- Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menyatakan keterkejutannya atas ekspektasi tinggi suporter terhadap skuad Garuda.
- Dalam wawancara 7 Oktober 2026, ia menyoroti hujatan suporter kepada Ramadan Sananta walau menang 4-0.
- Herdman menilai beban jersey sangat berat bagi pemain karena kritik keras suporter di media sosial.
Suara.com - Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, mengaku terkejut dengan tingginya ekspektasi suporter terhadap skuad Garuda.
Menurutnya, Timnas Indonesia kerap dituntut meraih kemenangan besar seolah-olah memiliki level dan rekam jejak seperti Brasil.
Herdman mengungkapkan pandangannya dalam wawancara dengan Liputan 6 Sports yang diunggah pada Rabu (7/10/2026).
Pelatih asal Inggris itu kini tengah menjadi sorotan setelah sukses mengantarkan Timnas Indonesia menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026.
Pengalaman menangani Kanada dan membawa negara tersebut lolos ke Piala Dunia 2022 membuat Herdman memiliki sudut pandang tersendiri mengenai tekanan yang dihadapi sebuah tim nasional.
“Saya datang ke sini sangat terkejut sebagai Pelatih Tim Nasional (Kanada) yang pernah lolos ke piala dunia, yang pernah memenangi kualifikasi Piala Dunia, zona regionalnya kami juara,” kata John Herdman dalam wawancara dengan Liputan6.

Ia kemudian membandingkan ekspektasi suporter Indonesia dengan tuntutan yang wajar diberikan kepada negara yang memiliki tradisi sepak bola kuat seperti Brasil.
“Lalu datang ke Indonesia, negara yang belum mencapai apapun saat itu, saya terkejut dengan ekspektasinya," jelasnya.
"Misalnya, jika Anda berada di Brasil, Anda boleh berharap tinggi dan mengkritik segala hal, karena memang sewajarnya begitu. Tim Anda bernilai miliaran dolar, dan sejarahnya membuktikan itu," sambungnya.
Menurut Herdman, tingginya harapan terhadap Timnas Indonesia terkadang tidak sejalan dengan kondisi dan proses perkembangan sepak bola nasional.
Ia menilai skuad Garuda masih membutuhkan waktu untuk membangun identitas permainan dan mencapai level yang diinginkan publik.
Herdman juga menyinggung kritik yang diterima penyerang Timnas Indonesia, Ramadan Sananta, setelah pertandingan uji coba melawan Saint Kitts & Nevis di Jakarta pada 27 Maret 2026.
Dalam pertandingan tersebut, Timnas Indonesia berhasil menang dengan skor 4-0. Namun, hasil positif itu tidak membuat Sananta terhindar dari hujatan suporter.
Bagi Herdman, respons tersebut menjadi salah satu contoh betapa besarnya tekanan yang harus dihadapi para pemain Garuda.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia belum memiliki tradisi permainan seperti Spanyol yang dikenal dengan gaya tiki-taka.
“Kita bukan tim tiki-taka. Kita tidak tumbuh di lingkungan Spanyol yang mengajarkan gaya permainan latin dengan budaya latih yang membentuk mentalitasnya. Di sini tidak begitu,” kata pelatih asal Inggris tersebut.
Pelatih berusia 51 tahun yang berasal dari Newcastle, Inggris, itu menilai perkembangan sepak bola Indonesia perlu dipahami sesuai dengan karakter dan proses yang sedang dijalani.
Menurutnya, tuntutan terhadap tim tidak seharusnya mengabaikan tahapan yang masih harus dilalui para pemain.
Lebih lanjut, Herdman menyoroti dampak kritik di media sosial terhadap kondisi mental pemain Timnas Indonesia. Ia menilai derasnya hujatan dapat membuat para pemain, terutama yang berasal dari kompetisi lokal, merasakan tekanan besar ketika mengenakan seragam Merah Putih.
“Beban jersey itu sangat berat bagi pemain lokal. Karena hujatan di media sosial. Bahkan ketika kami mengalahkan Saint Kitts 4-0, Sananta dihujat di seluruh negeri, bagi saya ini hal baru. Saya belum pernah melihatnya,” kata Herdman.
Ia menegaskan bahwa besarnya dukungan terhadap Timnas Indonesia juga perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai tantangan yang dihadapi pemain di lapangan.
“Jadi jersey itu bisa sangat membebani," pungkasnya.