- Kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026 memicu krisis tata kelola serta investigasi pemerintah terhadap Asosiasi Sepak Bola Korea.
- Pelatih Hong Myung-bo resmi mengundurkan diri setelah menghadapi gelombang protes keras dari publik atas buruknya performa tim.
- Pemerintah menyelidiki transparansi federasi karena adanya dugaan pelanggaran prosedur dalam penunjukan pelatih serta masalah integritas internal organisasi.
Pakar Asia dari ESPN, Han Na Kim, menilai reaksi keras publik Korea Selatan bukan sekadar emosi akibat kekalahan.
“Masyarakat melihat ini sebagai masalah sosial dan politik, bukan hanya soal hasil pertandingan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kritik terhadap federasi dan pelatih dianggap sebagai bagian dari partisipasi warga.
“Di Korea, menuntut akuntabilitas dalam olahraga adalah bentuk nyata dari praktik demokrasi,” katanya.
Selain faktor internal, tekanan juga datang dari perkembangan rival regional.
Jepang dinilai lebih cepat berkembang dan tampil kompetitif di level dunia, memperbesar rasa frustrasi publik Korea Selatan.
Padahal, Korea Selatan memiliki banyak pemain yang berkarier di klub elite Eropa, seperti Kim Min-jae di Bayern Munchen dan Lee Kang-in di PSG.
Ditambah lagi sosok senior Son Heung-min, yang kemungkinan menjalani Piala Dunia terakhirnya pada 2026.
