- Timnas Indonesia akan menghadapi Qatar, Thailand, dan Jepang di Grup F Piala Asia 2027 di Arab Saudi.
- Media Jepang menyoroti kelemahan taktik timnas mereka dalam mengatasi strategi bola panjang dan duel fisik lawan.
- Meskipun diperkuat pemain liga top Eropa, Jepang masih kesulitan mengubah pendekatan permainan saat ditekan lawan.
Suara.com - Lupakan juara FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia saat ini harus mulai fokus pada perhelatan yang jauh lebih bergengsi Piala Asia 2027.
Piala Asia 2027 bakal berlangsung 7 Januari sampai 5 Februari 2027 di Arab Saudi.
Di Piala Asia 2027, Timnas Indonesia tergabung di grup F bersama tiga tim kuat.
Anak asuh John Herdman setim dengan Qatar, Thailand yang dikalahkan di final FIFA ASEAN Cup 2026, serta kekuatan Asia, Jepang.
Nah negara terakhir jadi tim yang akan sangat menyulitkan Timnas Indonesia.
Bukan bermaksud meremehkan Qatar dan Thailand, namun melawan Jepang jadi tantangan terbesar buat Jay Idzes dkk.
Lantas apakah Timnas Indonesia mampu bisa mengimbangi atau bahkan mengalahkan Jepang di Piala Asia 2027?

Timnas Jepang pernah datang ke Piala Asia dengan status sebagai salah satu favorit utama berkat komposisi pemain yang berkarier di liga-liga top Eropa.
Namun, kekuatan individu tersebut tidak otomatis membuat Samurai Biru mudah mengatasi lawan-lawan Asia.
Analisis yang dimuat media Jepang menyoroti persoalan taktik sebagai salah satu faktor utama.
Jepang dinilai kesulitan menghadapi permainan bola panjang, duel udara, perebutan bola kedua, hingga perubahan strategi lawan sepanjang pertandingan.
Salah satu persoalan paling mencolok muncul ketika Jepang berhadapan dengan tim yang mengandalkan umpan panjang dan duel fisik.
Hal itu terlihat pada Piala Asia 2023 saat Jepang menghadapi Iran di babak knock out.
Dalam laga melawan Iran di perempat final, tekanan melalui bola-bola panjang membuat garis pertahanan Jepang semakin dalam.
Kondisi tersebut juga membuat Jepang kehilangan kendali atas perebutan bola kedua di lini tengah.
Ketika intensitas pressing menurun, Jepang tidak mampu segera mengubah pendekatan permainan.
Pergantian pemain maupun perubahan formasi dari bangku cadangan juga dinilai terlambat untuk mengantisipasi perubahan situasi di lapangan.
Masalah tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan organisasi.
Jepang memiliki pemain dengan kualitas individu tinggi, tetapi kesulitan menerjemahkan keunggulan tersebut menjadi kontrol permainan ketika pertandingan berjalan di luar rencana.
Skuad Jepang saat itu dihuni sejumlah pemain yang telah terbiasa menghadapi level tinggi sepak bola Eropa.
Takefusa Kubo, Kaoru Mitoma, Takehiro Tomiyasu, hingga Ritsu Doan menjadi bagian dari generasi yang dianggap memiliki kualitas luar biasa.
Namun, kekuatan tersebut tetap memiliki batas ketika lawan mampu menemukan celah taktis.
Jepang membutuhkan lebih dari sekadar pemain berkualitas untuk membongkar pertahanan rapat maupun keluar dari tekanan agresif lawan.
Ayase Ueda menjadi salah satu sisi positif karena mampu menunjukkan ketajaman di depan gawang.
Munculnya pemain seperti Seiya Maikuma juga memberikan opsi baru bagi Jepang.
Persoalannya, kedalaman skuad belum sepenuhnya menjamin fleksibilitas taktik.
Jepang dinilai masih terlalu bergantung pada satu pola permainan dan membutuhkan rencana alternatif ketika strategi awal tidak berjalan.
Kondisi ini tentu harus dimanfaatkan betul oleh John Herdman untuk meramu dan meracik taktik buat Timnas Indonesia.
Pemilihan pemain yang nantinya bakal membela Garuda di Piala Asia 2027 juga harus dipertimbangkan dengan masak oleh pelatih asal Inggris tersebut.