SuaraCianjur.Id- Meskipun bisnis kuliner tumbuh dengan cepat, namun jarang yang mampu bertahan lama. Fakta statistik menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen bisnis kuliner harus tutup dalam periode 1-3 tahun.
Situasinya berbeda pada masa pandemi, di mana bahkan merek-merek kuliner yang sudah berusia lebih dari 5 tahun sulit bertahan, belum lagi merek-merek baru yang semakin sulit untuk bertahan.
Contoh nyata dari merek kuliner yang mengalami kesulitan adalah Warunk Upnormal, merek kuliner yang dioperasikan oleh CRP Group dan harus menutup beberapa gerainya di kota-kota seperti Bali, Palembang, dan Depok.
Meskipun begitu, Warung Upnormal sebelumnya berhasil mencapai pertumbuhan yang pesat dengan membuka 85 gerai Warunk Upnormal di seluruh Indonesia dalam waktu lima tahun dari 2014 hingga 2019.
Dalam hal harga, Warunk Upnormal dianggap kurang memiliki strategi penetapan harga yang menarik. Pasar target Warunk Upnormal adalah generasi Z, sehingga penetapan harga perlu disesuaikan dengan karakter dan daya beli pasar yang dituju.
Penggunaan media sosial untuk keperluan promosi dinilai sangat efektif bagi generasi Z, yang mana mereka memiliki tingkat keterampilan teknologi yang tinggi dan cenderung mudah mencoba hal-hal baru.
Investasi yang tinggi menjadi kendala bagi mitra dalam membuka gerai Warunk Upnormal karena lokasi strategis dengan desain arsitektur mewah dan fasilitas wifi serta colokan listrik yang banyak memerlukan biaya yang besar.
Untuk membuka satu gerai Warunk Upnormal saja, diperlukan nilai investasi minimal sebesar Rp1 miliar, yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan Mixue.(*)
(*/Haekal)
Baca Juga: Sudah Terendus Megawati, Analis Sebut Jokowi Jadi Sosok 'Pembina' Koalisi KIB
Sumber: Voi.id