- Mantan pesepak bola Swiss, Ramon Vega, kembali menantang Gianni Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA di Maroko.
- Pemilihan presiden organisasi sepak bola dunia tersebut dijadwalkan akan diselenggarakan pada tanggal 18 Maret 2027 mendatang.
- Ramon Vega mengklaim telah mengantongi dukungan tertulis dari lima federasi anggota untuk maju sebagai kandidat resmi.
Suara.com - Mantan pesepak bola Swiss Ramon Vega kembali menantang Gianni Infantino dalam perebutan kursi Presiden FIFA.
Pria 55 tahun itu menyatakan siap maju pada pemilihan yang akan digelar di Rabat, Maroko, 18 Maret 2027.
Vega bukan nama baru dalam kontestasi kepemimpinan FIFA. Ia sebelumnya telah mencoba mencalonkan diri pada 2015, 2019, dan 2022, tetapi selalu gagal memenuhi salah satu persyaratan penting untuk menjadi kandidat resmi.
Kali ini, Vega mengklaim situasinya berbeda.
Dalam sebuah manifesto setebal 11 halaman yang dirilis pada Selasa, ia menyatakan keinginannya kembali bersaing dengan Infantino, yang juga merupakan warga negara Swiss.
Untuk menjadi kandidat resmi, Vega harus menyerahkan dukungan tertulis dari sedikitnya lima federasi anggota FIFA sebelum batas waktu 18 November 2026. Ia mengklaim persyaratan tersebut sudah terpenuhi.
"Ya, saya sudah mendapatkannya. Setelah kami resmi masuk, baru bisa dibicarakan siapa saja mereka," kata Vega kepada El País.
Ia memilih tidak mengungkap identitas federasi yang mendukungnya.
Menurut Vega, keputusan untuk mengumumkannya sebelum proses pencalonan resmi sepenuhnya berada di tangan federasi masing-masing.
Vega kembali muncul di tengah meningkatnya sorotan terhadap kepemimpinan Infantino.
Dalam beberapa bulan terakhir, berbagai keputusan FIFA memicu perdebatan mengenai tata kelola dan arah komersialisasi sepak bola dunia.
Mantan pemain Tottenham Hotspur, Watford, Cagliari, dan Celtic itu secara khusus menyoroti rencana yang disebut berkaitan dengan penjualan sebagian hak Piala Dunia kepada investor.
Vega menilai persoalan tersebut menunjukkan adanya masalah lebih besar dalam tata kelola FIFA.
"Yang terjadi di Piala Dunia terakhir bukan satu-satunya hal yang tidak benar, tetapi sesuatu seperti ini memang harus terjadi. Orang-orang sudah melihat kenyataannya dan sudah muak," ujar Vega.
Vega menginginkan posisi presiden FIFA tetap memiliki kewenangan kuat, tetapi tidak menjadi pusat kekuasaan terakhir dalam seluruh keputusan organisasi.
Menurutnya, FIFA membutuhkan mekanisme pengawasan dan pengambilan keputusan yang lebih demokratis, termasuk dalam pembuatan kompetisi baru seperti FIFA ASEAN Cup 2026.
"Presiden harus memiliki kewenangan, tetapi bukan kewenangan terakhir. Harus ada integritas di dalamnya dan sistem yang jauh lebih demokratis daripada otokratis," ujarnya.
Vega juga membawa pengalaman dari dua dunia. Setelah pensiun sebagai pemain, ia berkarier di sektor keuangan dan menjadi penasihat sejumlah klub.
"Saya mantan pesepak bola dan memahami sistem serta tata kelola sepak bola internasional, tetapi dari posisi yang sangat netral. Saya bukan bagian dari sistem, saya bagian dari permainan," katanya.