- Timnas Maroko akan menghadapi Belanda pada babak 32 besar Piala Dunia 2026 di kota Monterrey.
- Banyak pemain kunci Maroko lahir dan berkembang di Belanda, menciptakan tensi serta kedekatan kultur sepak bola.
- Pelatih Belanda, Ronald Koeman, mewaspadai kualitas permainan Maroko meski Belanda menunjukkan performa solid sepanjang fase grup.
Dominasi pemain berdarah Belanda dalam skuad Maroko juga membuat kedua tim saling mengenal karakter permainan masing-masing.
Isu Loyalitas Kembali Mengemuka
Skuad Maroko di Piala Dunia 2026 diperkuat sejumlah pemain yang memiliki keterkaitan dengan Belanda, seperti Sofyan Amrabat, Noussair Mazraoui, hingga bek PSV Eindhoven, Anass Salah-Eddine.
Keputusan sejumlah pemain keturunan memilih membela Maroko kerap memicu perdebatan mengenai loyalitas di kalangan masyarakat Belanda.
Mantan bintang Timnas Belanda, Rafael van der Vaart, bahkan sempat melontarkan komentar kontroversial terkait fenomena tersebut.
"Saya tidak bermaksud kasar, tapi semua orang Maroko di sini yang tidak cukup baik untuk bermain bagi Belanda, mereka akan bermain untuk Maroko," ungkap Rafael van der Vaart.
Van der Vaart mengaku sebenarnya sangat berharap pemain seperti Hakim Ziyech pernah memilih membela Belanda pada masa jayanya.
Antusiasme besar pendukung Maroko di berbagai kota di Belanda setiap kali tim mereka meraih kemenangan juga membuat aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan.
Pihak kepolisian setempat telah mengeluarkan imbauan agar masyarakat tetap menjaga ketertiban selama pertandingan yang dijadwalkan berlangsung pada dini hari.
Monterrey akan menjadi saksi apakah kedekatan budaya dan sepak bola kedua negara menjadi keuntungan bagi Belanda atau justru menguntungkan Maroko.
Pemenang laga ini sudah ditunggu lawan di babak 16 besar yang akan berlangsung di Houston pada 4 Juli mendatang. Dengan kualitas kedua tim yang relatif berimbang, duel ini diprediksi menjadi salah satu pertandingan paling menarik di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
