-
Pemain keturunan Timnas Indonesia berbondong-bondong pindah ke Super League karena gaji besar.
-
Pengamat menilai perpindahan dari Eropa ke Indonesia sebagai kemunduran kualitas karier pemain.
-
Kebutuhan menit bermain reguler menjadi alasan kuat pemain diaspora memilih klub lokal.
Kesit Budi Handoyo menyayangkan langkah para pemain diaspora yang memilih bermain di liga domestik Indonesia saat ini.
Beliau memandang bahwa keputusan berpindah ke klub lokal merupakan sebuah langkah mundur bagi perkembangan kualitas individu pemain.
"Kalau mau dikatakan apakah ini jadi kemunduran karier buat mereka, kalau menurut saya, ya suka tidak suka, itu kemunduran buat mereka," kata Kesit kepada Suara.com, Rabu (4/2/2026).
Sebelum memutuskan pindah ke Indonesia, mayoritas dari pemain-pemain tersebut memiliki pengalaman merumput di liga-liga Eropa.
Tercatat hanya Shayne Pattynama yang sebelumnya bermain di Asia Tenggara bersama klub raksasa Thailand, Buriram United.
Secara objektif kualitas kompetisi di negeri gajah putih masih dianggap berada di atas level sepak bola Indonesia.
Perbedaan standar ini menjadi semakin mencolok jika membandingkan liga lokal dengan iklim sepak bola di benua biru.
"Karena level dari kompetisi di mana para pemain diaspora ini saat ini bermain itu kan beda levelnya dengan kompetisi di Indonesia," tegasnya.
Kesit mengingatkan bahwa secara prestasi di level regional saja Indonesia masih tertinggal cukup jauh dari para pesaing.
Baca Juga: Punya 21 Caps Timnas Indonesia, Pemain Keturunan Rp 12,17 Miliar Cetak Gol Bantai Klub Filipina
Indonesia dinilai belum mampu menyaingi stabilitas dan kualitas liga yang dimiliki oleh negara seperti Thailand maupun Vietnam.
Kesenjangan kualitas yang lebar antara Eropa dan Indonesia membuat kepindahan ini sulit diterima dari sisi teknis olahraga.
"Kita di ASEAN saja masih kalah sama Thailand, iya kan? Kita masih kalah sama Vietnam. Jadi kalau di Eropa kan kita tahu kualitas kompetisinya memang sudah bagus."
Oleh sebab itu, perpindahan pemain dari luar negeri ke liga domestik dianggap sebagai sebuah degradasi profesionalitas secara kompetitif.
"Kalau kemudian para pemain diaspora Indonesia hijrah bermain di klub-klub Liga Indonesia, ya lagi-lagi menurut saya itu sebuah kemunduran," ia menambahkan.
Faktor jam terbang atau kesempatan bermain yang terbatas di klub lama ditengarai menjadi pemicu utama keputusan mereka.