitu menjanjikan harus terhenti di putaran keempat setelah menelan dua kekalahan dari Arab Saudi dan Irak.
Bagi Miliano, kekecewaan ini memicu sebuah refleksi personal yang menghantui.
Ia dan rekan-rekannya terus memutar ulang momen-momen di lapangan, mencari apa yang seharusnya bisa mereka lakukan dengan lebih baik.
"Semua orang benar-benar kecewa. Kamu mulai memikirkan momen-momen seperti, 'Apa yang bisa aku lakukan lebih baik untuk membantu tim?' dan rasanya sangat menyedihkan," kata Miliano Jonathans dilansir dari kanal YouTube FC Utrecht.
Di tengah suasana yang begitu muram, sang kapten, Jay Idzes mencoba untuk mengangkat kembali moral tim.
Namun menurut Miliano, nasi sudah menjadi bubur. Kata-kata penyemangat seolah tak mampu lagi mengobati luka yang begitu dalam.
"Tentu saja, kapten atau pelatih mengatakan beberapa hal, tapi ya, sudah terlambat," jelas Miliano Jonathans.
Baca Juga: Siapa Danilson Soares Silva? Rekan Joshua Zirkzee di Feyenoord yang Siap Bela Timnas Indonesia
"Sungguh disayangkan, semua orang merasa sangat sedih," ujarnya.
Miliano sadar, kegagalan ini bukan hanya pukulan bagi para pemain muda seperti dirinya yang masih punya kesempatan di masa depan.
Ini adalah akhir dari sebuah mimpi bagi beberapa pemain senior yang mungkin tidak akan lagi mendapatkan kesempatan serupa.
Ia juga sangat memahami betapa hancurnya perasaan para suporter yang telah menaruh harapan begitu besar, terutama setelah serangkaian hasil minor di bawah era Patrick Kluivert.
"Jujur saja, dia sebenarnya cukup tenang tentang hal itu. Tapi semua orang lain benar-benar hancur dan siapa tahu mungkin beberapa tahun lagi kita akan mendapat kesempatan lain. Tetap saja, ini pukulan berat bagi semua orang dan terutama bagi para pendukung," katanya.
Di akhir curhatnya, Miliano menunjukkan sportivitas yang luar biasa. Ia tak lupa mendoakan rekan setimnya di FC Utrecht yang juga rivalnya di level tim nasional, Zidane Iqbal yang akan melanjutkan perjuangan bersama Irak di babak playoff.