- Timnas Indonesia senior gagal lolos ke Piala Dunia 2026 usai kalah dari Arab Saudi dan Irak di putaran keempat, yang berujung pada pemecatan Patrick Kluivert.
- Timnas U-20 tersingkir di fase grup Piala Asia U-20 2025 akibat masalah penyelesaian akhir dan kalah bersaing dengan tim kuat seperti Iran serta Uzbekistan.
- Kegagalan beruntun dialami skuad muda, mulai dari gagal lolos Piala Asia U-23 hingga tersingkir tragis di fase grup SEA Games 2025 level U-22.
Suara.com - Tahun 2025 telah berlalu dengan menyisakan sejumlah catatan kelam bagi perjalanan Timnas Indonesia yang diharapkan tidak terulang pada tahun 2026 ini.
Refleksi mendalam menjadi hal wajib bagi PSSI dan seluruh elemen tim nasional agar kesalahan fatal di masa lalu dapat diperbaiki demi prestasi yang lebih baik.
Sepanjang tahun lalu, publik sepak bola Tanah Air dipaksa menelan pil pahit akibat rentetan hasil buruk yang terjadi di hampir semua level usia tim nasional.
Momen paling menyedihkan pertama adalah kegagalan Timnas Indonesia senior untuk mencetak sejarah lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Harapan besar yang sempat melambung tinggi harus kandas di putaran keempat kualifikasi setelah Skuad Garuda tak berdaya menghadapi tekanan lawan.
Dua kekalahan menyakitkan di Jeddah saat melawan Arab Saudi dan Irak menjadi kuburan bagi mimpi Indonesia untuk tampil di panggung dunia.
Hasil minor tersebut berdampak fatal hingga berujung pada pemutusan kerja sama antara PSSI dengan pelatih kepala saat itu, Patrick Kluivert.
Hal menyedihkan kedua datang dari performa Timnas Indonesia U-20 yang tampil mengecewakan pada ajang Piala Asia U-20 2025.
Pasukan Garuda Muda harus angkat koper lebih awal karena gagal lolos dari fase grup setelah ditundukkan oleh Iran dan Uzbekistan.
Baca Juga: Fakta Lengkap Skandal Drone John Herdman, Calon Pelatih Timnas Indonesia
Hasil imbang tanpa gol melawan Suriah pada turnamen tersebut semakin mempertegas masalah tumpulnya penyelesaian akhir para pemain muda.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi federasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas kompetisi usia muda sebagai kawah candradimuka pemain.
Poin ketiga yang melengkapi duka sepak bola nasional adalah kegagalan beruntun yang menimpa Timnas Indonesia di level U-23 dan U-22.
Timnas U-23 gagal memaksimalkan momentum setelah hanya mampu menjadi runner-up di Piala AFF U-23 dan gagal total menembus putaran final Piala Asia U-23.
Puncak dari segala kekecewaan terjadi di ajang SEA Games 2025, di mana Timnas Indonesia U-22 harus tersingkir secara tragis di fase grup.
Deretan kegagalan ini menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus diselesaikan agar tahun 2026 bisa menjadi titik balik kebangkitan Skuad Garuda.