- Jurnalis John Duerden melaporkan di The Guardian pada 7 Oktober 2026 bahwa FIFA ASEAN Cup 2026 dimenangi oleh Timnas Indonesia.
- Keberadaan turnamen baru gagasan Gianni Infantino tersebut dinilai tidak terlalu dibutuhkan karena Asia Tenggara sudah memiliki ASEAN Cup sejak 1996.
- Kompetisi itu dikaitkan dengan manuver politik Infantino untuk menggalang dukungan dari negara-negara Asia menjelang pemilihan Presiden FIFA.
Suara.com - Gelaran perdana FIFA ASEAN Cup 2026 yang dimenangi Timnas Indonesia justru menyisakan pertanyaan besar mengenai masa depan turnamen tersebut.
Media Inggris The Guardian menyoroti kemungkinan kompetisi baru itu tidak bertahan lama, terutama jika Gianni Infantino gagal mempertahankan jabatannya sebagai Presiden FIFA.
Sorotan tersebut datang dari jurnalis sepak bola Asia, John Duerden, dalam tulisannya yang dimuat The Guardian pada 7 Oktober 2026.
Ia mengaitkan kemunculan FIFA ASEAN Cup dengan manuver politik Infantino menjelang pemilihan Presiden FIFA.
Duerden menilai keberhasilan Indonesia menjadi juara memberikan keuntungan tersendiri bagi Infantino.
Pasalnya, Indonesia disebut sebagai salah satu asosiasi sepak bola di Asia yang sudah berada di sisi Infantino.

FIFA ASEAN Cup Dinilai Tak Terlalu Dibutuhkan
Menurut Duerden, persoalan utama FIFA ASEAN Cup terletak pada alasan keberadaannya.
Asia Tenggara sebenarnya sudah memiliki turnamen regional yang mapan, yakni ASEAN Cup yang telah berlangsung sejak 1996.
Kondisi tersebut membuat kehadiran turnamen baru FIFA dinilai menimbulkan pertanyaan.
The Guardian bahkan menggambarkan kompetisi tersebut sebagai turnamen yang belum tentu dibutuhkan kawasan Asia Tenggara.
ASEAN Cup tradisional juga memiliki sejarah panjang dan telah menjadi bagian dari kalender sepak bola kawasan.
Karena itu, munculnya kompetisi baru dengan wilayah peserta yang hampir sama berpotensi membuat agenda sepak bola Asia Tenggara semakin padat.
Duerden sebelumnya juga menulis bahwa ketika Infantino mengumumkan FIFA ASEAN Cup pada 2025, tidak banyak pihak di kawasan yang merasa membutuhkan tambahan turnamen regional.
Infantino Disebut Sedang Menggalang Dukungan Asia
Faktor politik FIFA menjadi bagian paling menarik dari analisis The Guardian.
Duerden menyoroti aktivitas Infantino di sejumlah negara Asia, termasuk bertemu Presiden Prabowo Subianto ketika pemilihan Presiden FIFA semakin dekat.
Infantino disebut melakukan sejumlah kunjungan dan menghadiri agenda pembangunan sepak bola di berbagai negara Asia.
Menurut Duerden, kondisi tersebut berlangsung ketika posisi dukungan terhadap Infantino di Asia belum sepenuhnya solid.
FIFA ASEAN Cup kemudian menjadi salah satu proyek yang mendapatkan perhatian khusus.
Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah turnamen utama dan akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Thailand di final.
Bagi Duerden, keberhasilan Indonesia tersebut menjadi keuntungan politik tersendiri bagi Infantino.
Ia bahkan menilai Indonesia telah memberikan bantuan besar kepada Presiden FIFA melalui kesuksesan penyelenggaraan dan kemenangan di turnamen yang merupakan gagasan Infantino tersebut.
Tak Banyak Mendapat Sambutan di Luar Indonesia
Selain mempertanyakan alasan pembentukan turnamen, The Guardian juga menyoroti respons terhadap FIFA ASEAN Cup di luar Indonesia.
Duerden mencatat turnamen tersebut tidak mendapatkan dukungan penyiaran yang kuat dari sejumlah negara peserta.
Thailand bahkan disebut tidak membeli hak siar, sedangkan Vietnam baru menyelesaikan kesepakatan siaran menjelang turnamen.
Situasi tersebut menjadi kontras dengan Indonesia yang memberikan perhatian besar terhadap kompetisi tersebut.
Tim Merah Putih bahkan mampu memanfaatkan status tuan rumah untuk mengangkat trofi perdana FIFA ASEAN Cup.
Namun, kesuksesan di Indonesia belum otomatis berarti turnamen tersebut memiliki masa depan jangka panjang.