- Kapten Timnas Swiss, Granit Xhaka, dijatuhi denda Rp3,2 miliar oleh pengadilan akibat kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu.
- Xhaka telah mengakui kesalahannya dan menerima putusan hukuman tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
- Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, menolak berkomentar terkait masalah hukum dan tetap memuji profesionalitas latihan sang pemain.
Suara.com - Kapten Timnas Swiss sekaligus gelandang Sunderland, Granit Xhaka, menjadi sorotan setelah dijatuhi hukuman denda dalam kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu.
Mantan pemain Arsenal tersebut didenda 136 ribu pound sterling atau setara Rp3,2 miliar setelah dinyatakan bersalah oleh pengadilan.
Xhaka mengakui kesalahannya dan menyatakan bertanggung jawab atas tindakan tersebut melalui unggahan di media sosial.
Granit Xhaka Akui Kesalahan
![Granit Xhaka menyebut skuad Timnas Swiss saat ini sebagai generasi spesial usai mengakhiri penantian 72 tahun menuju perempat final Piala Dunia 2026. [Dok. IG swissnatimen]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/07/08/28284-granit-xhaka-swiss.jpg)
“Saya menerima keputusan tersebut dan bertanggung jawab atas tindakan saya," tulis Xhaka melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (9/10/2026).
"Terima kasih atas banyaknya pesan dukungan dalam beberapa pekan terakhir, pesan-pesan tersebut sangat berarti bagi saya,” tambahnya.
Gelandang berusia 34 tahun itu dijatuhi hukuman denda yang pelaksanaannya ditangguhkan selama dua tahun. Penangguhan tersebut berlaku dengan syarat Xhaka tidak mengulangi perbuatannya atau melakukan pelanggaran hukum lainnya.
Selain menerima hukuman tersebut, pemain kelahiran Basel, Swiss, itu juga menyatakan telah melunasi seluruh biaya perkara pengadilan.
Kasus Sertifikat Vaksin dari 2022
“Saya sudah mengatakan beberapa pekan lalu secara langsung di sini bahwa saya akan bertanggung jawab atas keputusan saya dan saya tetap berpegang pada hal tersebut,” tegas Xhaka.
Kasus ini berkaitan dengan sertifikat vaksin Covid-19 palsu yang diduga diperoleh Xhaka pada 2022.
Saat itu, sertifikat vaksin Covid-19 digunakan sebagai salah satu persyaratan untuk mengakses sejumlah fasilitas publik dan melakukan perjalanan ke luar negeri di Swiss.
Ketika kasus tersebut mencuat, Xhaka masih memperkuat Arsenal. Ia sempat mengungkapkan kekhawatiran dan ketidakpastian mengenai efek vaksin sebagai bagian dari penjelasannya terkait persoalan tersebut.
Xhaka juga dilaporkan mundur dari pemusatan latihan Timnas Swiss pada jeda internasional terbaru di tengah perkembangan kasus hukumnya.
Regis Le Bris Enggan Berkomentar
Kantor Kesehatan Masyarakat Swiss sebelumnya menjelaskan bahwa secara umum tidak ada kewajiban hukum untuk memiliki sertifikat vaksin.
Namun, dokumen tersebut tetap menjadi persyaratan untuk memasuki sejumlah kegiatan komersial dan melakukan perjalanan lintas negara hingga musim semi 2022.
Pelatih Sunderland, Regis Le Bris, memilih tidak berkomentar mengenai persoalan hukum yang menimpa salah satu pemainnya tersebut.
“Tidak ada komentar mengenai hal-hal di luar lapangan," tegas Le Bris di hadapan para awak media.
"Namun, dari apa yang saya lihat selama jeda internasional, dia berlatih dengan sangat baik dan itu positif," puji sang manajer terhadap profesionalitas pemainnya.
"Dia berada dalam kondisi yang baik dari sisi sepak bola dan bagi saya, itu yang paling penting,” pungkas Le Bris.
Xhaka diperkirakan tetap masuk dalam skuad Sunderland saat menghadapi Brighton pada Sabtu (10/10/2026).
Rekam Jejak Granit Xhaka
Di level internasional, Xhaka merupakan salah satu pemain penting Timnas Swiss. Ia tercatat telah mengoleksi 152 penampilan bersama tim nasional.
Sang gelandang juga menjadi kapten Swiss saat tampil di Piala Dunia 2026. Langkah mereka di turnamen tersebut terhenti pada babak perempat final setelah kalah dari Argentina, yang kemudian menjadi runner-up.